Ad Hominem: Ketika Kita Menyerang Personal, Bukan Argumennya

by -1305 Views

Dalam sebuah perdebatan, terkadang seseorang tidak membantah apa yang dikatakan lawannya, tetapi justru menyerang siapa yang mengatakannya. “Tidak perlu mendengarkan pendapatnya, dia memang tidak paham.” “Bagaimana mungkin kita menerima nasihat darinya, sementara dirinya sendiri belum baik?” “Pendapat itu pasti salah karena datang dari kelompok tersebut.” 

Kalimat seperti ini mungkin terdengar meyakinkan, tetapi belum menjawab persoalan utama: apakah argumennya benar atau salah?

Dalam tradisi Ilmu Mantiq dan Adab al-Bahth wa al-Munazharah, pola seperti ini termasuk al-maghalathah, yaitu kerancuan dalam penalaran. Salah satu bentuknya adalah al-tha‘n fi al-qā’il, yaitu mencela orang yang menyampaikan pendapat, lalu menjadikan celaan tersebut sebagai alasan untuk menolak pendapatnya. 

Kesalahannya terjadi ketika pembicaraan berpindah dari hujjah kepada pribadi, sementara bukti terhadap argumentasi tidak pernah diperiksa.

Menguji Hujjah, Bukan Menilai Siapa yang Mengucapkannya

Mantiq mengajarkan bahwa sebuah argumen harus diperiksa berdasarkan materi atau premisnya (māddah) dan bentuk penalarannya (ṣūrah). Apakah premisnya benar? Apakah hubungan antara premis dan kesimpulan sah? Apakah bukti yang digunakan relevan dengan persoalan? Inilah yang seharusnya menjadi pusat perhatian dalam pembahasan ilmiah.

Jika seseorang menyampaikan proposisi yang benar, kebenaran itu tidak berubah menjadi salah hanya karena orang tersebut memiliki kekurangan. Sebaliknya, perkataan orang yang dikenal baik tidak otomatis benar hanya karena keluar dari mulutnya. 

Dalam Islam dikenal prinsip, “I‘rif al-haqq ta‘rif ahlahu”, kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali siapa yang berada di atas kebenaran. Prinsip ini bukan berarti kita mengabaikan ulama, guru, atau ahli. Otoritas keilmuan tetap penting, tetapi otoritas seseorang tidak boleh menggantikan pemeriksaan terhadap dalil.

Ad hominem dapat muncul dalam beberapa bentuk:

  • Pertama, serangan pribadi langsung, seperti mencela kecerdasan, akhlak, latar belakang, status sosial, atau karakter seseorang untuk menolak pendapatnya. 
  • Kedua, tu quoque, yaitu menjawab sebuah nasihat dengan mengatakan, “Anda sendiri belum melakukannya.” Seseorang mungkin memang belum sempurna dalam mengamalkan apa yang ia katakan, tetapi hal itu tidak otomatis membuktikan bahwa nasihatnya salah. 
  • Ketiga, merusak reputasi sebelum argumen dibahas, sehingga pendengar sudah diarahkan untuk menolak suatu pendapat sebelum memeriksa isinya.

Namun, kita perlu membedakan antara ad hominem dan informasi pribadi yang memang relevan. Kompetensi seseorang dapat penting ketika kita menilai kesaksiannya sebagai ahli. Konflik kepentingan juga dapat menjadi informasi yang relevan ketika menilai kredibilitas sebuah klaim. 

Apa yang menjadi kesalahan adalah ketika kelemahan atau keadaan pribadi seseorang dijadikan pengganti bukti untuk membantah proposisi yang sedang dibahas.

Mengembalikan Perdebatan kepada Mahall al-Nizā‘

Dalam dakwah dan kehidupan organisasi, ad hominem sangat berbahaya karena dapat mematikan budaya belajar. 

Ketika seseorang menyampaikan kritik terhadap suatu kebijakan, kita mungkin lebih dahulu bertanya, “Siapa dia?” daripada, “Apa isi kritiknya?” Ketika seseorang memberikan masukan, kita sibuk mengingat kesalahan masa lalunya, padahal sebagian masukannya mungkin benar. Akibatnya, organisasi kehilangan kesempatan memperbaiki diri hanya karena kritik datang dari orang yang tidak kita sukai.

Karena itu, ketika menghadapi serangan ad hominem, pembicaraan perlu dikembalikan kepada maḥall al-nizā‘, yaitu titik persoalan yang sebenarnya diperdebatkan. Tanyakan: “Bagian mana dari premis saya yang salah?” atau “Bukti apa yang menunjukkan bahwa kesimpulan saya tidak mengikuti premis?” Pertanyaan tersebut mengembalikan diskusi dari pribadi kepada argumentasi. Jika lawan memiliki bukti bahwa argumen kita salah, mari kita periksa. Tetapi celaan terhadap pribadi tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan ilmiah.

Disinilah Mantiq bertemu dengan tazkiyatun nafs. Ad hominem sering muncul bukan karena kita tidak mampu berpikir, tetapi karena kita ingin menang. Kita merasa lebih mudah menjatuhkan orang daripada membantah argumennya. 

Padahal, seorang penuntut ilmu harus mampu menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak ia sukai, dan menolak kesalahan meskipun datang dari orang yang ia hormati.

Maka, sebelum menyerang seseorang, mari kita bertanya: Apakah saya sedang membantah argumennya, atau sedang mencari kelemahan dirinya? Apakah saya sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari alasan untuk menolaknya?

Mantiq mengajarkan kita menguji hujjah. Tazkiyah mengajarkan kita membersihkan niat ketika menguji hujjah. Adab mengajarkan bahwa membantah pendapat tidak mengharuskan kita merendahkan orang yang menyampaikannya. Kritiklah argumentasinya, periksa buktinya, luruskan kekeliruannya, tetapi tetap hormati manusia yang sedang kita ajak mencari kebenaran.(im)

Daftar Pustaka

  1. Al-Ghazali, Abu Hamid. Mi‘yār al-‘Ilm fī Fann al-Manṭiq. Beirut: Al-Maktabah al-‘Ashriyyah.
  2. Al-Katibi al-Qazwini, Najm al-Din ‘Ali ibn ‘Umar. Al-Shamsiyyah fī al-Qawā‘id al-Manṭiqiyyah, dengan kajian Dr. Mahdi Fadlallah.
  3. Al-Malawi, Shihabuddin Ahmad Abdul Fattah. Al-Sharḥ al-Kabīr ‘alā al-Sullam al-Munawraq fī ‘Ilm al-Manṭiq.
  4. Al-Sanusi al-Hasani, Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Yusuf. Matn Mukhtaṣar al-Manṭiq.
  5. Al-Razi, Qutb al-Din. Taḥrīr al-Qawā‘id al-Manṭiqiyyah fī Sharḥ al-Risālah al-Shamsiyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.