Membangun Pikiran: Istilah dan Konsep

by -1338 Views

Setelah memahami mengapa kita perlu belajar mantiq, sekarang kita memasuki pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana pikiran membangun pengetahuan?

Kesalahan berpikir tidak selalu dimulai ketika seseorang menarik kesimpulan. Seringkali kesalahan sudah terjadi jauh sebelumnya, ketika kita belum memahami istilah dengan tepat, keliru menangkap makna sebuah kata, atau memiliki gambaran yang tidak utuh tentang sesuatu yang sedang dibicarakan.

Dalam ilmu mantiq, kita tidak langsung dibawa kepada pembahasan tentang benar dan salah. Ada proses yang harus dilalui terlebih dahulu: memahami sesuatu sebelum memberikan penilaian terhadapnya.

Para ulama mantiq menjelaskan pengetahuan manusia melalui dua tahap besar, yaitu tasawwur dan tasdiq. 

Tasawwur adalah terbentuknya gambaran atau konsep tentang sesuatu di dalam akal tanpa menetapkan hukum terhadapnya. Sedangkan tasdiq adalah ketika kita sudah memberikan penilaian atau menetapkan hubungan tertentu.

Ketika kita memahami konsep “manusia”, misalnya, kita sedang melakukan tasawwur. Ketika kita mengatakan “manusia membutuhkan makanan”, kita telah memasuki wilayah tasdiq karena kita menetapkan sebuah hubungan atau hukum.

Karena itu terdapat kaidah yang sangat terkenal:

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

Al-hukmu ‘ala al-syai’i far‘un ‘an tashawwurihi.

“Menghukumi sesuatu merupakan cabang dari pembentukan konsep tentang sesuatu tersebut.”

Kaidah ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering memberikan penilaian sebelum benar-benar memahami objek yang dinilai. Kita mendengar satu berita lalu menyimpulkan. Kita membaca satu kalimat lalu menilai pemikiran seseorang. Kita mendengar sebuah istilah lalu merasa sudah mengetahui maksudnya.

Padahal mengenal sebuah kata tidak selalu berarti memahami konsepnya.

Seseorang dapat menggunakan kata “keadilan”, “kebebasan”, “dakwah”, “manhaj”, “ukhuwah”, atau “sunnah”,  tetapi memberikan makna yang berbeda. Jika kita tidak memastikan maknanya terlebih dahulu, kita mungkin sebenarnya sedang berdebat tentang dua hal yang berbeda meskipun menggunakan kata yang sama.

Disinilah muncul pembahasan dalalah, yaitu bagaimana sebuah lafaz menunjuk kepada makna. Dalam mantiq, dikenal tiga bentuk utama dalalah lafzhiyyah wadha‘iyyah: mutabaqah, tadhammun, dan iltizam.

Penjelasan secara sederhananya adalah sebagai berikut: 

  • Mutabaqah adalah ketika kata menunjuk kepada keseluruhan makna yang ditetapkan baginya. 
  • Tadhammun adalah ketika kata menunjuk kepada sebagian dari makna tersebut. 
  • Iltizam adalah ketika kata menunjuk kepada makna lain yang berada di luar makna langsungnya tetapi memiliki hubungan yang niscaya dan dapat dipahami.

Pembahasan ini mengajarkan satu kebiasaan penting: jangan terburu-buru menilai sebuah pernyataan sebelum memastikan makna istilah yang digunakan.

Setelah memahami hubungan antara kata dan makna, mantiq membawa kita kepada al-kulliyyat al-khamsah, lima konsep universal: jins, naw‘, fashl, khashshah, dan ‘aradh ‘am.

Kelima istilah ini membantu kita melihat struktur sebuah konsep. Jins menunjukkan kelompok umum, naw‘ menunjukkan jenis tertentu, fashl menunjukkan pembeda esensial, khashshah menunjukkan sifat khusus yang berada di luar hakikat, sedangkan ‘aradh ‘am menunjukkan sifat yang juga dapat dimiliki oleh hal-hal lain.

Contoh sederhananya adalah konsep manusia. “Hewan” dapat menjadi jins, “manusia” menjadi naw‘, sedangkan “nathiq” atau kemampuan berpikir menjadi pembeda dalam rumusan klasik. Adapun sifat seperti tertawa digunakan sebagai contoh khashshah, sementara bergerak dapat menjadi contoh ‘aradh ‘am.

Bagi pembaca awam, yang paling penting bukan sekadar menghafal kelima istilah tersebut. Ada hal yang lebih penting adalah belajar membedakan hakikat dan sifat, yang khusus dan yang umum, serta yang esensial dan yang aksidental.

Kemampuan ini sangat berguna dalam kehidupan. Kita sering melihat seseorang melakukan satu kesalahan, lalu menjadikan kesalahan itu sebagai definisi seluruh dirinya. Kita melihat satu sifat pada sebuah kelompok, lalu menganggap sifat tersebut berlaku kepada semua anggotanya. Kita mengambil satu karakteristik, kemudian menjadikannya hakikat.

Mantiq mengajarkan kita untuk lebih hati-hati dalam melakukan generalisasi.

Setelah konsep dipahami dan strukturnya dikenali, kita sampai pada tahap berikutnya: bagaimana menjelaskan sesuatu dengan definisi yang tepat?

Inilah wilayah al-mu‘arrifat, yaitu perangkat untuk memperkenalkan dan menjelaskan suatu konsep. Dalam pembahasan klasik dikenal antara lain had dan rasm, yang kemudian dibagi menjadi had tam, had naqish, rasm tam, dan rasm naqish.

Kita tidak perlu terburu-buru menghafal seluruh istilah tersebut. Prinsip dasarnya jauh lebih penting: definisi yang baik harus membantu kita memahami sesuatu dan membedakannya dari sesuatu yang bukan dirinya.

Karena itu, definisi harus cukup luas untuk mencakup apa yang memang termasuk di dalamnya, tetapi cukup terbatas untuk mencegah sesuatu yang tidak termasuk ikut masuk. Dalam istilah mantiq, definisi idealnya bersifat jami‘ dan mani‘.

Ambil contoh sederhana. Jika kita mendefinisikan manusia sebagai “makhluk hidup”, definisi itu terlalu luas karena banyak makhluk lain juga termasuk di dalamnya. Jika definisi terlalu sempit, sebagian manusia justru dapat keluar dari cakupan definisi tersebut.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menggunakan istilah seperti “pemimpin”, “aktivis”, “profesional”, “moderat”, atau “militan” tanpa menjelaskan apa yang kita maksud. Akibatnya, diskusi menjadi kabur karena setiap orang mungkin menggunakan definisi yang berbeda.

Maka membangun pikiran berarti membangun ketepatan konsep.

Kita belajar memahami sebelum menilai melalui tasawwur. Kita belajar menjaga hubungan antara kata dan makna melalui dalalah. Kita belajar membaca struktur konsep melalui al-kulliyyat al-khamsah. Dan kita belajar menjelaskan konsep secara tepat melalui al-mu‘arrifat.

Keempatnya merupakan fondasi sebelum kita melangkah kepada pembahasan yang lebih jauh tentang proposisi, premis, argumentasi, dan kesimpulan.

Pada akhirnya, belajar mantiq bukan sekadar belajar istilah-istilah Arab yang terdengar rumit. Ia adalah latihan untuk membiasakan pikiran bekerja secara tertib.

Sebelum bertanya “Apa pendapat saya?”, kita belajar bertanya “Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan?”

Sebelum mengatakan “Saya setuju” atau “Saya tidak setuju”, kita memastikan bahwa kita memahami konsepnya.

Dan sebelum memberikan penilaian terhadap sesuatu, kita mengingat kembali kaidah yang sederhana tetapi sangat dalam:

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

Penilaian yang benar membutuhkan pemahaman yang benar.

Dariisinilah perjalanan kita dalam membangun pikiran dimulai. (im)

Daftar Pustaka

  • Al-Ghazali, Abu Hamid. Mi’yar al-‘Ilm fi Fan al-Mantiq. Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.
  • Al-Katibi al-Qazwini, Najm al-Din ‘Ali ibn ‘Umar (dengan kajian Dr. Mahdi Fadlallah). Al-Shamsiyyah fi al-Qawa’id al-Mantiqiyyah. Beirut: Al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi.
  • Al-Malawi, Shihabuddin Ahmad Abdul Fattah. Al-Sharh al-Kabir ‘ala al-Sullam al-Munawraq fi ‘Ilm al-Mantiq. Kuwait: Dar al-Dhiya’.
  • Al-Sanusi al-Hasani, Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Yusuf. Matn Mukhtasar al-Mantiq.
  • Al-Razi, Qutb al-Din. Tahrir al-Qawa’id al-Mantiqiyyah fi Sharh al-Risalah al-Shamsiyyah. Qum: Intisharat Bidar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.