Mantiq dan Seni Menguji Sebuah Argumen

by -1326 Views

Kita sering mengatakan, “Argumennya masuk akal.” Tetapi apa sebenarnya yang kita maksud dengan “masuk akal”? Apakah karena orang yang menyampaikannya pandai berbicara? Apakah karena ia memiliki banyak pengikut? Apakah karena ia menyebut nama seorang tokoh terkenal? Ataukah karena alasan yang disampaikannya memang memiliki hubungan yang kuat dengan kesimpulan yang dihasilkan?

Pertanyaan ini penting karena manusia sangat mudah terpengaruh oleh cara sebuah argumentasi disampaikan. Suara yang meyakinkan, bahasa yang tegas, banyaknya kutipan, atau reputasi seseorang dapat membuat sebuah pendapat tampak benar. 

Padahal kekuatan sebuah argumen tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang menyampaikannya atau seberapa meyakinkan cara penyampaiannya.

Disinilah ilmu mantiq memberikan salah satu manfaat praktisnya. Mantiq mengajarkan kita untuk melihat struktur sebuah penalaran: apa yang dijadikan dasar, bagaimana dasar tersebut dihubungkan, dan apakah kesimpulan yang dihasilkan memang mengikuti dasar tersebut.

Dengan kata lain, mantiq mengajak kita memisahkan antara orang yang berbicara dan argumen yang dibicarakan.

Apa yang Membentuk Sebuah Argumen?

Secara sederhana, sebuah argumen terdiri dari pernyataan-pernyataan yang digunakan sebagai dasar untuk mendukung sebuah kesimpulan. Pernyataan yang menjadi dasar disebut premis, sedangkan pernyataan yang hendak dibuktikan disebut kesimpulan.

Misalnya:

“Semua manusia akan mati.
Ahmad adalah manusia.
Maka Ahmad akan mati.”

Dalam contoh tersebut, dua pernyataan pertama berfungsi sebagai premis, sedangkan pernyataan terakhir merupakan kesimpulan.

Contoh ini sederhana karena hubungan antara premis dan kesimpulannya mudah dipahami. Tetapi dalam kehidupan nyata, argumentasi jarang disampaikan dengan bentuk sesederhana itu. Kita biasanya menerima beberapa fakta, asumsi, pengalaman, atau pendapat yang bercampur menjadi satu. Kadang premisnya tidak disebutkan secara eksplisit. Kadang kesimpulannya justru disampaikan terlebih dahulu, sementara alasan diberikan kemudian.

Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam berpikir adalah membongkar sebuah pernyataan menjadi bagian-bagiannya.

Ketika seseorang berkata, “Program itu pasti gagal karena pemimpinnya tidak berpengalaman,” kita dapat bertanya: apa faktanya bahwa program itu akan gagal? Apa hubungan antara pengalaman pemimpin dan kegagalan program? Apakah semua program yang dipimpin orang yang kurang berpengalaman pasti gagal? Apakah terdapat faktor lain yang lebih menentukan?

Pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk mencari kesalahan. Tujuannya adalah mengetahui apa sebenarnya yang menopang sebuah kesimpulan.

Premis Harus Diperiksa

Setelah menemukan premis, kita tidak boleh langsung menerimanya. Kita harus memeriksa apakah premis tersebut benar, cukup kuat, relevan, dan sesuai dengan konteks.

Misalnya seseorang mengatakan, “Masyarakat tidak menyukai program ini karena unggahan tentang program tersebut hanya mendapatkan sedikit respons di media sosial.”

Disini terdapat sebuah premis: sedikitnya respons di media sosial dianggap menunjukkan rendahnya penerimaan masyarakat.

Tetapi apakah premis tersebut cukup kuat untuk mendukung kesimpulan?

Belum tentu.

Respons media sosial hanya merupakan salah satu jenis informasi. Tidak semua orang menggunakan media sosial. Tidak semua orang yang melihat sebuah unggahan memberikan komentar. Tidak semua komentar mewakili pandangan masyarakat secara keseluruhan. Bahkan sebuah unggahan yang mendapatkan banyak respons pun belum tentu menunjukkan bahwa masyarakat secara umum mendukung program tersebut.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah data tersebut benar. Bisa saja benar bahwa unggahan itu hanya mendapatkan sedikit respons. Persoalannya adalah apakah data tersebut cukup relevan untuk menjadi dasar kesimpulan yang dibuat.

Ini merupakan pelajaran penting dalam berpikir: sebuah fakta tidak otomatis menjadi bukti untuk semua kesimpulan.

Kita harus melihat apakah fakta tersebut memang memiliki hubungan yang relevan dengan apa yang hendak dibuktikan.

Kesimpulan Harus Mengikuti Premis

Setelah memeriksa premis, tahap berikutnya adalah melihat hubungan antara premis dan kesimpulan.

Misalnya:

“Semua anggota organisasi wajib mengikuti pelatihan. Ahmad adalah anggota organisasi. Maka Ahmad wajib mengikuti pelatihan.”

Dalam struktur sederhana ini, kesimpulan mengikuti premis. Jika kedua premis benar dan hubungan logisnya tepat, kesimpulan dapat diterima.

Namun bayangkan argumentasi berikut:

“Ahmad adalah anggota organisasi. Ahmad rajin bekerja. Maka semua anggota organisasi rajin bekerja.”

Ada sesuatu yang bermasalah. Informasi tentang Ahmad tidak cukup untuk menghasilkan kesimpulan tentang seluruh anggota organisasi.

Disinilah kita melihat pentingnya memperhatikan cakupan sebuah kesimpulan. Premis yang berbicara tentang satu orang tidak otomatis dapat menghasilkan kesimpulan tentang semua orang. Informasi tentang sebagian keadaan tidak otomatis menggambarkan keseluruhan keadaan.

Kesalahan semacam ini sangat sering terjadi dalam percakapan sehari-hari. Kita bertemu dua orang dari sebuah kelompok yang memiliki perilaku tertentu, lalu membuat kesimpulan tentang seluruh kelompok. Kita membaca satu berita tentang sebuah organisasi, lalu menganggap seluruh organisasi memiliki masalah yang sama. Kita mengalami satu pengalaman buruk dengan seseorang, lalu menganggap semua orang dengan karakteristik serupa akan melakukan hal yang sama.

Pikiran manusia menyukai pola. Tetapi menemukan pola tidak berarti kita sudah membuktikan pola tersebut berlaku secara umum.

Karena itu, mantiq mengajarkan kehati-hatian terhadap lompatan dari premis menuju kesimpulan.

Qiyas dan Keteraturan Penalaran

Dalam tradisi mantiq, pembahasan tentang qiyas memiliki posisi penting karena qiyas menunjukkan bagaimana beberapa proposisi dapat disusun sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan.

Contoh klasiknya dapat kita lihat:

Semua manusia fana.
Zaid adalah manusia.
Maka Zaid fana.

Premis pertama memberikan kaidah umum. Premis kedua menempatkan Zaid ke dalam kategori yang disebutkan. Kesimpulan kemudian diperoleh berdasarkan hubungan keduanya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kesimpulan tidak berdiri sendiri. Ia lahir karena terdapat struktur tertentu yang menghubungkan premis-premis tersebut.

Dalam pembahasan yang lebih mendalam, para ulama mantiq menjelaskan berbagai syarat agar qiyas dapat menghasilkan kesimpulan yang benar secara penalaran. Pembahasan tersebut menjadi lebih teknis ketika masuk pada bentuk-bentuk proposisi, hubungan antar-premis, dan macam-macam qiyas.

Namun secara praktis, kita dapat mengambil satu prinsip dasar: jangan hanya bertanya apakah seseorang mempunyai alasan; tanyakan bagaimana alasan itu menghasilkan kesimpulannya.

Dua orang bisa memiliki data yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan berbeda. Pada titik itu, kita perlu melihat apakah perbedaannya terletak pada fakta yang digunakan, cara memahami fakta, asumsi yang dipakai, atau struktur penalarannya.

Argumen yang Tampak Kuat Belum Tentu Kuat

Ada argumentasi yang terdengar sangat meyakinkan karena menggunakan banyak istilah, data, atau nama tokoh. Tetapi ketika dibongkar, hubungan antara premis dan kesimpulannya ternyata lemah.

Sebaliknya, ada argumentasi sederhana yang disampaikan dengan bahasa biasa tetapi memiliki dasar yang lebih kuat.

Ini mengajarkan kita untuk tidak mengukur kualitas argumentasi berdasarkan kemasan retorikanya.

Seseorang dapat berbicara dengan sangat percaya diri tetapi belum tentu memiliki bukti yang cukup. Seseorang dapat berbicara dengan tenang dan sederhana tetapi justru memiliki argumentasi yang lebih tertata. Karena itu, dalam tradisi ilmiah, cara penyampaian tidak boleh menggantikan pemeriksaan terhadap isi.

Tentu saja kemampuan menyampaikan gagasan tetap penting. Dakwah membutuhkan bahasa yang jelas dan hikmah. Pendidikan membutuhkan komunikasi yang baik. Organisasi membutuhkan kemampuan menjelaskan keputusan. Tetapi komunikasi yang baik seharusnya membantu argumentasi menjadi lebih mudah dipahami, bukan digunakan untuk menutupi kelemahan argumentasi.

Kita perlu belajar membedakan antara retorika yang menarik dan alasan yang kuat.

Fakta, Asumsi, dan Interpretasi

Salah satu cara praktis untuk menguji argumen adalah memisahkan tiga hal yang sering bercampur: fakta, asumsi, dan interpretasi.

Fakta adalah sesuatu yang dapat diperiksa berdasarkan bukti yang tersedia. Asumsi adalah sesuatu yang kita terima sebagai dasar berpikir, meskipun belum tentu dinyatakan secara eksplisit. Sedangkan interpretasi adalah cara kita memahami atau memberi makna terhadap fakta tersebut.

Misalnya kita melihat seorang pegawai meninggalkan kantor lebih awal. Faktanya mungkin sederhana: ia meninggalkan kantor pada pukul tertentu. Kemudian kita mengatakan, “Dia malas bekerja.” Pernyataan kedua sudah merupakan interpretasi. Di antara keduanya mungkin terdapat asumsi yang tidak kita sadari: bahwa pegawai tersebut tidak memiliki alasan yang sah untuk meninggalkan kantor.

Padahal mungkin ia mendapat izin, menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, atau memiliki tugas di tempat lain.

Kesalahan terjadi ketika interpretasi diperlakukan sebagai fakta.

Karena itu, ketika menguji sebuah argumentasi, kita dapat bertanya: Apa faktanya? Apa asumsi yang digunakan? Apa interpretasinya? Bagaimana hubungan ketiganya?

Pertanyaan sederhana ini sering kali cukup untuk menemukan bagian argumentasi yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Jangan Mengubah Dugaan Menjadi Kepastian

Dalam kehidupan nyata, kita sering harus mengambil keputusan sebelum memiliki seluruh informasi. Karena itu, tidak semua kesimpulan dapat mencapai tingkat kepastian yang sama.

Ada sesuatu yang dapat dibuktikan dengan kuat. Ada sesuatu yang sangat mungkin berdasarkan sejumlah indikasi. Ada sesuatu yang sekadar dugaan. Ada pula sesuatu yang sama sekali belum memiliki dasar yang memadai.

Masalah muncul ketika kita memperlakukan semuanya dengan tingkat keyakinan yang sama.

Kita mengatakan “pasti” padahal baru “mungkin”. Kita mengatakan “terbukti” padahal baru “terindikasi”. Kita mengatakan “fakta” padahal sebenarnya merupakan interpretasi.

Kebiasaan dan kemampuan membedakan tingkat kepastian ini sangat penting dalam kehidupan ilmiah maupun kehidupan sehari-hari.

Seorang dokter tidak menyamakan gejala dengan diagnosis final. Seorang peneliti tidak menyamakan hipotesis dengan hasil penelitian. Seorang hakim tidak seharusnya menyamakan dugaan dengan fakta yang telah terbukti. Begitu pula dalam kehidupan sosial, kita seharusnya tidak menyamakan kecurigaan dengan kepastian.

Mantiq membantu membangun disiplin semacam ini: mengatakan sesuatu sesuai dengan tingkat dasar yang dimilikinya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.