Asumsi Tersembunyi: Membongkar Premis yang Tidak Diucapkan

by -1316 Views

Tidak semua argumen disampaikan dalam bentuk yang lengkap. Dalam percakapan sehari-hari, seseorang sering menyebut satu fakta lalu langsung menarik kesimpulan. Ia tidak menjelaskan seluruh alasan yang menghubungkan keduanya karena menganggap pendengar sudah memahami maksudnya. 

Cara seperti itu sebenarnya sangat wajar dalam komunikasi.

Dalam Ilmu Mantiq, bentuk penalaran seperti ini dikenal sebagai al-qiyas al-mudmar atau al-qiyas al-ikhtishari, yaitu silogisme yang sebagian unsurnya tidak disebutkan secara eksplisit. 

Premis yang disembunyikan disebut sebagai al-muqaddamah al-muthwiyyah. Penyembunyian tersebut tidak selalu merupakan kesalahan. Persoalannya muncul ketika premis yang tidak diucapkan justru menjadi tempat bersembunyinya kelemahan argumentasi.

Tidak Semua yang Tidak Diucapkan Itu Salah

Al-Malawi menjelaskan bahwa sebagian premis atau bahkan kesimpulan dapat dihilangkan ketika sesuatu yang dihilangkan telah diketahui oleh orang yang diajak berbicara. Tujuannya adalah al-ijaz wa al-ikhtishar, yaitu menyampaikan sesuatu secara ringkas tanpa mengulang hal yang sudah dipahami.

Al-Katibi juga memberikan contoh sederhana: seseorang mengatakan, “Zaid adalah manusia, maka ia fana.” Secara lengkap, argumen tersebut sebenarnya mengandung premis yang tidak disebutkan: “Setiap manusia adalah fana.” Pendengar yang telah memahami kaidah tersebut dapat menangkap kesimpulannya tanpa harus mendengar seluruh silogisme.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah premis diucapkan atau tidak. Tetapi, yang lebih penting adalah apakah premis yang disembunyikan itu benar, relevan, dan memang dapat diterima oleh pihak yang mendengar.

Disinilah kemampuan berpikir kritis diperlukan.

Dimana Premis yang Tersembunyi?

Ada beberapa bentuk penghapusan unsur dalam qiyas. 

  • Pertama, premis mayor dapat dihilangkan. Misalnya seseorang berkata, “Obat ini mengandung alkohol, maka haram.” Agar argumen tersebut lengkap, diperlukan premis seperti: “Setiap sesuatu yang mengandung alkohol adalah haram.” Tetapi justru premis inilah yang perlu diperiksa. Apakah benar semua sesuatu yang mengandung alkohol memiliki hukum yang sama? Dalam persoalan fikih, tentu diperlukan rincian lebih lanjut.
  • Kedua, premis minor dapat dihilangkan. Misalnya dikatakan, “Setiap barang curian wajib dikembalikan, maka barang ini wajib dikembalikan.” Premis yang tersembunyi adalah: “Barang ini merupakan barang curian.” Jika status barang tersebut belum terbukti, maka kesimpulan juga belum dapat diterima begitu saja.
  • Ketiga, kesimpulan dapat tidak disebutkan. Dua premis disampaikan dan pembicara membiarkan pendengar menarik kesimpulannya sendiri. Dalam komunikasi, cara seperti ini kadang justru membuat pesan lebih kuat karena pendengar merasa menemukan kesimpulan tersebut melalui pikirannya sendiri.

Namun, cara yang sama dapat digunakan secara tidak sehat. Karena itu, ketika hendak menguji argumen, kita perlu mengembalikan bentuk yang ringkas menjadi bentuk yang lengkap.

Membuka Premis yang Dilipat

Al-Sanusi menjelaskan pentingnya mengembalikan qiyas kepada bentuk asalnya ketika sebagian unsur dihilangkan agar dapat diketahui kebenaran materi argumentasi dan keabsahan bentuknya.

Prinsip ini sangat penting. Ketika seseorang mengatakan, “Kalau dia melakukan itu, berarti dia memang orang yang tidak baik,” jangan langsung menerima kesimpulannya. Tanyakan terlebih dahulu: Apa premis yang menghubungkan tindakan tersebut dengan penilaian terhadap orang itu?

Mungkin ada asumsi tersembunyi: “Orang yang melakukan tindakan tersebut pasti memiliki karakter buruk.” Padahal, hubungan antara satu tindakan dan keseluruhan karakter seseorang tidak selalu sesederhana itu.

Contoh lain: “Mayoritas orang mendukung kebijakan ini, berarti kebijakan ini pasti benar.” Premis tersembunyinya kira-kira: “Apa yang didukung mayoritas pasti benar.” Premis inilah yang harus diuji. Jumlah orang yang mendukung suatu pendapat tidak dengan sendirinya membuktikan kebenaran pendapat tersebut.

Mantiq membantu kita memperlambat proses tersebut: jangan hanya menguji apa yang dikatakan; periksa juga apa yang harus benar agar perkataan itu dapat menghasilkan kesimpulan.

Antara Ringkas dan Menyesatkan

Qiyas mudmar dapat muncul karena dua keadaan. Pertama, karena efisiensi. Premis memang tidak disebutkan karena sudah jelas atau telah disepakati. Kedua, karena kelemahan argumentasi. Premis sengaja tidak dikemukakan karena apabila dinyatakan secara terang-terangan, kelemahannya mungkin segera terlihat.

Karena itu, kemampuan mengungkap asumsi tersembunyi merupakan salah satu latihan penting dalam mendeteksi maghalathah, yaitu kerancuan atau kesalahan penalaran.

Qutb al-Din al-Razi membahas kemungkinan penyembunyian premis bukan hanya sebagai bentuk peringkasan, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam kerancuan argumentasi. Ini memberi pelajaran penting: sebuah argumen tidak boleh dinilai hanya dari kelancaran cara ia disampaikan.

Bahasa yang lancar tidak menjamin premis yang benar. Kalimat yang singkat tidak selalu berarti argumen yang kuat. Bahkan sebuah pernyataan yang terdengar sangat meyakinkan mungkin bergantung pada satu asumsi yang belum pernah diperiksa.

Cara Menguji Asumsi Tersembunyi

Ada empat langkah sederhana yang dapat kita gunakan.

  • Pertama, tentukan kesimpulannya. Apa sebenarnya yang ingin diyakinkan oleh pembicara?
  • Kedua, cari premis yang belum diucapkan. Apa yang harus benar agar kesimpulan tersebut mengikuti pernyataan yang diberikan?
  • Ketiga, uji bahan premisnya. Apakah asumsi tersebut benar? Apakah memiliki bukti? Apakah terlalu luas? Apakah terdapat pengecualian yang diabaikan?
  • Keempat, uji hubungan logisnya. Setelah premis yang tersembunyi ditampilkan, apakah keseluruhan qiyas benar-benar menghasilkan kesimpulan yang ditarik?

Latihan ini bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Justru yang pertama kali perlu kita lakukan adalah memeriksa cara berpikir kita sendiri.

Ketika kita berkata, “Kalau begitu berarti…”, mungkin ada satu atau dua premis yang diam-diam kita masukkan sendiri. Ketika kita mengatakan, “Dia memang seperti itu,” mungkin ada asumsi tentang seseorang yang belum pernah kita buktikan. Ketika kita mengatakan, “Semua orang tahu,” mungkin kita sedang menggantikan bukti dengan anggapan.

Disinilah Mantiq bertemu dengan tazkiyah. Akal yang jernih berani membuka asumsi yang tersembunyi, sementara hati yang bersih bersedia mengakui apabila asumsi itu ternyata tidak benar.

Sebab, berpikir jernih bukan hanya kemampuan menemukan kesalahan dalam argumen orang lain. Lebih jauh dari itu, ia adalah kemampuan membongkar argumen kita sendiri dan bertanya dengan jujur: “Apa yang sebenarnya saya anggap benar, padahal belum pernah saya buktikan?” (im)

Daftar Pustaka

  1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Mi‘yar al-‘Ilm fi Fan al-Mantiq. Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.
  2. Al-Katibi al-Qazwini, Najm al-Din ‘Ali ibn ‘Umar. Al-Shamsiyyah fi al-Qawa‘id al-Mantiqiyyah, dengan kajian Dr. Mahdi Fadlallah. Beirut: Al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi.
  3. Al-Malawi, Shihabuddin Ahmad Abdul Fattah. Al-Sharh al-Kabir ‘ala al-Sullam al-Munawraq fi ‘Ilm al-Mantiq. Kuwait: Dar al-Dhiya’.
  4. Al-Sanusi al-Hasani, Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Yusuf. Matn Mukhtasar al-Mantiq.
  5. Al-Razi, Qutb al-Din. Tahrir al-Qawa‘id al-Mantiqiyyah fi Sharh al-Risalah al-Shamsiyyah. Qum: Intisharat Bidar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.