Militansi Berawal dari Hati yang Hidup

by -1353 Views

Ada kecenderungan dalam memahami militansi dakwah untuk mengukurnya dari hal-hal yang tampak di permukaan, seperti banyaknya aktivitas yang diikuti, keberanian tampil di hadapan publik, kemampuan berbicara, kesediaan menghadiri berbagai agenda, atau bahkan besarnya jumlah orang yang berada di sekitar seorang aktivis.

Semua kekuatan lahiriah tersebut dapat kehilangan daya tahannya ketika menghadapi ujian apabila tidak memiliki sumber energi yang jauh lebih mendasar, yaitu hati yang hidup dan terhubung dengan Allah Swt.

Al-Qur’an ketika menggambarkan profil orang-orang yang benar-benar beriman justru tidak memulainya dengan daftar aktivitas lahiriah mereka, tetapi dengan menggambarkan apa yang terjadi di dalam hati mereka ketika berhadapan dengan nama dan ayat-ayat Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.”
(QS. Al-Anfal: 2).

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting bahwa militansi yang lahir dari iman tidak dimulai dari kerasnya suara, banyaknya slogan, atau padatnya agenda.

Al-Quran memberikan indikasi militansi itu dimulai dari wajilat qulūbuhum, yaitu hati yang bergetar ketika nama Allah disebut, hati yang masih memiliki sensitivitas terhadap kebenaran, hati yang merasa diawasi oleh Allah, dan hati yang segera merespons ketika menerima perintah atau peringatan dari-Nya.

Ketika kita mulai kehilangan semangat berkorban, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, semakin berat menjalankan amanah, atau mulai lebih banyak menghitung keuntungan pribadi daripada memikirkan tanggung jawab dakwah, kita bisa saja beralasan disebabkan oleh faktor kesibukan, tekanan, lingkungan, atau persoalan organisasi.

Tetapi, kita juga perlu memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar dan jujur, kepada diri sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya keadaan hati kita di hadapan Allah Swt..

Rasulullah saw. bahkan menegaskan bahwa hati memiliki posisi sentral terhadap seluruh perilaku manusia melalui sabdanya:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa persoalan hati bukan persoalan tambahan apalagi aksesori dalam kehidupan seorang aktivis, melainkan persoalan fundamental. Darisanalah niat, orientasi, keikhlasan, keberanian, kesabaran, dan kesediaan berkorban memperoleh sumbernya

Dengan demikian memperbaiki militansi tidak cukup dilakukan dengan menambah agenda, memberikan motivasi, atau menyusun program baru apabila hati yang menjadi pusat penggeraknya justru sedang sakit.

Disinilah kita perlu memahami bahwa militansi bukanlah sesuatu yang berdiri di luar iman, karena militansi yang sehat merupakan salah satu buah dari iman yang hidup. Ketika iman menguat hati menjadi hidup, ketika hati hidup seseorang semakin dekat dengan Allah, ketika kedekatan kepada Allah semakin kuat ia semakin mudah menaati-Nya. Dari ketaatan itulah lahir kesediaan untuk berkorban serta istiqamah dalam menjalankan amanah dakwah.

Maka sebelum bertanya, “Mengapa aktivis sekarang kurang militan?”, mungkin kita perlu mengubah pertanyaannya menjadi, “Mengapa hati kita tidak lagi sepeka dahulu ketika Allah memanggil?”

Bisa jadi problem terbesar bukan terletak pada kurangnya pengetahuan tentang dakwah, melainkan pada berkurangnya daya ruhani untuk mengamalkan apa yang sebenarnya sudah kita ketahui.

Pada akhirnya, dakwah membutuhkan manusia yang kuat secara lahiriah sekaligus hidup secara batiniah, karena organisasi dapat menyediakan struktur, program dapat menyediakan aktivitas, dan kepemimpinan dapat memberikan arah, tetapi hanya hati yang hidup yang mampu membuat seorang hamba tetap berjalan ketika tidak ada yang melihat, tetap berkorban ketika tidak ada yang memuji, dan tetap istiqamah ketika jalan dakwah tidak lagi memberikan kenyamanan duniawi.

Militansi bukan kerasnya suara, tetapi kuatnya iman, dan kekuatan iman itu pertama-tama tampak dari keadaan hati ketika Allah disebut. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.