PROLOG: Dari Generasi Buih menuju Generasi Al-Qur’an

by -1274 Views

Bismillahirrahmannirrahim. Segala puji bagi Allah SWT yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang konsisten menegakkan ikatan persaudaraan (ukhuwah) serta memelihara persatuan umat (wihdatul ummah) hingga akhir zaman.

Realitas pahit yang dialami umat Islam hari ini, kondisinya mirip dengan nubuwwah yang pernah disampaikan Nabi SAW. Namun, itu bukan menjadi alasan untuk saling menunjuk, menghakimi, atau pasrah meratapi keadaan. 

Umat ini adalah satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Oleh karena itu, kita seharusnya menatap fenomena zaman ini dengan kacamata tazkiyatun nafs, kesadaran tarbiyah, dan semangat dakwah untuk perbaikan (ishlah).

Fenomena Tada’il Umam dan al-Qash’ah

Buku kecil ini, ditulis dengan alasan utama untuk memahami realitas dan posisii sejarah umat hari ini, berpijak pada peringatan nubuwwah Rasulullah SAW, sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Thawban r.a.:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir tiba suatu masa dimana bangsa-bangsa saling mengajak untuk mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengerumuni nampan hidangannya.” Para sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, serta Allah akan menanamkan penyakit al-wahn di dalam hati kalian.” Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?” Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud no. 4297 dan Ahmad no. 22397)

Perumpamaan pengeroyokan oleh bangsa-bangsa (tada’il umam dan nampan hidangan (al-qash’ah), menggambarkan secara gamblang bagaimana sumber daya dan potensi umat Islam diperebutkan oleh kekuatan luar. Ini terjadi karena merosotnya kualitas keimanan (ruhiyah). Rasulullah SAW menegaskan bahwa akar masalahnya bukanlah kekurangan sumberdaya, jumlah populasi besar dan sumberdaya materi melimpah, tetapi melainkan kerapuhan jiwa, sehingga ummat ini digambarkan seperti buih di lautan, banyak namun sangat ringan (hampir tidak memiliki bobot) dan tidak memiliki arus. Karakter mereka seperti buih (al-ghutsa’iyyah).

Mengenai hakikat kemerosotan kualitas ini, Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menegaskan:

إِنَّ الْفِتْنَةَ الأَشَدَّ خَطَرًا هِيَ الَّتِي تُصِيبُ أَقْدَاسَ الإِسْلاَمِ نَفْسَهَا، بِحَيْثُ يَدْخُلُهَا الذُّبُولُ وَالْهَرَمُ فِي جَانِبِ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya fitnah yang paling berbahaya adalah fitnah yang menimpa nilai-nilai suci Islam itu sendiri, sehingga nilai-nilai tersebut mengalami kemunduran dan kemerosotan dalam aspek pengamalannya.”

Beliau mengingatkan, bahaya terbesar bagi ummat Islam, bukanlah sekadar ketika Islam diserang dari luar, melainkan ketika nilai-nilai luhur Islam kehilangan kekuatan dalam praktik kehidupan umat Islam sendiri. Dengan kata lain, “dikerubutinya” ummat Islam layaknya hidangan oleh bangsa lain, disebabkan kaum muslim telah terpisah dari Islam dalam kehidupannya.

Islam mungkin tetap disebut, ayat-ayatnya tetap dibaca, dan simbol-simbolnya tetap ditampilkan. Namun, jika nilai-nilai Islam tidak lagi tercermin dalam amal, akhlak, perjuangan, dan kehidupan umat, maka telah terjadi kemunduran yang serius. 

Dan ketika pengamalan ajaran Islam merosot dan hanya dihayati sebatas simbol kuantitas, wibawa (al-mahabah) umat di mata dunia sirna. Ruhiyah umat kemudian digerogoti oleh penyakit al-wahn—yaitu keterikatan pada kenyamanan fana (hubbud dunya) serta ketakutan menghadapi risiko perjuangan (karahiyatul maut).

Peringatan Nubuwwah Untuk Kesiapsiagaan (Al-Hadzar), Bukan Pasrah

Apakah pemberitaan Rasulullah SAW tentang keadaan buruk ini bertujuan agar kita bersikap pesimistis dan pasrah pada takdir? Sama sekali tidak. Peringatan nubuwwah adalah alarm pedagogis (tarbiyah) agar umat segera mengobati jiwanya dan menata kembali barisannya.

Syaikh Sa’id Hawwa menegaskan prinsip ini dalam kitabnya Fi Afaqit Ta’alim:

إِـنَّ مَا أَخْبَرَ بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سُوءِ الْحَالِ الَّذِي سَتَمُرُّ بِهِ الْأُمَّةُ، إِنَّمَا هُوَ لِلْحَذَرِ وَالاسْتِعْدَادِ لِلتَّغَلُّبِ عَلَيْهِ، لاَ لِلاِسْتِسْلاَمِ لَهُ

“Sesungguhnya keadaan buruk yang diberitakan oleh Rasulullah SAW yang bakal dialami oleh umat Islam mengandung makna agar kita bersikap waspada dan siap mengatasinya, bukannya malah menyerah kepadanya.”

Senada dengan pandangan tersebut, Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim tatkala mengulas hadits-hadits tentang fitnah masa depan:

فِي هَذِهِ الأَحَادِيثِ أَمْرٌ بِالْمُبَادَرَةِ إِلَى الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ تَعَذُّرِهَا وَالاشْتِغَالِ عَنْهَا بِمَا يَحْدُثُ مِنَ الْفِتَنِ

“Dalam hadits-hadits ini terdapat perintah untuk bergegas melakukan amal-amal saleh sebelum terhalang dan terganggu oleh berbagai fitnah yang bermunculan.”

Prinsip perbaikan ini berakar kuat pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Oleh karena itu, transformasi dari “Generasi Buih” (jīlil-ghutsā’i) menjadi “Generasi Qur’ani” (jīlil-Qur’āni)  menuntut ikhtiar sistematis melalui tazkiyatun nafs (penyucian jiwa dari penyakit materialisme), tarbiyah shahihah (pembinaan kader secara bertahap), serta pengokohan persaudaraan (ukhuwah) demi terwujudnya persatuan umat (wihdatul ummah). 

Inilah panggilan kesadaran bagi setiap pendidik dan pejuang Rabbani. (im)

Rujukan

  1. Al-Ghazali, Muhammad. Fiqhus Sirah. Kairo: Dar ash-Shuruk / Bandung: PT. Al-Ma’arif.
  2. Hawwa, Sa’id. Fi Afaqit Ta’alim (Membina Angkatan Mujahid). Kairo: Dar us-Salam / Jakarta: Robbani Press.
  3. An-Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syaraf. Syarah Shahih Muslim. Beirut: Darul Fikr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.