Ketika Hawa Nafsu Menyamar sebagai Argumentasi

by -1320 Views

Tidak semua kesalahan berpikir terjadi karena kita tidak tahu cara berpikir yang benar. Ada kalanya seseorang mengetahui bahwa sebuah argumentasi lemah, tetapi tetap mempertahankannya. Ia mengetahui ada informasi yang belum diperiksa, tetapi tetap membuat kesimpulan. Ia mengetahui bahwa bukti yang digunakan tidak cukup, tetapi tetap berbicara dengan penuh keyakinan.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena manusia tidak hanya memiliki akal. Manusia juga memiliki keinginan, emosi, kecenderungan, kepentingan, pengalaman, rasa takut, rasa cinta, dan harga diri. Semua itu dapat mempengaruhi cara seseorang menggunakan akalnya.

D sinilah pembelajaran mantiq disertai dengan tazkiyatun nafs. Mantiq mengajarkan kita bagaimana memeriksa penalaran. Tazkiyah mengajarkan kita untuk memeriksa diri yang menggunakan penalaran tersebut. 

Masalahnya kadang bukan bahwa kita tidak mampu berpikir benar, tetapi bahwa kita tidak bersedia menerima hasil pemikiran yang benar apabila hasil itu tidak sesuai dengan keinginan kita.

Akal Dapat Menjadi Pembela Keinginan

Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mencari alasan. Ketika menginginkan sesuatu, kita dapat menemukan banyak alasan mengapa sesuatu itu baik. Ketika tidak menyukai sesuatu, kita juga dapat menemukan banyak alasan mengapa sesuatu itu buruk.

Persoalannya, alasan tersebut tidak selalu lahir setelah proses pencarian yang objektif. Kadang kesimpulan sudah kita pilih terlebih dahulu, kemudian akal bekerja mencari pembenaran.

Kita sering melakukan ini tanpa menyadarinya.

Seseorang sudah tidak menyukai seorang tokoh. Ketika tokoh tersebut melakukan sesuatu yang benar, ia merasa perlu mencari sisi lain untuk mengurangi nilai kebaikan itu. Sebaliknya, ketika tokoh yang ia sukai melakukan kesalahan, ia segera mencari konteks yang dapat menjelaskan kesalahan tersebut.

Seseorang sudah memiliki penilaian terhadap sebuah kelompok. Ketika mendengar berita negatif tentang kelompok itu, ia segera mempercayainya. Ketika mendengar berita positif, ia mencurigai sumbernya. Standar pembuktiannya berubah bukan karena bukti berubah, tetapi karena objek yang dinilai berbeda.

Dalam keadaan seperti ini, akal tidak berhenti bekerja. Justru akal bekerja sangat aktif. Namun ia tidak lagi terutama berfungsi sebagai pencari kebenaran. Ia berubah menjadi semacam pengacara bagi kesimpulan yang sudah dipilih.

Orang yang pandai berargumentasi belum tentu orang yang paling objektif. Ia bisa saja justru lebih mahir menemukan alasan untuk mempertahankan apa yang ingin dipercayainya.

Dari Mencari Kebenaran kepada Mencari Pembenaran

Ada perbedaan besar antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran.

Orang yang mencari kebenaran bersedia membiarkan bukti mengubah kesimpulannya. Ia memiliki pendapat, tetapi tidak menjadikan pendapat tersebut sebagai bagian dari harga dirinya. Ketika ditemukan bukti yang lebih kuat, ia dapat memperbaiki pandangannya.

Sebaliknya, orang yang mencari pembenaran memulai dari kesimpulan yang ingin dipertahankan. Setelah itu ia memilih informasi, penafsiran, dan argumentasi yang dapat mendukung kesimpulan tersebut. Informasi yang bertentangan cenderung dicari kelemahannya atau bahkan tidak diperhatikan.

Perbedaan ini tampak kecil, tetapi akibatnya sangat besar.

Dalam kehidupan dakwah, organisasi, pendidikan, bahkan keluarga, perbedaan ini sangat penting. Kita tidak selalu membutuhkan orang yang paling cepat memberikan jawaban. Kita membutuhkan orang yang memiliki kejujuran untuk memeriksa jawaban yang telah ia miliki.

Sebab kebenaran tidak membutuhkan kita untuk membelanya dengan cara apapun. Kebenaran membutuhkan kita untuk bersedia menerimanya.

Hawa Nafsu Tidak Selalu Berbentuk Keinginan Duniawi

Ketika mendengar istilah hawa nafsu, kita sering membayangkan keinginan terhadap harta, jabatan, atau kenikmatan fisik. Padahal dalam konteks tarbiyah ruhiyah, dorongan hawa nafsu dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus.

Keinginan untuk dipuji adalah bagian dari persoalan jiwa. Keinginan untuk selalu terlihat benar juga demikian. Keengganan menerima koreksi karena takut kehilangan wibawa dapat mempengaruhi cara berpikir. Demikian pula fanatisme kepada kelompok, kecintaan yang berlebihan kepada tokoh, atau kebencian kepada pihak tertentu.

Bahkan ego intelektual dapat menjadi penghalang pencarian kebenaran.

Seseorang mungkin tidak tertarik pada harta atau kedudukan, tetapi sangat ingin dianggap paling berilmu. Ia senang ketika orang lain mengakui kecerdasannya. Karena itu, mengakui kesalahan terasa sangat berat. Ia mungkin lebih memilih mempertahankan argumentasi yang lemah daripada mengatakan, “Saya keliru.”

Disinilah penyakit hati dapat menyamar dalam bentuk yang tampak intelektual.

Bahasanya ilmiah. Kutipannya banyak. Argumentasinya panjang. Tetapi tujuan tersembunyinya bukan lagi menemukan kebenaran, melainkan mempertahankan citra diri.

Karena itu, tazkiyatun nafs menjadi sangat penting dalam pendidikan berpikir.

Ketika Identitas Membuat Kita Sulit Menerima Kebenaran

Ada keadaan yang lebih sulit lagi, yaitu ketika pendapat telah melekat pada identitas kita. Kita tidak lagi sekadar mengatakan, “Saya berpendapat demikian.” Kita mulai merasa, “Saya adalah orang yang berpendapat demikian.”

Ketika pendapat menjadi identitas, kritik terhadap pendapat terasa seperti serangan terhadap diri sendiri.

Inilah sebabnya seseorang dapat menjadi sangat defensif ketika dikoreksi. Ia tidak lagi memisahkan antara “argumentasi saya” dan “diri saya”. Jika argumentasinya dianggap lemah, ia merasa dirinya direndahkan. Jika pendapatnya ditolak, ia merasa dirinya ditolak.

Padahal keduanya berbeda.

Pendapat adalah sesuatu yang kita miliki. Ia bukan keseluruhan diri kita. Pendapat dapat diperbaiki, dikoreksi, bahkan ditinggalkan ketika ditemukan alasan yang lebih kuat.

Kemampuan memisahkan diri dari pendapat sendiri merupakan salah satu bentuk kedewasaan intelektual.

Kita dapat mengatakan, “Ini adalah pendapat saya berdasarkan informasi yang saya miliki saat ini. Jika ada bukti yang lebih kuat, saya siap meninjaunya kembali.”

Sikap seperti ini tidak membuat kita lemah. Justru membuat kita lebih bebas dalam mencari kebenaran.

Mengapa Kita Lebih Mudah Melihat Kesalahan Orang Lain?

Cobalah kita perhatikan sebuah perdebatan. Ketika orang lain membuat generalisasi, kita cepat melihatnya. Ketika ia menggunakan emosi sebagai alasan, kita segera mengkritiknya. Ketika ia mengambil kesimpulan terlalu jauh, kita langsung mengatakan bahwa argumentasinya tidak kuat.

Namun ketika kita sendiri melakukan hal yang sama, kita memiliki banyak penjelasan: “Konteksnya berbeda.” “Maksud saya sebenarnya bukan begitu.” “Saya punya alasan lain.” “Ini hanya pengecualian.” Menariknya, kita sering memberikan konteks yang luas kepada diri sendiri, tetapi konteks yang sangat sempit kepada orang lain. 

Kesalahan orang lain kita lihat sebagai bukti karakter. Kesalahan kita sendiri kita lihat sebagai keadaan. Jika orang lain terlambat, kita berkata ia tidak disiplin. Jika kita terlambat, kita memiliki alasan. Jika orang lain salah memahami informasi, kita menyebutnya ceroboh. Jika kita salah memahami informasi, kita mengatakan informasinya memang membingungkan.

Kecenderungan seperti ini menunjukkan bahwa masalah berpikir tidak selalu hanya terletak pada kemampuan intelektual. Ada persoalan keadilan terhadap diri sendiri dan orang lain.

Karena itu, latihan mantiq perlu dilengkapi dengan latihan muhasabah. Sebelum mengoreksi argumentasi orang lain, periksa apakah kita menggunakan standar yang sama kepada diri sendiri.

Mantiq Tidak Dapat Menggantikan Kejujuran

Pada titik ini kita dapat memahami keterbatasan mantiq.

Mantiq dapat membantu kita mengetahui apakah sebuah kesimpulan mengikuti premis. Mantiq dapat membantu mengenali kesalahan dalam struktur argumentasi. Mantiq dapat membantu kita membedakan antara bukti dan dugaan.

Tetapi mantiq tidak dapat memaksa seseorang untuk jujur terhadap hasil pemeriksaannya.

Seseorang dapat mengetahui bahwa premisnya lemah tetapi tetap mempertahankannya. Ia dapat mengetahui bahwa kesimpulannya terlalu jauh tetapi tetap menggunakannya. Ia dapat mengetahui bahwa informasi yang ia sebarkan belum terverifikasi tetapi tetap menyebarkannya karena informasi tersebut menguntungkan kelompoknya.

Masalahnya bukan lagi kemampuan logika. Masalahnya adalah kejujuran moral. Karena itu, pendidikan berpikir membutuhkan dua penjagaan sekaligus. Pertama adalah penjagaan intelektual: apakah cara berpikir kita benar? Dan kedua adalah penjagaan spiritual: apakah hati kita jujur terhadap kebenaran?

Mantiq membantu akal. Tazkiyah menjaga niat dan kecenderungan jiwa. Keduanya tidak boleh dipisahkan.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.