Mengapa Mantiq Kian Penting di Era Media Sosial dan Dakwah?

by -1337 Views

Dahulu, sebuah kabar mungkin membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai dari satu kota ke kota lain. Hari ini, sebuah informasi dapat berpindah dari satu ujung dunia ke ujung lainnya hanya dalam hitungan detik. Sebuah video dapat ditonton jutaan orang sebelum kita sempat mengetahui siapa yang membuatnya. Sebuah potongan pernyataan dapat menjadi bahan perdebatan sebelum konteks lengkapnya diketahui. Bahkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya dapat terlihat seperti fakta hanya karena sudah dibagikan berkali-kali.

Kita hidup dalam zaman ketika kecepatan informasi jauh lebih tinggi daripada kecepatan manusia memeriksanya.

Dalam keadaan seperti ini, belajar mantiq bukan lagi sekadar mempelajari warisan keilmuan klasik. Ia menjadi bagian dari kebutuhan untuk menjaga cara kita memahami informasi. Mantiq membantu kita bertanya sebelum percaya, memeriksa sebelum menyimpulkan, dan mempertimbangkan sebelum menyebarkan.

Bukan berarti setiap Muslim harus menjadi ahli logika. Sebagaimana tidak setiap orang harus menjadi ahli ilmu hadis, ushul fikih, atau statistik, tidak semua orang harus menguasai seluruh rincian ilmu mantiq. Namun setiap orang membutuhkan kebiasaan berpikir yang tertib agar tidak mudah terseret oleh informasi yang belum jelas.

Terlebih bagi orang yang terlibat dalam dakwah. Satu ucapan yang tidak diperiksa dapat diteruskan kepada banyak orang. Satu kesimpulan yang tergesa-gesa dapat memengaruhi cara jamaah memandang seseorang atau sebuah persoalan. Karena itu, semakin besar pengaruh komunikasi kita, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa apa yang kita sampaikan memiliki dasar yang memadai.

Ketika Informasi Lebih Cepat daripada Tabayyun

Salah satu tantangan terbesar era media sosial adalah kecenderungan manusia untuk bereaksi sebelum memahami.

Kita melihat judul, lalu berkomentar. Kita membaca satu paragraf, lalu menyimpulkan. Kita melihat potongan video, lalu menilai seseorang. Kita menerima sebuah pesan dari grup percakapan, lalu meneruskannya karena merasa informasi itu penting.

Padahal informasi yang sampai kepada kita sering kali hanya sebagian kecil dari sebuah persoalan.

Sebuah video berdurasi tiga puluh detik mungkin benar-benar memperlihatkan apa yang terjadi selama tiga puluh detik tersebut. Tetapi ia belum tentu menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Sebuah kutipan mungkin benar-benar diucapkan oleh seseorang, tetapi belum tentu menjelaskan maksud keseluruhan pembicaraannya. Sebuah angka mungkin benar, tetapi belum tentu cukup untuk mendukung kesimpulan yang dibuat berdasarkan angka tersebut.

Di sinilah prinsip yang telah kita pelajari sebelumnya menjadi sangat penting: fakta harus dibedakan dari interpretasi.

Fakta adalah apa yang dapat kita pastikan berdasarkan bukti yang tersedia. Interpretasi adalah pemahaman atau penilaian kita terhadap fakta tersebut. Masalah muncul ketika interpretasi diperlakukan sebagai fakta.

Kita harus berhati-hati agar tidak mengubah informasi yang terbatas menjadi kesimpulan yang terlalu luas.

Viral Tidak Sama dengan Benar

Ada sebuah kebiasaan baru yang perlu kita waspadai: mengukur kebenaran berdasarkan jumlah orang yang mempercayainya.

Sebuah informasi dibagikan ribuan kali, lalu kita merasa informasi itu pasti benar. Sebuah video memiliki jutaan penonton, lalu kita menganggap isinya dapat dipercaya. Sebuah pendapat mendapat banyak dukungan, lalu kita menganggap tidak mungkin pendapat tersebut keliru.

Padahal jumlah orang yang mempercayai sesuatu tidak otomatis menentukan kebenarannya.

Dalam istilah logika, kita perlu berhati-hati terhadap appeal to popularity, yaitu kecenderungan menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang menerimanya.

Tentu saja jumlah orang yang menyampaikan sebuah informasi dapat menjadi alasan bagi kita untuk memperhatikannya. Jika banyak orang melaporkan sebuah peristiwa, mungkin memang ada sesuatu yang perlu diperiksa. Tetapi perhatian terhadap sebuah informasi berbeda dengan memastikan kebenarannya.

Kebenaran membutuhkan bukti.

Hal ini berlaku pula dalam dakwah. Sebuah kutipan yang sangat populer belum tentu memiliki sumber yang tepat. Sebuah kisah yang sering disampaikan dalam ceramah belum tentu memiliki status riwayat yang kuat. Sebuah nasihat yang terdengar indah belum tentu dapat dinisbatkan kepada Nabi ﷺ atau seorang ulama tertentu hanya karena banyak orang telah mengutipnya.

Semangat menyebarkan kebaikan harus disertai kehati-hatian. Niat baik tidak menghapus kebutuhan untuk melakukan pemeriksaan.

Jangan Membuat Kesimpulan dari Potongan

Media sosial bekerja dengan potongan-potongan. Potongan video. Potongan berita. Potongan kutipan. Potongan data. Potongan komentar.

Masalahnya, manusia memiliki kecenderungan mengisi bagian yang hilang dengan asumsi.

Kita melihat seseorang diam dalam sebuah pertemuan, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak peduli. Kita melihat seseorang tidak hadir dalam sebuah kegiatan, lalu menganggap ia tidak mendukung. Kita melihat seseorang memberikan kritik, lalu menganggap ia sedang menyerang. Kita melihat seseorang memuji pihak tertentu, lalu menganggap ia pasti mendukung seluruh pandangan pihak tersebut.

Padahal sebuah tindakan selalu berada dalam konteks.

Mantiq mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat memperluas kesimpulan melampaui apa yang benar-benar ditunjukkan oleh bukti.

Jika kita mengetahui seseorang mengatakan satu hal, maka kita mengetahui bahwa ia mengatakan hal tersebut. Kita belum otomatis mengetahui seluruh pandangannya tentang persoalan tersebut. Jika kita mengetahui seseorang melakukan satu kesalahan, kita mengetahui bahwa ia melakukan kesalahan itu. Kita belum otomatis memiliki dasar untuk menyimpulkan bahwa ia selalu melakukan kesalahan.

Perbedaan antara “dia melakukan X” dan “dia memang orang seperti itu” sangat besar. Hal yang pertama merupakan laporan tentang sebuah tindakan. Yang kedua merupakan generalisasi tentang karakter.

Semakin luas kesimpulan kita, semakin luas pula bukti yang dibutuhkan.

Mantiq dalam Dakwah: Jangan Sampai Pesan Baik Disampaikan dengan Cara yang Keliru

Dakwah memiliki tujuan yang mulia. Tetapi tujuan yang baik tetap membutuhkan cara yang benar.

Kadang-kadang seseorang memiliki pesan yang benar, tetapi menyampaikannya dengan argumentasi yang lemah. Ada pula yang membawa nilai Islam tetapi menggunakan informasi yang belum diverifikasi. Ada yang ingin membela kebenaran tetapi menggunakan tuduhan yang tidak memiliki dasar. Bahkan ada yang ingin mengajak kepada ukhuwah tetapi cara bicaranya justru mempermalukan pihak lain.

Disinilah mantiq dapat membantu dakwah.

Sebelum menyampaikan sebuah klaim, kita dapat bertanya: dari mana informasi ini berasal? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah saya memahami konteksnya? Apakah kesimpulan saya benar-benar mengikuti bukti? Apakah ada penjelasan alternatif yang masuk akal? Apakah saya sedang menjelaskan fakta atau menyampaikan interpretasi pribadi?

Pertanyaan seperti ini tidak membuat dakwah menjadi kering. Justru ia membantu pesan dakwah menjadi lebih bertanggung jawab.

Dakwah membutuhkan hikmah, dan hikmah tidak hanya berkaitan dengan kelembutan bahasa. Hikmah juga menuntut ketepatan dalam memahami keadaan, memilih kata, memperhitungkan dampak, dan menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadar pengetahuan yang kita miliki.

Ketajaman berpikir dan kelembutan dalam berdakwah bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya saling melengkapi.

Mantiq dan Ukhuwah

Sebagian orang mungkin mengira bahwa berpikir kritis akan membuat hubungan antarmanusia menjadi dingin. Seolah-olah semakin banyak kita menguji argumentasi, semakin sulit kita membangun ukhuwah.

Sebenarnya tidak demikian. Hal yang merusak ukhuwah bukanlah berpikir kritis, tetapi ketidakmampuan membedakan kritik terhadap gagasan dengan penolakan terhadap pribadi.

Kita dapat tidak setuju dengan pendapat seseorang tetapi tetap menghormatinya sebagai saudara. Kita dapat mengoreksi sebuah argumentasi tanpa merendahkan orang yang menyampaikannya. Kita dapat menerima bahwa sebagian pendapat kita mungkin keliru tanpa merasa bahwa seluruh harga diri kita runtuh.

Bahkan berpikir dengan tertib dapat membantu ukhuwah karena kita menjadi lebih berhati-hati dalam membuat tuduhan.

Kita tidak mudah mengatakan “dia membenci kita” hanya karena ia mengkritik. Kita tidak mudah mengatakan “mereka pasti punya niat buruk” hanya karena mereka mengambil keputusan berbeda. Kita tidak mudah menyimpulkan “kelompok itu seperti ini” hanya karena menemukan beberapa orang dari kelompok tersebut melakukan kesalahan.

Mantiq membantu kita mengerem generalisasi. Tazkiyah membantu kita mengerem kebencian. Ukhuwah membantu kita mengingat tujuan yang lebih besar daripada perbedaan kita. Ketiganya dapat, dan harus, berjalan bersama.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.