Khasyyah, Khasy’ah, dan Tsabat: Puncak Karakter Ulama Rabbani

by -1221 Views

Setelah pada bab sebelumnya kita menegaskan redefinisi ulama Rabbani sebagai pewaris nabi (Waratsatul Anbiya) yang menyatukan zikir, pikir, dan amaliah, maka pertanyaan mendasar berikutnya adalah: Apakah mahkota karakter utama yang membedakan ulama sejati dari sekadar pemilik wawasan akademis? 

Al-Qur’anul Karim menjawabnya secara tegas melalui konsep khasyyah—sebuah kondisi ruhiyah tertinggi yang menjadi muara dari seluruh aktivitas keilmuan.

Dalam tradisi penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), para ulama membedakan dengan sangat teliti antara rasa takut biasa (khauf) dan rasa takut yang dilandasi pengagungan ilahi (khasyyah). 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam, Madarij as-Salikin, memberikan penjelasan yang sangat mendalam:

“Khasyyah adalah rasa takut yang khusus, yang lahir dari kedalaman ma’rifat (pengetahuan) seseorang tentang Keagungan, Kemahahebatan, dan Kesempurnaan sifat-sifat Allah SWT. Perbedaan antara khauf dan khasyyah adalah bahwa khauf timbul dari kekhawatiran hamba akan kelemahan dirinya atau ancaman siksa, sedangkan khasyyah lahir dari pengagungan kepada Dzat yang ditakuti. Oleh karena itu, Allah mengkhususkan khasyyah hanya bagi para pemilik ilmu melalui firman-Nya: ‘Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama’ (Sungguh, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama).”

Khasyyah inilah yang membuahkan ketenangan jiwa dan kerendahan hati (khasy’ah) dalam seluruh gerak-gerik ulama Rabbani. Pengetahuan mereka yang luas tentang rahasia syariat dan hukum-hukum alam tidak melahirkan keangkuhan intelektual, melainkan getaran rohani yang membimbing mereka untuk selalu tertunduk tawadhu’ di hadapan Kebesaran Sang Pencipta.

At-Tsabat: Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Hantaman Badai Zaman

Konsekusensi logis dari bersemayamnya khasyyah di dalam dada seorang ulama Rabbani adalah lahirnya kejujuran intelektual dan keteguhan prinsip (at-tsabat). 

Ketika hati seseorang telah dipenuhi oleh rasa takut dan pengagungan mutlak hanya kepada Allah SWT, maka secara otomatis rasa takut kepada sesama makhluk—apakah itu penguasa yang zalim, tekanan opini publik, maupun ancaman kemiskinan—akan sirna dari jiwanya.

Sayyid Qutb dalam Fi Dzilal al-Qur’an menggambarkan karakter keteguhan ulama Rabbani ini dengan kalimat yang sangat indah:

“Ulama sejati yang hatinya dipenuhi khasyyatu-llah tidak akan pernah sanggup diperbudak oleh thagut, tidak tergoyahkan oleh bentakan kekuasaan, dan tidak tergiur oleh kemewahan materi. Mereka berdiri kokoh seperti gunung yang menjulang, menyuarakan kebenaran dan keadilan tanpa merasa gentar sedikit pun, karena di dalam dada mereka telah bersemayam Keagungan Allah yang mengerdilkan seluruh kekuatan duniawi.”

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Mukhtasar Minhaj al-Qasidin menegaskan bahwa ujian terbesar kejujuran intelektual seorang ulama adalah ketika ia berada di persimpangan antara mempertahankan kebenaran syariat atau mengorbankannya demi meraih keridaan manusia. 

Ulama Rabbani lebih memilih mengorbankan kesenangan sesaat demi menjaga kehormatan ilmu, sedangkan ulama oportunis (ulama su’) rela memutarbalikkan dalil demi memuaskan hawa nafsu dan kepentingan penguasa. 

Keteguhan prinsip (at-tsabat) inilah yang dalam sejarah perjuangan Islam menjadi benteng penyelamat otentisitas syariat dari upaya penyimpangan dan sekularisasi.

Istiqamah di Ranah Publik Maupun Privat

Karakter puncak seorang ulama Rabbani ditandai oleh keselarasan antara kehidupan publik dan kehidupan privatnya. Mereka bukan pribadi yang tampil memukau di atas mimbar dan majelis ilmu, namun lalai dan meremehkan syariat saat berada dalam keheningan sendirian.

Badr al-Din Ibn Jama’ah dalam Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim menekankan pentingnya kesadaran senantiasa diawasi Allah (muraqabah) sebagai ruh keteguhan ulama:

“Wajib bagi seorang alim untuk senantiasa melazimkan muraqabatullah (rasa diawasi oleh Allah) dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan, memelihara rasa takut kepada-Nya dalam setiap ucapan dan perbuatan, serta menjaga kehormatan ilmu dengan tidak merendahkannya di hadapan para pencari dunia.”

Sejalan dengan itu, Ibnu ‘Atha’illah As-Sikandari dalam Al-Hikam mengingatkan bahaya tersembunyi yang sering mengintai para pemilik ilmu melalui hikmahnya yang teramat indah:

“Maksiat yang melahirkan rasa hina dan kebutuhan pasrah kepada Allah, jauh lebih baik daripada ketaatan atau keilmuan yang melahirkan rasa sombong dan merasa diri lebih mulia.”

Khatimah
Di tengah gelombang fitnah akhir zaman yang ditandai oleh keterbelahan sosial dan krisis keteladanan, umat Islam sangat merindukan hadirnya ulama Rabbani yang berkarakter khasyyah dan tsabat. Kita membutuhkan intelektual yang tidak mudah diadu domba, tidak menjual ilmunya demi kepentingan politik praktis, dan tidak menjadikan mimbar dakwah sebagai arena menghujat sesama saudara seiman.

Jiwa yang telah disucikan (tertazkiyah) oleh khasyyah akan melahirkan kelapangan dada yang luar biasa. Ulama Rabbani memandang perbedaan pandangan dalam masalah-masalah ijtihadiyyah (furu’iyyah) dengan kearifan dan kasih sayang, bukan dengan kemarahan atau vonis penyesatan. Mereka menyadari bahwa tugas terbesar ulama saat ini adalah menyatukan potensi umat (wihdatul ummah) di atas landasan tauhid dan ukhuwah Islamiyah.

Mari kita jadikan khasyyah sebagai kompas penuntut ilmu: semakin tinggi ilmu yang kita raih, hendaknya semakin tunduk jiwa kita di hadapan Allah, semakin santun tutur kata kita kepada manusia, dan semakin erat genggaman tangan kita dalam merajut persaudaraan sesama kaum beriman. (im)

Rujukan

  1. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in (مدارج السالكين). Riyadh: Dar ash-Shimi’i.
  2. Qutb, Sayyid. Fi Dzilal al-Qur’an (في ظلال القرآن). Kairo: Dar ash-Syuruq.
  3. Ibn Jama’ah, Badr al-Din / Al-Arfaj, Abdul Ilah. Tadhkirat al-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (تذكرة السامع والمتكلم في أدب العالم والمتعلم). Amman: Dar al-Fath.
  4. Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah. Mukhtasar Minhaj al-Qasidin (مختصر منهاج القاصدين). Kairo: Maktabah Dar al-Bayan.
  5. As-Sikandari, Ibnu ‘Atha’illah / Al-Sharnubi, Abd al-Majid. Sharh al-Hikam al-Ata’iyyah (شرح الحكم العطائية). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.