Dari yang Diketahui (Ma’lum) Menuju yang Belum Diketahui (Majhul)

by -1311 Views

Setiap hari kita membuat kesimpulan. Kita melihat langit mendung, lalu memperkirakan hujan akan turun. Kita melihat seseorang datang terlambat beberapa kali, lalu mulai menduga bahwa ia kurang disiplin. Kita membaca sebuah laporan, membandingkannya dengan informasi lain, kemudian mengambil kesimpulan tentang keadaan yang sedang terjadi. 

Sebagian besar keputusan manusia sebenarnya merupakan proses bergerak dari sesuatu yang sudah diketahui menuju sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.

Namun proses tersebut tidak selalu berlangsung dengan cara yang benar. Kita sering merasa bahwa karena sebuah kesimpulan tampak masuk akal, maka cara kita sampai kepadanya pasti benar. Padahal antara apa yang kita ketahui dan apa yang kita simpulkan terdapat sebuah proses penalaran yang perlu diperiksa.

Inilah salah satu persoalan utama yang dibahas dalam ilmu mantiq. Bagaimana kita berpindah dari ma’lum, sesuatu yang telah diketahui, menuju majhul, sesuatu yang sebelumnya belum diketahui? Apa yang membuat perpindahan itu sah? Informasi seperti apa yang dapat dijadikan dasar kesimpulan? Dan bagaimana kita mengetahui bahwa kesimpulan yang kita ambil memang mengikuti informasi yang kita miliki?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada salah satu struktur dasar dalam ilmu mantiq: tasawwur dan tashdiq.

Sebelum Menilai, Kita Harus Memahami

Bayangkan seseorang berkata kepada kita, “Kita harus menolak kebijakan itu karena kebijakan tersebut tidak adil.”

Kalimat tersebut tampak sederhana. Tetapi sebelum menyetujui atau menolaknya, ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya perlu diajukan. Apa yang dimaksud dengan “kebijakan”? Apa yang dimaksud dengan “tidak adil”? Fakta apa yang menunjukkan ketidakadilan tersebut? Apakah kita memahami istilah-istilah yang digunakan dengan pengertian yang sama?

Seringkali manusia langsung masuk ke tahap penilaian sebelum benar-benar memahami objek yang sedang dinilai. Akibatnya, perdebatan menjadi panjang karena dua orang sebenarnya tidak sedang berbicara tentang hal yang sama.

Di sinilah konsep tasawwur menjadi penting. Secara sederhana, tasawwur dapat dipahami sebagai terbentuknya gambaran atau pemahaman tentang sesuatu dalam pikiran. Sebelum kita mengatakan sesuatu itu benar atau salah, kita perlu terlebih dahulu mengetahui apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.

Misalnya kita mendengar kata “militansi”. Seseorang mungkin memahami militansi sebagai kesungguhan dan keteguhan dalam menjalankan prinsip. Orang lain mungkin mengasosiasikannya dengan sikap keras dan konfrontatif. Jika keduanya langsung berdebat tentang apakah “militansi” baik atau buruk tanpa menyamakan pengertian terlebih dahulu, perdebatan tersebut berpotensi menjadi perdebatan semu.

Karena itu, salah satu kebiasaan berpikir yang perlu dibangun adalah memahami sebelum menilai. Jangan terburu-buru bertanya, “Apakah ini benar?” sebelum bertanya, “Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ini?”

Tasawwur: Mengenali Apa yang Sedang Kita Bicarakan

Dalam pembahasan mantiq, tasawwur berkaitan dengan pemahaman terhadap suatu konsep tanpa terlebih dahulu memberikan penilaian terhadapnya. Kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan manusia, ilmu, keadilan, organisasi, kepemimpinan, atau tanggung jawab tanpa harus langsung mengatakan apakah sesuatu itu benar atau salah.

Ini tampak sederhana, tetapi sangat fundamental.

Ketika seseorang mengatakan, “Kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat,” kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan “kuat”. Apakah kuat berarti tegas? Apakah berarti berani mengambil keputusan? Apakah berarti memiliki kewenangan besar? Ataukah berarti tidak mudah dipengaruhi? Empat pengertian tersebut tidak selalu identik.

Begitu pula ketika seseorang mengatakan, “Organisasi ini tidak efektif.” Efektif menurut ukuran apa? Apakah karena target tidak tercapai? Apakah karena prosesnya lambat? Apakah karena sumber dayanya tidak optimal? Ataukah karena hasilnya tidak memberikan dampak yang diharapkan?

Tanpa definisi yang cukup jelas, sebuah diskusi dapat menghasilkan banyak kata tetapi sedikit pemahaman.

Karena itu, salah satu manfaat belajar mantiq adalah membiasakan kita berhenti sejenak sebelum memberikan penilaian. Kita belajar memeriksa konsep yang digunakan agar pembicaraan memiliki objek yang jelas.

Dalam kehidupan dakwah, pendidikan, dan organisasi, kebiasaan ini sangat penting. Banyak konflik tidak selalu disebabkan oleh perbedaan tujuan, tetapi oleh perbedaan pemahaman terhadap istilah yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Tashdiq: Ketika Kita Mulai Menghubungkan dan Menilai

Setelah memahami sebuah konsep, kita kemudian masuk kepada tahap yang berbeda, yaitu tashdiq. Secara sederhana, tashdiq berkaitan dengan pembenaran atau penilaian terhadap suatu hubungan atau pernyataan.

Ketika kita mengatakan, “Ilmu bermanfaat bagi manusia,” kita tidak sekadar memahami konsep “ilmu” dan “manusia”. Kita juga sedang membuat sebuah hubungan di antara keduanya dan menyatakan sesuatu tentang hubungan tersebut.

Disinilah muncul kemungkinan benar atau salah.

Kita dapat memahami konsep “hujan” tanpa mengatakan apapun tentang hujan. Tetapi ketika kita mengatakan, “Hari ini akan hujan,” kita telah membuat sebuah pernyataan yang dapat diperiksa. Pernyataan itu mungkin benar, mungkin salah, atau pada saat tertentu belum cukup bukti untuk menentukannya.

Perbedaan antara memahami sesuatu dan menilai sebuah pernyataan sangat penting. Jika kita belum memiliki pemahaman yang jelas tentang objeknya, penilaian kita akan mudah keliru. Tetapi bahkan ketika konsepnya sudah jelas, kita tetap harus memeriksa dasar yang kita gunakan untuk membuat penilaian.

Karena itu, secara sederhana kita dapat melihat hubungan keduanya seperti ini: Tasawwur membantu kita memahami apa yang sedang dibicarakan. Tashdiq membantu kita menilai apa yang dikatakan tentangnya.

Keduanya merupakan bagian penting dalam proses berpikir.

Mengapa Kesimpulan Tidak Boleh Melompat?

Sekarang kita sampai pada persoalan berikutnya. Katakanlah kita sudah memahami sebuah konsep dan memiliki beberapa informasi tentangnya. Bagaimana kita bergerak menuju kesimpulan?

Misalnya kita mengetahui bahwa seseorang telah datang terlambat dalam tiga pertemuan. Dari informasi tersebut, seseorang mengatakan, “Berarti dia orang yang tidak disiplin.” Apakah kesimpulan tersebut otomatis mengikuti fakta?”. Belum tentu.

Tiga kali keterlambatan adalah fakta tertentu. Tetapi menyimpulkan bahwa seseorang secara keseluruhan adalah “orang yang tidak disiplin” merupakan penilaian yang lebih luas. Bisa saja terdapat sebab lain: kondisi transportasi, keadaan keluarga, perubahan jadwal, atau persoalan lain yang belum diketahui.

Disinilah kita perlu memperhatikan jarak antara premis dan kesimpulan.

Premis adalah dasar atau pernyataan yang digunakan dalam penalaran. Kesimpulan adalah apa yang hendak kita tetapkan berdasarkan premis tersebut. Mantiq membantu kita memeriksa apakah hubungan antara keduanya memang dapat dipertanggungjawabkan.

Semakin besar lompatan dari premis menuju kesimpulan, semakin besar pula kebutuhan untuk memeriksanya.

Kesalahan semacam ini sangat umum terjadi karena pikiran manusia menyukai jalan yang cepat. Kita ingin segera memahami situasi, segera menentukan siapa yang benar dan salah, segera mengetahui siapa yang baik dan buruk. Padahal kenyataan sering jauh lebih kompleks daripada kesimpulan pertama yang muncul dalam pikiran kita.

Qiyas: Ketika Beberapa Pengetahuan Disusun

Dalam tradisi mantiq, salah satu bentuk penting perpindahan dari yang diketahui menuju yang belum diketahui adalah qiyas. Secara sederhana, qiyas adalah penyusunan sejumlah proposisi atau premis sedemikian rupa sehingga dari hubungan tersebut dapat diperoleh sebuah kesimpulan.

Bentuk sederhananya dapat kita ilustrasikan:

Semua manusia akan mati.
Ahmad adalah manusia.
Maka Ahmad akan mati.

Dalam contoh tersebut, kita memiliki beberapa pengetahuan yang kemudian disusun untuk menghasilkan pengetahuan lain. Kesimpulan tidak muncul secara tiba-tiba. Ia memiliki hubungan dengan premis-premis yang mendahuluinya.

Tentu saja, contoh sederhana seperti ini baru memperlihatkan struktur dasar. Dalam pembahasan mantiq yang lebih mendalam, kita akan menemukan berbagai bentuk qiyas, jenis proposisi, syarat-syarat premis, dan pembahasan mengenai kapan suatu kesimpulan benar-benar mengikuti premis.

Namun untuk tahap awal, satu prinsip sudah cukup kita pegang: kesimpulan yang baik tidak boleh berdiri tanpa hubungan yang jelas dengan dasar yang melahirkannya.

Inilah mengapa berpikir membutuhkan disiplin.

Dari Informasi ke Pemahaman, dari Pemahaman ke Kesimpulan

Jika kita perhatikan, proses berpikir yang sehat sebenarnya memiliki tahapan. Kita menerima informasi. Kemudian kita memahami informasi tersebut. Setelah itu kita menghubungkannya dengan pengetahuan lain yang relevan. Dari sana kita menyusun penilaian atau kesimpulan. Setelah kesimpulan terbentuk, kita masih perlu memeriksa apakah ia memang didukung oleh dasar yang cukup.

Masalah muncul ketika tahapan tersebut dilompati.

Kita melihat sebuah potongan video lalu langsung membuat penilaian. Kita mendengar satu pernyataan lalu langsung menilai karakter orang yang mengucapkannya. Kita membaca satu data lalu langsung menyimpulkan keseluruhan keadaan. Kita menemukan satu kesalahan lalu langsung menyimpulkan bahwa seseorang selalu salah.

Mantiq mengajarkan kita untuk memperlambat proses tersebut, bukan dalam arti menjadi lamban mengambil keputusan, tetapi dalam arti tidak menghilangkan tahapan berpikir yang diperlukan.

Kecepatan berpikir bukan selalu tanda kecerdasan. Dalam banyak keadaan, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya justru merupakan tanda kedewasaan intelektual.

Apa yang sebenarnya saya ketahui? Apa yang sebenarnya belum saya ketahui? Apa yang hanya saya duga? Apa yang saya simpulkan? Dan yang paling penting: apakah kesimpulan itu memang mengikuti informasi yang saya miliki?

Belajar Mantiq Berarti Belajar Menghormati Proses

Kita hidup dalam budaya yang sering memberikan penghargaan kepada orang yang paling cepat memberikan komentar. Ketika sebuah peristiwa terjadi, orang berlomba memberikan pendapat. Ketika sebuah berita muncul, orang segera menentukan siapa yang salah. Ketika sebuah pernyataan beredar, orang langsung membuat penilaian.

Padahal kebenaran tidak selalu datang secepat komentar.

Dalam dakwah, kondisi ini membutuhkan perhatian lebih besar. Seorang dai tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara berpikir umat. Jika kita terbiasa memberikan kesimpulan sebelum memahami persoalan, umat pun dapat terbiasa melakukan hal yang sama. Sebaliknya, ketika kita mengajarkan ketelitian, tabayyun, kemampuan membedakan fakta dan dugaan, serta kesediaan memeriksa argumentasi, kita sedang membangun budaya berpikir yang sehat.

Karena itu, ilmu mantiq bukan sekadar ilmu tentang istilah dan struktur argumentasi. Ia melatih kita untuk menghormati proses menuju pengetahuan.

Kita belajar bahwa ada sesuatu yang sudah kita ketahui dan ada sesuatu yang belum kita ketahui. Kita belajar bahwa pemahaman terhadap konsep harus mendahului penilaian. Kita belajar bahwa kesimpulan membutuhkan dasar. Dan kita belajar bahwa semakin jauh kesimpulan kita dari informasi awal, semakin serius pula kita perlu menguji hubungan di antara keduanya.

Semua itu pada akhirnya mengajarkan sebuah adab intelektual: jangan mengatakan lebih banyak daripada yang dapat dibuktikan oleh pengetahuan kita. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.