Sejak Awal Kelahirannya, Ummat Islam Adalah Kaum Intelektual

by -1245 Views

Sebelum fajar Islam terbit di Jazirah Arab, masyarakat jahiliyah hidup dalam kegelapan literasi dan keterbelakangan intelektual. Tradisi ilmiah, riset empiris, dan pembukuan ilmu pengetahuan hampir tidak dikenal di kalangan bangsa Arab saat itu; kebanggaan mereka hanya terbatas pada hafalan syair, fanatisme kesukuan (‘ashabiyyah), serta mitologi keagamaan yang kabur. 

Bangsa Arab dijuluki sebagai ummiyyun—sebuah masyarakat yang tidak membaca dan tidak menulis. Namun, peta peradaban dunia berubah secara drastis ketika malaikat Jibril turun di Gua Hira membawa ayat-ayat pertama dari Al-Qur’anul Karim.

Peristiwa turunnya lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq merupakan momentum paling bersejarah yang menandai lahirnya peradaban intelektual baru bagi umat manusia, bukan sebatas bangsa Arab:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pengatara jemari pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Wahyu pertama ini membawa implikasi filosofis yang sangat mendalam. Allah SWT tidak memulai risalah akhir zaman ini dengan perintah shalat, zakat, atau perjuangan politik, melainkan dengan perintah membaca (Iqra) dan penegasan fungsi pena (al-qalam). 

Perintah Iqra’ yang bersifat universal, menuntut manusia untuk membaca dua kitab Allah secara bersamaan: ayat-ayat qawliyyah (wahyu tertulis) dan ayat-ayat kauniyyah (alam semesta dan fenomena kemanusiaan).

Penyebutan Al-Qalam (pena) menegaskan bahwa Islam memotori revolusi literasi. Pena adalah instrumen pengikat ilmu pengetahuan agar tidak musnah ditelan zaman. Dari masyarakat Arab yang semula buta huruf, Islam membentuk sebuah umat yang berpusat pada tradisi teks, riset, pencatatan data, serta pengkajian kritis. 

Dalam kurun waktu beberapa dekade saja, semangat Iqra’ ini mentransformasi para gembala unta menjadi pimpinan peradaban, pembangun perpustakaan-perpustakaan terbesar dunia, dan pelopor berbagai disiplin sains yang menerangi kegelapan era Abad Pertengahan di Eropa.

Membangun Tradisi Baca-Tulis, Riset, dan Verifikasi Data: Kedudukan Ilmu dalam Tatanan Islam

Islam memandang pencarian ilmu pengetahuan bukan hanya pemenuhan hasrat intelektual atau aksesoris kehidupan duniawi semata. Upaya pencairan ilmu pengetahuan dinilai sebagai bentuk ibadah yang paling utama dan sarana mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. 

Rasulullah SAW membangun fondasi masyarakat Madinah diatas tradisi ilmiah yang kokoh, dimana kegiatan belajar-mengajar dijadikan pilar kebangkitan sosial dan strategi perjuangan utama.

Para ulama klasik merekam betapa tingginya apresiasi Islam terhadap tradisi baca-tulis, riset, dan verifikasi data (at-tatsabbut). Setidaknya, peradaban ilmiah Islam bisa dilihat dari 3 warisan ini:

  • Verifikasi dan Metodologi Ilmiah (At-Tatsabbut wa ad-Dirayah): Islam adalah agama pertama yang meletakkan dasar-dasar verifikasi data yang ketat (manhaj ilmiah). Melalui ilmu hadits dan sanad, para ulama mengembangkan metode transmisi informasi yang presisi, pengujian kredibilitas perawi (jarh wa ta’dil), serta pemisahan antara fakta objektif dan klaim palsu. Allah SWT berfirman: “Apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (fatanayyannu)…” (QS. Al-Hujurat: 6). Budaya kritis dan tabayun inilah yang melahirkan kejujuran akademis dalam tradisi keilmuan Islam.
  • Keutamaan Menulis dan Menyusun Karya Ilmiah: Sebagaimana ditekankan oleh Ibn Abd al-Barr dalam Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadlihi, para salafus shalih mengibaratkan ilmu sebagai hewan buruan, sedangkan tulisan adalah tali pengikatnya (al-‘ilmu shaidun wa al-kitabatu qaiduhu). Tradisi membukukan ilmu (at-tashnif) dipandang sebagai sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga hari kiamat.
  • Integrasi Pengetahuan dan Tindakan: Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Tafsir al-Munir memaparkan bahwa tatanan syariat memandang ilmu dan amal sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu dituntut untuk memandu tindakan, dan tindakan dituntut untuk berlandaskan pada kebenaran ilmiah yang shahih.

Dengan demikian, umat Islam secara historis dan teologis adalah umat intelek—umat yang dibangun di atas fondasi literasi, kecintaan pada riset, dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap kebenaran ilmiah.

Derajat Keilmuan, Muhasabah Jiwa, dan Ukhuwah Intelektual

Kemuliaan kedudukan para pemilik ilmu dalam tatanan Islam ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karim:

…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“…Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa pengangkatan derajat ini mencakup kemuliaan di dunia berupa penghormatan dan peran kepemimpinan spiritual, serta kemuliaan di akhirat berupa kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Ketinggian derajat ini berbanding lurus dengan beratnya amanah moral yang harus dipikul oleh para intelektual muslim.

Dalam perspektif tazkiyatun nafs dan ukhuwah Islamiyah, pengagungan terhadap ilmu harus disertai dengan penyucian jiwa dan penjagaan adab. Sejak dini Islam pun mengingatkan 3 hal prinsipil ini dalam kegiatan penuntut ilmu.

  1. Bahaya Kesombongan Akademis dan Penyucian Niat (Islaḥ an-Niyyah). Badr al-Din Ibn Jama’ah dalam Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim mengingatkan bahwa ujian terbesar para penuntut ilmu dan kaum intelek adalah godaan risywah intelektual, al-‘ujub (kagum pada kecerdasan diri), serta keinginan untuk dipuji dan unggul di majelis-majelis perdebatan. Ilmu yang dicari demi kemegahan duniawi atau popularitas (syuhrah) hanya akan membuahkan kehampaan rohani dan siksaan di akhirat. Penyucian niat agar ilmu murni dipersembahkan demi meraih keridaan Allah (li wajhillah) merupakan syarat mutlak bagi keberkahan ilmu.
  2. Menjaga Kehormatan Ilmu dan Sikap Tawadhu‘.  Ulama Rabbani adalah mereka yang semakin bertambah ilmunya, semakin merunduk dan bertambah pula kerendahan hatinya (tawadhu’). Mereka tidak segan untuk mengakui keterbatasan diri dan mengucapkan “aku tidak tahu” (la adri) dalam hal-hal yang belum mereka kuasai. Mereka memandang ilmu sebagai amanah pencerahan umat, bukan sebagai alat untuk merendahkan sesama atau memperagakan superioritas intelektual.
  3. Ukhuwah Intelektual dan Kesatuan Umat (Wihdatul Ummah). Ditengah keragaman ijtihad dan mazhab pemikiran, para sarjana dan dai muslim hendaknya mengedepankan etika persaudaraan. Perbedaan pandangan ilmiah dalam masalah-masalah cabang (furu’iyyah) tidak boleh dijadikan alasan untuk saling memusuhi, menjatuhkan martabat, atau memecah belah keutuhan umat Islam.

Umat Islam tidak akan mampu mengembalikan kejayaan peradabannya selama para penuntut ilmunya masih terjebak dalam egosentrisme kelompok dan percekcokan sektarian. Sudah saatnya potensi intelektual seluruh elemen umat disinergikan dalam semangat wihdatul ummah—menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana membangun kembali tatanan dunia yang beradab, adil, dan dipenuhi oleh rahmat ilahi. (im)

Buku Rujukan

  1. Ibn Abd al-Barr, Abu Umar Yusuf. Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadlihi (جامع بيان العلم وفضله). Beirut: Dar Ibn Hazm.
  2. Ibn Jama’ah, Badr al-Din / Al-Arfaj, Abdul Ilah. Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (تذكرة السامع والمتكلم في أدب العالم والمتعلم). Amman: Dar al-Fath.
  3. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Ihya’ ‘Ulumuddin (إحياء علوم الدين). Beirut: Dar al-Ma’rifah.
  4. Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa asy-Syari’ah wa al-Manhaj (التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج). Damaskus: Dar al-Fikr.
  5. Ibnu Katsir, Imaduddin Abul Fida’. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (تفسير القرآن العظيم). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.