Kontekstualisasi dan Anatomi Tadabbur Surat Al-Fathir Ayat 28

by -1263 Views

Apabila kita mengamati bentangan alam semesta—mulai dari tingginya guratan pegunungan, beragamnya flora dan fauna, hingga variasi warna kulit, bahasa, serta peradaban manusia—kita sedang dihadapkan pada lembaran-lembaran kitab terbuka (ayat kauniyyah) yang menuntut perenungan mendalam. 

Al-Qur’anul Karim mengarahkan pandangan manusia untuk tidak sekadar melihat fenomena alam sebagai objek geologis atau biologis yang dingin dan kaku. Semua itu, sarana edukasi jiwa (tarbiyah ruhiyyah) untuk mengenali Kemahaagungan Sang Pencipta.

Sebelum Allah SWT menegaskan kedudukan ulama dalam Surat Al-Fathir ayat 28, Al-Qur’an terlebih dahulu mengarahkan perhatian kita pada ayat sebelumnya (ayat 27) yang menggambarkan keanekaragaman ciptaan-Nya di alam semesta:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka ragam warnanya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS. Al-Fathir: 27)

Kemudian dilanjutkan pada awal ayat 28:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ…

“Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya)…” (QS. Al-Fathir: 28)

Pertautan antara fenomena alam dan penegasan tentang ulama dalam dua ayat ini mengandung pesan metodologis (manhaj) yang sangat kuat. Penjelajahan sains, pengamatan ilmiah, serta riset terhadap hukum-hukum alam (sunnatullah) bukanlah aktivitas sekuler yang terpisah dari ibadah. Sebaliknya, riset ilmiah yang jujur dan obyektif merupakan tangga intelektual untuk sampai pada puncak ma’rifatullah (pengenalan kepada Allah).

Pengamatan terhadap keanekaragaman gunung, tanaman, dan jenis manusia mendidik akal agar tidak berpikiran sempit (narrow-minded). Sebagaimana Allah menciptakan warna-warni tanah dan bukit yang indah dalam perbedaannya, Allah juga menciptakan keragaman potensi, pemikiran, dan latar belakang manusia. 

Intelektual sejati yang memahami rahasia keragaman ini tidak akan bersikap arogan atau memaksakan keseragaman secara kaku. Ia akan memandang semua itu sebagai bentangan tanda-tanda kekuasaan Allah yang melahirkan rasa takjub dan kerendahan hati.

Analisis Makna Hasr (Innama) dan Khasyyah

Setelah memaparkan keagungan ciptaan-Nya di alam raya, Al-Qur’an menarik sebuah konklusi yang sangat monumental dalam lanjutan Surat Al-Fathir ayat 28:

…إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“…Sungguh, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Fathir: 28)

Secara kaidah kebahasaan (qawa’id al-lughah), penggunaan struktur innama memberikan makna al-hasr wa al-qasr (pembatasan dan pengkhususan). Artinya, rasa takut dan pengagungan yang sejati kepada Allah (khasyyah) secara hakiki hanya dimiliki oleh orang-orang yang berilmu (ulama). 

Sebaliknya, kita bisa memahami, orang-orang yang mengaku berilmu tetapi ilmu yang dimilikinya tidak melahirkan rasa takut, ketundukan, dan kebersihan jiwa di hadapan Allah, maka secara hakikat Al-Qur’an, ia belum layak disematkan gelar sebagai ulama sejati.

Para ulama tafsir memberikan kejelasan mendasar mengenai hakikat khasyyah dalam ayat ini.

Di dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, Imam Ibnu Katsir menjelaskan pembeda antara Khauf dan Khasyyah. Beliau menegaskan, khasyyah berbeda dengan khauf biasa. Khauf adalah rasa takut yang timbul akibat kelemahan diri saat berhadapan dengan bahaya, sedangkan khasyyah adalah rasa takut yang lahir dari kedalaman pengetahuan (al-‘ilm) tentang keagungan, kekuasaan, dan kesempurnaan sifat-sifat Allah. Semakin sempurna pengetahuan seorang hamba tentang Allah, semakin besar pula rasa takut dan hormatnya kepada-Nya.

Sedangkan, Sayyid Quthub menjelaskan korelasi ilmu dan jiwa. Di dalam Fi Dzilal al-Qur’an, ia menegaskan bahwa ilmu yang melahirkan khasyyah bukanlah sekadar tumpukan teori atau hafalan teks yang berhenti di kepala. Ilmu sejati adalah ilmu yang mampu menggetarkan jiwa, membuka mata hati (basirah), serta menyadarkan manusia akan kekerdilannya di hadapan jagat raya dan Sang Pencipta.

Dalam tafsir Al-Tafsir al-Munir,  Wahbah Az-Zuhaili memaparkan, konteks ayat ini mencakup para peneliti alam semesta (ilmuwan sains) sekaligus para pengkaji syariat. Islam tidak mengenal dikotomi sakral-profan yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Siapapun yang meneliti kebenaran—baik melalui ayat-ayat qawliyyah (Al-Qur’an) maupun ayat-ayat kauniyyah (alam semesta)—dan penelitiannya itu memandu jiwanya pada ketundukan tauhid, maka dialah ulama Rabbani yang dimaksud oleh ayat ini.

Dengan demikian, redefinisi ulama Rabbani menuntut adanya penggabungan antara kecerdasan intelektual (at-tafakkur) dan kesucian rohani (at-tazkiyah). Ilmu tanpa penyucian jiwa hanya akan membuahkan keangkuhan akademis dan kerusakan tatanan hidup masyarakat.

Keseimbangan Sifat ‘Azizun Ghafur

Bagian penutup dari Surat Al-Fathir ayat 28 diakhiri dengan dua asmaul husna yang sangat anggun: “Innahallaaha ‘Aziizun Ghafuur” (Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun). 

Penggalan ayat ini menyajikan fondasi psikologis dan spiritual yang sangat seimbang bagi para pemilik ilmu dalam mengemban amanah pencerahan umat.

Kesadaran akan Kemahaperkasaan Allah (Al-‘Aziz) mendidik para ulama dan intelektual agar terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum pada diri sendiri) dan sombong intelektual. Betapapun tingginya gelar akademis, luasnya hafalan, atau canggihnya karya ilmiah yang dihasilkan, manusia tetaplah hamba yang lemah di hadapan Allah Yang Maha Perkasa. Rasa takut kepada Al-‘Aziz melahirkan keteguhan prinsip (at-tsabat) saat membela kebenaran, serta mencegah ulama dari sikap menggadaikan ilmu demi kenikmatan duniawi atau sekadar menyenangkan pihak yang berkuasa.

Asma Al-Ghafur memberikan kehangatan jiwa dan pintu taubat bagi para penuntut ilmu. Proses menuntut ilmu dan berdakwah tidak pernah sepi dari kekhilafan, keterbatasan pandangan, maupun dinamika ijtihad. Sifat Allah yang Maha Pengampun menumbuhkan dorongan untuk selalu bermuhasabah (self-reflection), meluruskan niat (islaḥ an-niyyah), serta memohon ampunan atas segala kekurangan diri.

Tadabbur atas sifat ‘Azizun Ghafur seharusnya menjadi obat penawar bagi penyakit perselisihan di antara sesama sarjana dan dai muslim. Badr al-Din Ibn Jama’ah dalam Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim mengingatkan bahwa adab teragung seorang ulama adalah kelembutan hati, kesantunan dalam menyampaikan pendapat, serta rasa kasih sayang kepada sesama kaum beriman.

Sangat tragis apabila ilmu yang seharusnya melahirkan khasyyah justru memicu perdebatan kusir, saling menyesatkan (tadbdi’), atau merasa paling benar sendiri (self-righteousness) dalam masalah-masalah perbedaan ijtihad (furu’iyyah). 

Ulama Rabbani yang jiwanya telah disucikan (tertazkiyah) akan memandang perbedaan pemikiran di antara para dai sebagai khazanah rahmat dan lapangan sinergi, bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan (silaturrahim).

Kebutuhan terbesar umat Islam hari ini bukanlah menambah daftar percekcokan di panggung publik, melainkan merapatkan barisan keilmuan untuk membangun kembali peradaban yang adil, sejahtera, dan bermartabat. 

Kebangkitan peradaban Rabbani hanya akan terwujud tatkala para ulamanya memiliki ketajaman intelek yang dibalut keheningan khasyyah, serta keluasan dada yang dipenuhi semangat wihdatul ummah (persatuan umat). (im)

Daftar Pustaka

  1. Ibnu Katsir, Imaduddin Abul Fida’. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (تفسير القرآن العظيم). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  2. Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj (التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج). Damaskus: Dar al-Fikr.
  3. Qutb, Sayyid. Fi Dzilal al-Qur’an (في ظلال القرآن). Kairo: Dar ash-Syuruq.
  4. Hawwa, Said. Al-Asas fi at-Tafsir (الأساس في التفسير) & Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah (تربيتنا الروحية). Kairo: Dar as-Salam.
  5. Ibn Jama’ah, Badr al-Din / Al-Arfaj, Abdul Ilah. Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (تذكرة السامع والمتكلم في أدب العالم والمتعلم). Amman: Dar al-Fath.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.