Gerakan Perlawanan: HAMAS dan Navigasi Geopolitik Timur Tengah

by -1329 Views

Perjuangan Palestina tidak berlangsung dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah panjang pengusiran, pendudukan, perebutan wilayah, dan kegagalan berbagai upaya politik untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina. 

Dibalik konflik yang kerap ditampilkan sebagai benturan dua pihak, terdapat konfigurasi kekuatan regional dan internasional yang jauh lebih kompleks. Kepentingan negara-negara Arab, persaingan kekuatan Timur Tengah, kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya, serta hubungan antara gerakan perlawanan dan aktor-aktor internasional ikut menentukan arah perjuangan Palestina.

Dalam konfigurasi tersebut, Hamas menempati posisi yang penting. Gerakan ini tidak hanya menjadi salah satu aktor utama dalam perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel, tetapi juga bagian dari dinamika politik kawasan yang melibatkan berbagai kepentingan dan aliansi. 

Untuk memahami Hamas, karena itu, diperlukan pembacaan yang melampaui penilaian sederhana tentang organisasi tersebut. Sejarah kelahirannya, basis sosialnya, pilihan strateginya, serta hubungannya dengan kekuatan regional perlu ditempatkan dalam konteks persoalan Palestina dan perubahan geopolitik Timur Tengah.

Dari Gerakan Sosial ke Aktor Politik dan Perlawanan

Hamas tumbuh dari lingkungan gerakan Islam Palestina yang memiliki hubungan historis dengan Ikhwanul Muslimin. Organisasi ini muncul secara terbuka pada awal Intifada Pertama pada 1987, ketika perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel memasuki babak baru. 

Sejak awal, Hamas menggabungkan aktivitas sosial, tarbiyah, dakwah, dan politik dengan perlawanan terhadap pendudukan. Perpaduan tersebut membentuk karakter organisasi sekaligus mempengaruhi cara Hamas membangun dukungan ditengah masyarakat Palestina.

Perkembangannya tidak dapat dilepaskan dari perubahan lanskap politik Palestina. Perjanjian Oslo pada dekade 1990-an membuka jalan bagi diplomasi dan pembentukan otoritas pemerintahan Palestina. Perjanjian ini tidak menghasilkan penyelesaian yang bisa mengakhiri pendudukan, atau mewujudkan negara Palestina yang berdaulat. 

Kekecewaan terhadap perjanjian tersebut menjadi salah satu konteks yang mempengaruhi posisi Hamas. Popularitas perlawanan kian tumbuh, setelah sebelumnya dukungan terhadap gerakan ini juga dibentuk oleh faktor sosial, politik, dan organisasi di tingkat lokal.

Kemenangan Hamas dalam pemilihan legislatif Palestina pada 2006 menjadi bukti, sekaligus  titik penting yang mengubah kedudukannya. Hamas tidak lagi hanya dipandang sebagai gerakan perlawanan, tetapi juga sebagai kekuatan politik yang memperoleh mandat elektoral. 

Lalu, konflik internal Palestina kemudian memuncak pada 2007, ketika Hamas mengambil alih kendali Gaza, sementara Fatah dan Otoritas Palestina tetap dominan di Tepi Barat. Sejak itu, fragmentasi politik Palestina menjadi salah satu persoalan mendasar yang mempengaruhi diplomasi, pemerintahan, dan strategi perjuangan Palestina.

Perubahan dokumen politik Hamas pada 2017, memperlihatkan upaya gerakan ini merumuskan kembali posisinya ditengah perkembangan regional dan internasional. Dokumen tersebut menerima pendirian negara Palestina di wilayah yang diduduki pada 1967 sebagai formula konsensus nasional, tanpa memberikan pengakuan terhadap Israel. 

Perubahan bahasa politik ini penting dibaca sebagai bagian dari perkembangan strategi dan komunikasi politik Hamas. Tentu saja, ini bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Hamas dalam Peta Geopolitik Timur Tengah

Posisi Hamas turut dibentuk oleh hubungan dengan negara-negara diluar Palestina. Iran menjadi salah satu sumber dukungan penting bagi kemampuan militer Hamas. Sekalipun hubungan keduanya tidak selalu identik dalam orientasi politik maupun kepentingan regional. 

Qatar memainkan peran melalui bantuan ke Gaza dan jalur diplomatik, sedangkan Turkiye memberikan dukungan politik terhadap perjuangan Palestina. Mesir memiliki posisi berbeda karena berbatasan langsung dengan Gaza dan memegang peran penting dalam urusan perlintasan, mediasi, serta pengelolaan ketegangan regional.

Hubungan-hubungan tersebut memperlihatkan bahwa ruang gerak Hamas tidak hanya ditentukan oleh kapasitas internalnya. Gerakan ini harus menavigasi kepentingan negara-negara yang memiliki agenda masing-masing. 

Dukungan dapat membuka ruang politik dan memperkuat kemampuan organisasi. Pada saat yang sama, juga menghadirkan ketergantungan, tekanan, dan konsekuensi diplomatik. Setiap perubahan hubungan antar negara berpotensi mempengaruhi posisi Hamas dan kondisi masyarakat Palestina.

Di sisi lain, dukungan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Israel—termasuk bantuan militer dan perlindungan diplomatik—merupakan unsur penting dalam struktur kekuatan yang menaungi konflik. Hubungan tersebut memperlihatkan ketimpangan kemampuan antara Israel dan kelompok-kelompok perlawanan Palestina, termasuk Hamas.

Sementara itu, normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel juga mengubah lingkungan strategis perjuangan Palestina. Situasi ini memperlihatakan kepentingan ekonomi dan keamanan regional tidak selalu sejalan dengan tuntutan politik Palestina.

Genosida yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023 dan penghancuran infrastuktur di Gaza yang berlangsung hingga saat ini, semakin menegaskan keterkaitan antara Gaza dan dinamika geopolitik kawasan. Dampaknya tidak terbatas pada konfrontasi militer, tetapi juga menyangkut krisis kemanusiaan, diplomasi, masa depan pemerintahan Gaza, dan perdebatan mengenai bentuk penyelesaian politik. 

Perkembangan tersebut menempatkan Hamas ditengah tekanan militer dan diplomatik yang besar. Masyarakat Palestina menanggung akibat langsung dari perang dan penghancuran yang semakin masif.

Membaca Perlawanan dalam Konteks Strategis

Buku kecil  ini menempatkan Hamas dalam sejarah perjuangan Palestina dan konfigurasi geopolitik Timur Tengah. Pembahasannya tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan seluruh persoalan menjadi pembenaran atau penolakan terhadap satu organisasi. 

Hamas perlu dipahami melalui asal-usulnya, basis sosialnya, keputusan politiknya, kapasitas militernya, serta hubungan yang dibangun dengan aktor regional dan internasional. 

Pada saat yang sama, gerakan ini tidak dapat dipisahkan dari persoalan yang lebih luas: pendudukan Israel, hak rakyat Palestina untuk menentukan masa depan mereka, dan kegagalan tatanan internasional dalam menghadirkan penyelesaian yang adil.

Salah satu persoalan utama yang akan dibahas adalah hubungan antara tujuan perjuangan dan pilihan strategi. Gerakan perlawanan beroperasi dalam situasi yang dibatasi oleh ketimpangan kekuatan, tekanan diplomatik, kepentingan sekutu, serta dinamika masyarakat yang diwakilinya. 

Keputusan strategis yang diambil perlawanan, tidak pernah berlangsung tanpa konsekuensi. Pilihan untuk membangun aliansi, mengikuti proses politik, mempertahankan kapasitas perlawanan, atau menghadapi tekanan internasional selalu berhubungan dengan perubahan situasi dan ruang gerak yang tersedia.

Persoalan tersebut semakin kompleks karena perjuangan Palestina menghadapi fragmentasi internal. Perbedaan antara Hamas dan Fatah, pemisahan pemerintahan Gaza dan Tepi Barat, serta persaingan pendekatan politik telah mempengaruhi kemampuan Palestina membangun posisi nasional yang terpadu. 

Tanpa memahami persoalan ini, analisis tentang Hamas akan mudah terjebak pada pembacaan yang hanya berpusat pada tindakan satu organisasi, sementara struktur konflik dan kepentingan aktor-aktor lain luput dari perhatian.

Dengan demikian, membaca Hamas berarti membaca salah satu simpul penting dalam persoalan Palestina, sekalipun bukan keseluruhan persoalan itu sendiri. Sejarah, politik, gerakan sosial, perlawanan, dan geopolitik saling bertaut dalam menentukan arah konflik. 

Melalui pendekatan tersebut, buku ini berusaha menjelaskan bagaimana Hamas bergerak diantara prinsip perjuangan, kebutuhan politik, keterbatasan kekuatan, dan perubahan lingkungan strategis Timur Tengah—serta bagaimana dinamika itu mempengaruhi masa depan perjuangan Palestina. (im)

Daftar Pustaka

  • Baconi, Tareq. (2018). Hamas Contained: The Rise and Pacification of Palestinian Resistance. Stanford, California: Stanford University Press. (Serta edisi terjemahan Hamás: Auge y pacificación de la resistencia palestina, 2021).
  • Khalidi, Rashid. (2020). The Hundred Years War on Palestine: A History of Settler Colonialism and Resistance, 1917–2017. New York: Metropolitan Books / Henry Holt and Company.
  • Saleh, Mohsen Mohammad. (2015). Al-Qadhiyyah Al-Filasthiniyyah: Backgrounds and History / Islamic Resistance Movement (Hamas): Studies of Thought and Experience. Beirut: Al-Zaytouna Centre for Studies & Consultations.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.