Hati manusia bisa sangat semangat dan dapat pula melemah, dapat menjadi lembut dan dapat menjadi keras, dapat mudah tersentuh oleh kebenaran dan dapat pula kehilangan sensitivitasnya. Seorang aktivis dakwah tidak cukup hanya menjaga jadwal kegiatan dan produktivitas lahiriah, tetapi juga perlu memiliki kebiasaan ruhiyah yang secara terus-menerus menghubungkan dirinya dengan Allah Swt.
Allah memberikan petunjuk yang sangat jelas tentang hubungan dzikir dan kehidupan hati melalui firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dzikir bukan sekadar aktivitas lisan yang dilakukan karena kebiasaan. Ia merupakan proses menghadirkan kembali Allah dalam kesadaran manusia, sehingga seorang hamba tidak hanya menyebut nama-Nya dengan lidah tetapi juga mengingat pengawasan-Nya ketika bekerja, mengingat kebesaran-Nya ketika memperoleh nikmat. Dengan dzkir seorang aktivis akan, mengingat pertanggungjawaban kepada-Nya ketika menerima amanah, dan mengingat rahmat-Nya ketika sedang mengalami kesulitan.
Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risālat al-Mu’āwanah menjelaskan kedudukan dzikir sebagai salah satu jalan penting untuk menghidupkan hati dan membersihkan kelalaian:
“Hendaklah engkau membasahi lisanmu dan memenuhi batinmu dengan senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. dalam setiap keadaan, dzikir adalah kunci pembuka pintu-pintu kedekatan dengan Allah, penghidup hati yang mati, dan pembersih karat-karat kelalaian dari dalam dada, hati yang sunyi dari dzikir adalah hati yang terlantar dan mudah dikuasai oleh setan.”
Bagi seorang aktivis dakwah, kebutuhan terhadap dzikir bahkan menjadi semakin penting karena semakin besar aktivitas seseorang di ruang publik, semakin besar pula kemungkinan dirinya terpapar oleh pujian, kritik, persaingan, popularitas, dan berbagai bentuk keterikatan duniawi yang dapat menggeser orientasi hati tanpa disadari.
Dzikir membantu seorang aktivis kembali kepada pertanyaan paling dasar, yaitu untuk siapa semua ini dilakukan, karena seseorang yang sering mengingat Allah akan lebih mudah mengingat bahwa manusia bukanlah tujuan akhir dakwah, pujian bukanlah ukuran keberhasilan, jabatan bukanlah kemuliaan mutlak. Kesuksesan materi (duniawi) bukanlah ukuran diterimanya amal.
Dzikir juga membuat seseorang memiliki ruang batin untuk berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Ketika lisan dan hati dibiasakan menyebut Allah, manusia mendapatkan kesempatan untuk melepaskan sejenak berbagai beban yang selama ini menguasai pikirannya. Dzikir bisa mengembalikan pusat kehidupannya kepada Rabb yang menciptakannya.
Aktivis dakwah membutuhkan kebiasaan dzikir yang berkesinambungan, baik melalui dzikir pagi dan petang, al-Ma’tsurat, istighfar, shalawat, membaca Al-Qur’an, doa-doa yang ma’tsur, maupun berbagai bentuk dzikir yang sesuai dengan tuntunan syariat. Semua itu harus diarahkan kepada satu tujuan penting, yaitu menghidupkan kesadaran hati kepada Allah.
Dzikir yang dilakukan tanpa penghayatan memang tetap memiliki nilai, selama dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Tetapi, bagi seorang aktivis perlu bergerak lebih jauh, dengan berusaha memahami apa yang diucapkannya. Ketika ia mengucapkan astaghfirullah dengan kesadaran, ia sedang mengakui kekurangan dirinya. Ketika seorang aktivis dakwah mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah, ia sedang mengakui bahwa kekuatan dirinya tidak ada artinya tanpa (dukungan dan keridhaan) Allah.
Pada titik ini kita memahami bahwa dzikir bukan aktivitas tambahan yang hanya dilakukan ketika seseorang memiliki waktu luang. Dzikir salah satu sumber daya ruhiyah yang membuat seorang aktivis mampu menjalankan aktivitas dakwah dalam jangka panjang tanpa kehilangan hubungan dengan Allah. Manusia yang terus memberi tanpa memperbarui hubungan dengan sumber kekuatan, akan rapuh dan mudah mengalami kekeringan.
Jika hati mulai keras, perbanyak dzikir. Jika semangat mulai turun, periksa hubungan dengan Allah. Jika pujian mulai terasa sangat penting, perbanyak mengingat kematian dan akhirat. Jika kritik manusia mulai terlalu menyakitkan, kembalikan perhatian kepada penilaian Allah. Jika dunia mulai terlalu menguasai pikiran, perbanyak dzikir yang mengingatkan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih kekal.
Dengan demikian, dzikir bukan sekadar membuat hati tenang, tetapi membantu hati kembali memiliki arah. Hati yang memiliki arah akan lebih mudah melahirkan militansi yang sehat. Ia tidak lagi bekerja untuk mendapatkan pengakuan manusia, melainkan bekerja sebagai seorang hamba yang berharap kepada rida Allah.
Hati yang sering mengingat Allah akan lebih sulit diperbudak oleh dunia. Hanya aktivis yang tidak diperbudak dunia, akan lebih siap memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk kebaikan di jalan Allah. (im)







