Sebuah argumen dapat terlihat rapi, memiliki banyak data, bahkan menghasilkan kesimpulan yang terdengar meyakinkan. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang tetap harus diajukan: apakah argumen tersebut konsisten dengan dirinya sendiri?
Dalam Ilmu Mantiq, pengujian argumen tidak berhenti pada pertanyaan apakah kesimpulan mengikuti premis atau apakah premis memiliki dasar yang benar. Kita juga perlu melihat apakah terdapat bagian dari argumen yang justru membatalkan bagian lainnya.
Inilah yang berkaitan dengan al-tanaqudh, yaitu kontradiksi, dan prinsip ‘adam al-tanaqudh, hukum non-kontradiksi. Dua pernyataan yang benar-benar bertentangan tidak mungkin sama-sama benar. Karena itu, ketika sebuah sistem pemikiran memuat dua pernyataan yang secara hakiki saling meniadakan, kita perlu berhenti dan memeriksa kembali bangunan argumentasinya.
Tidak Semua Perbedaan adalah Kontradiksi
Disinilah ketelitian Mantiq menjadi penting. Dua pernyataan yang tampak berlawanan belum tentu benar-benar kontradiktif.
Al-Sanusi dan Al-Katibi menjelaskan bahwa kontradiksi terjadi ketika dua proposisi berbeda dalam afirmasi dan negasi sedemikian rupa sehingga salah satunya harus benar dan yang lainnya harus salah. Artinya, kita tidak boleh terlalu cepat mengatakan, “Ini kontradiksi.”
Mengapa? Karena sebuah pernyataan mungkin berbicara tentang subjek yang berbeda, waktu yang berbeda, kondisi yang berbeda, atau hubungan yang berbeda.
Misalnya, seseorang mengatakan, “Anak itu sudah memiliki gigi,” sementara pada kesempatan lain dikatakan, “Anak itu belum memiliki gigi.” Pernyataan tersebut tidak otomatis bertentangan jika yang pertama berbicara tentang keadaan setelah pertumbuhan tertentu dan yang kedua tentang keadaan ketika baru lahir.
Jadi, sebelum menuduh sebuah argumen inkonsisten, kita harus memastikan bahwa kedua pernyataan benar-benar berbicara tentang hal yang sama dalam pengertian yang sama.
Delapan Kesatuan
Para ulama Mantiq menjelaskan persoalan ini melalui al-wahdat al-thamaniyah, yaitu delapan kesatuan yang harus diperhatikan ketika menentukan apakah dua proposisi benar-benar kontradiktif.
Di antaranya adalah kesatuan subjek, predikat, syarat atau kondisi, keseluruhan dan bagian, waktu, tempat, serta relasi. Imam Al-Ghazali membahas bagaimana perbedaan unsur-unsur tersebut dapat menyebabkan dua pernyataan yang tampak berlawanan ternyata tidak benar-benar bertentangan.
Qutb al-Din al-Razi kemudian menjelaskan bahwa pembahasan delapan kesatuan tersebut oleh sebagian logikawan belakangan dapat diringkas secara lebih sederhana pada kesatuan subjek dan predikat, dengan berbagai unsur penjelas yang menyertainya.
Pelajaran praktisnya sederhana: sebelum mengatakan seseorang bertentangan dengan dirinya sendiri, pastikan konteks kedua pernyataannya benar-benar sama.
Ini penting bukan hanya dalam kitab-kitab Mantiq, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali kita mengutip satu kalimat seseorang dari masa lalu untuk menyatakan bahwa ia “bertentangan” dengan perkataannya sekarang, padahal keadaan, konteks, atau objek pembicaraannya sudah berubah.
Kontradiksi pada Pernyataan Universal dan Partikular
Konsistensi juga harus diperiksa melalui kuantitas dan kualitas proposisi.
Dalam proposisi kategoris, misalnya, pernyataan “Setiap manusia adalah penulis” tidak memiliki kontradiksi langsung berupa “Tidak ada manusia yang penulis.” Kontradiksi yang tepat adalah “Sebagian manusia bukan penulis.”
Demikian pula, proposisi “Tidak ada manusia yang merupakan batu” berkontradiksi dengan “Sebagian manusia adalah batu.”
Di sini kita belajar bahwa menguji kontradiksi bukan sekadar mengganti kata “adalah” menjadi “bukan”. Kita harus memperhatikan pula cakupan pernyataan.
Pernyataan “Sebagian manusia adalah penulis” juga tidak bertentangan dengan “Sebagian manusia bukan penulis.” Keduanya bahkan dapat sama-sama benar. Sebagian manusia dapat menjadi penulis, sementara sebagian lainnya bukan penulis.
Karena itu, memahami kulliyyah dan juz’iyyah, serta mujabah dan salibah, menjadi penting untuk membaca konsistensi secara tepat.
Kontradiksi yang Tersembunyi
Kontradiksi tidak selalu muncul dalam dua kalimat yang berdampingan. Kadang-kadang ia baru terlihat setelah sebuah premis dikembangkan lebih jauh.
Sebuah argumen mungkin terlihat konsisten secara lahiriah. Tetapi ketika premis-premisnya dikonversikan atau diturunkan konsekuensinya, ternyata muncul kesimpulan yang bertentangan dengan premis lain.
Karena itu, menguji konsistensi membutuhkan lebih dari sekadar membaca kalimat satu per satu. Kita perlu melihat konsekuensi logis dari keseluruhan argumentasi.
Pertanyaan yang dapat digunakan antara lain: Apakah ada dua pernyataan yang saling meniadakan? Apakah subjek dan predikatnya benar-benar sama? Apakah waktunya sama? Apakah konteksnya sama? Apakah perbedaan kuantitas membuat keduanya sebenarnya masih dapat sama-sama benar? Dan jika seluruh premis dikembangkan, apakah muncul kesimpulan yang bertentangan dengan bagian lain dari argumen?
Konsistensi sebagai Adab Berpikir
Mantiq mengajarkan kita untuk tidak hanya bertanya, “Apakah pendapat ini benar?”, tetapi juga, “Apakah pendapat ini konsisten dengan apa yang telah kita katakan sebelumnya?”
Pertanyaan ini penting dalam kehidupan ilmiah, dakwah, organisasi, maupun percakapan sehari-hari.
Kadang-kadang kita mempertahankan dua prinsip sekaligus karena masing-masing terasa menguntungkan bagi posisi kita. Ketika pernyataan pertama digunakan untuk mendukung kita, kita menerimanya. Ketika prinsip yang sama merugikan posisi kita, kita mencari pengecualian. Di sinilah konsistensi perlu menjadi bagian dari muhasabah.
Tazkiyah memberikan dimensi yang lebih dalam. Kesalahan berpikir tidak selalu lahir karena kurangnya kemampuan intelektual. Kadang-kadang kita mengetahui bahwa dua pernyataan tidak selaras, tetapi tetap mempertahankannya karena kita terlalu terikat kepada kesimpulan yang sudah kita pilih.
Maka, konsistensi bukan sekadar aturan logika. Ia juga latihan kejujuran intelektual.
Orang yang mencari kebenaran harus bersedia menerapkan standar yang sama kepada pendapatnya sendiri sebagaimana ia menerapkannya kepada pendapat orang lain.
Pada akhirnya, berpikir jernih berarti mampu membedakan antara perbedaan dan kontradiksi, antara perubahan konteks dan inkonsistensi, serta antara pengecualian yang sah dan alasan yang dibuat-buat.
Sebelum mengatakan, “Pendapat itu bertentangan,” mari bertanya lebih dahulu: Apakah benar-benar bertentangan, atau hanya tampak berbeda karena kita belum memahami subjek, predikat, konteks, waktu, dan relasinya dengan tepat?
Itulah salah satu latihan penting dalam membangun pikiran yang jernih: tidak tergesa-gesa menuduh kontradiksi, tetapi juga tidak membiarkan kontradiksi yang nyata berlalu tanpa pemeriksaan.
Daftar Pustaka
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Mi‘yar al-‘Ilm fi Fan al-Mantiq. Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.
- Al-Katibi al-Qazwini, Najm al-Din ‘Ali ibn ‘Umar. Al-Shamsiyyah fi al-Qawa‘id al-Mantiqiyyah, dengan kajian Dr. Mahdi Fadlallah. Beirut: Al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi.
- Al-Malawi, Shihabuddin Ahmad Abdul Fattah. Al-Sharh al-Kabir ‘ala al-Sullam al-Munawraq fi ‘Ilm al-Mantiq. Kuwait: Dar al-Dhiya’.
- Al-Sanusi al-Hasani, Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Yusuf. Matn Mukhtasar al-Mantiq.
- Al-Razi, Qutb al-Din. Tahrir al-Qawa‘id al-Mantiqiyyah fi Sharh al-Risalah al-Shamsiyyah. Qum: Intisharat Bidar.





