Kehidupan ruhiyah seorang aktivis dakwah tidak dapat dibangun hanya dengan rasa takut (khauf) dan tidak pula cukup dengan rasa berharap (raja’). Jika rasa takut berdiri sendirian seseorang dapat terjebak dalam keputusasaan. Sebaliknya, jika rasa berharap berdiri sendiri tanpa rasa takut, seseorang dapat merasa terlalu aman sehingga meremehkan dosa dan menganggap amalnya pasti diterima.
Allah Swt. menggambarkan orang-orang beriman sebagai manusia yang hatinya bergetar ketika nama-Nya disebut:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2).
Ayat ini menunjukkan bahwa rasa gentar kepada Allah merupakan bagian dari kehidupan iman. Disisi lain dalam ayat yang sama, menyebutkan bertambahnya iman dan tawakal, sehingga rasa takut seorang mukmin tidak pernah dimaksudkan untuk membuatnya berhenti berjalan, melainkan untuk membuatnya berjalan dengan kesadaran, kehati-hatian, dan ketergantungan kepada Allah.
Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn memberikan penjelasan tentang keseimbangan khauf dan raja’, sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa khauf (rasa takut) dan raja’ (rasa harap) adalah dua cambuk Rabbani yang mengendalikan jiwa manusia, apabila rasa takut dominan secara berlebihan tanpa diimbangi rasa harap, ia akan membawa seseorang pada keputusasaan dari rahmat Allah, sebaliknya apabila rasa harap dominan tanpa rasa takut, ia akan membuat seseorang merasa aman dari ancaman Allah dan gampang meremehkan maksiat, jiwa pejuang yang sehat adalah jiwa yang menggabungkan keduanya: ia takut amalnya ditolak karena kekurangannya, seraya berharap penuh bahwa rahmat Allah akan mengampuni keterbatasannya.”
Seorang aktivis dakwah yang sehat secara ruhiyah tidak merasa dirinya sudah aman hanya karena telah lama berada dalam dunia dakwah. Lamanya seseorang dalam perjalanan tidak menjamin kualitas akhir perjalanannya. Hal ini sebagaimana banyaknya amal juga tidak boleh membuat seseorang merasa dirinya merasa lebih baik daripada orang lain.
Semakin besar tanggung jawab seorang aktivis, semestinya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah. Hal ini bukan karena ia merasa tidak mampu, tetapi karena ia menyadari bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan, setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan setiap amal membutuhkan keikhlasan agar memiliki nilai di sisi Allah.
Pada saat yang sama, seorang aktivis tidak boleh tenggelam dalam rasa takut sehingga merasa tidak layak kembali kepada Allah. Ia selalu ingat, Allah membuka pintu taubat bagi hamba-Nya dan menjanjikan rahmat bagi mereka yang kembali. Khauf harus mendorong taubat, bukan keputusasaan.
Disinilah khauf dan raja’ bekerja secara bersama-sama. Khauf berkata, “Jangan merasa aman dengan amalmu,” sedangkan raja’ berkata, “Jangan berputus asa dari rahmat Allah,” sehingga keduanya menjaga manusia agar tidak terjatuh ke dalam kesombongan spiritual maupun keputusasaan spiritual.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah ketika menjelaskan wajilat qulūbuhum menekankan bahwa getaran hati tersebut berkaitan dengan kesadaran terhadap keagungan Allah sekaligus keterbatasan manusia, sehingga rasa gentar seorang mukmin bukan rasa takut yang menghancurkan harapan, tetapi rasa hormat mendalam yang membuatnya semakin menjaga amal dan keikhlasannya.
Keseimbangan tersebut sangat penting dalam membangun militansi. Aktivis yang hanya memiliki rasa percaya diri dapat berubah menjadi sombong. Aktivis yang hanya memiliki rasa takut dapat kehilangan daya juang. Sedangkan aktivis yang menggabungkan khauf dan raja’ akan bekerja dengan sungguh-sungguh sambil tetap menyadari bahwa pertolongan dan penerimaan amal sepenuhnya berada di tangan Allah.
Maka ketika kita selesai menjalankan sebuah amanah, jangan buru-buru merasa hebat, tetapi tanyakan apakah amanah itu telah dilakukan dengan ikhlas. Sebaliknya, ketika kita gagal dalam sebuah perjuangan, jangan buru-buru merasa semuanya berakhir dan sia-sia, , tetapi tanyakan apa yang dapat dipelajari dan bagaimana kita dapat kembali melangkah dengan pertolongan Allah.
Hati yang hidup bukan hati yang selalu merasa aman, tetapi hati yang selalu waspada terhadap kekurangannya sekaligus tidak pernah kehilangan harapan kepada rahmat Allah. (im)






