Menjaga Core Value Yayasan BTH: Syukur, Manfaat, dan Ibadah

by -1477 Views
Heri Ahmadi, SPdI anggota Dewan Penasehat Yayasan BTH dalam acara pengajian di Yayasan BTH.

Oleh: H. Heri Ahmadi, S.Pd.I.
Dewan Asatidz Yayasan Bakti Tunas Husada (BTH) Kota Tasikmalaya

Hari Jumat lalu, 10/10-2026, saya menghadiri keberhasilan akreditasi prodi dari Universitas Bakti Tunas Husada (BTH). Sebagai Dewan Penasehat Yayasan BTH, saya melihat, setiap keberhasilan selalu mengandung dua kemungkinan. Ia dapat melahirkan rasa syukur yang mengundang keberkahan, atau justru melahirkan rasa bangga yang perlahan mengikis keikhlasan. 

Islam mengajarkan bahwa setiap capaian hendaknya dikembalikan kepada Allah SWT sebagai Dzat yang memberi taufik dan pertolongan.

Keberhasilan pelaksanaan akreditasi program studi di Universitas Bakti Tunas Husada patut disyukuri. Syukuran ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah momentum muhasabah untuk bertanya: apakah lembaga ini semakin dekat kepada tujuan penciptaannya? Apakah semakin besar manfaat yang dihadirkan bagi umat? Dan apakah seluruh ikhtiar yang dilakukan benar-benar diniatkan sebagai ibadah kepada Allah SWT?

Sebagai Dewan Asatidz Yayasan BTH, ada tiga nilai yang senantiasa kami ingatkan kepada seluruh keluarga besar yayasan. Nilai-nilai inilah yang menjadi ruh perjalanan BTH: syukur, manfaat, dan ibadah.

Syukur: Awal dari Bertambahnya Nikmat

Allah SWT berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini mengajarkan bahwa syukur bukan hanya ungkapan lisan, melainkan cara pandang dalam membangun kehidupan. Syukur diwujudkan dengan menggunakan setiap nikmat untuk melahirkan kebaikan yang lebih besar.

Keberhasilan akreditasi bukanlah titik akhir. Ia adalah amanah baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat budaya akademik, dan menghadirkan pelayanan yang semakin baik bagi masyarakat.

Demikian pula pembangunan gedung serbaguna yang mampu menampung sekitar 1.300 orang tidak boleh dipandang sekadar keberhasilan pembangunan fisik. Semua fasilitas itu adalah titipan Allah yang harus dioptimalkan untuk memperluas kebermanfaatan.

Orang yang bersyukur tidak berhenti pada rasa puas, tetapi menjadikan setiap nikmat sebagai energi untuk terus berkarya.

Manfaat: Ukuran Kemuliaan Sebuah Lembaga

Rasulullah ﷺ bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

Hadis ini sesungguhnya tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi sebuah institusi. Keberadaan sebuah yayasan pendidikan tidak diukur dari seberapa megah gedungnya atau seberapa banyak mahasiswanya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Hasan Al-Banna pernah menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menghadirkan kemaslahatan dalam seluruh aspek kehidupan. Dakwah tidak berhenti pada penyampaian nasihat, tetapi harus melahirkan amal, pelayanan, pendidikan, dan pembangunan masyarakat. 

Sebab itu, lembaga pendidikan Islam tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari realitas umat. Ia harus menjadi pusat lahirnya ilmu, akhlak, kepemimpinan, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Dalam perspektif inilah Yayasan BTH harus terus berkembang. Bertambahnya program studi harus melahirkan lulusan yang lebih kompeten dan berintegritas. Berkembangnya fasilitas harus semakin memudahkan masyarakat memperoleh pendidikan yang bermutu. Semakin besar institusi, semakin luas pula manfaat yang harus dirasakan oleh umat.

Ibadah: Ruh Seluruh Aktivitas

Nilai ketiga sekaligus yang paling mendasar adalah menjadikan seluruh aktivitas sebagai ibadah.

Allah SWT berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini memberikan perspektif bahwa seluruh aktivitas manusia sejatinya bermuara pada penghambaan kepada Allah. Mengajar adalah ibadah. Belajar adalah ibadah. Meneliti adalah ibadah. Membangun kampus adalah ibadah. Melayani mahasiswa adalah ibadah. Bahkan mengelola administrasi pun bernilai ibadah apabila dilakukan dengan ikhlas dan profesional demi meraih ridha Allah.

Syekh Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa Islam tidak mengenal dikotomi antara urusan dunia dan akhirat. Aktivitas profesional akan bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar, dilakukan dengan cara yang benar, dan menghasilkan manfaat bagi sesama. Karena itu, kualitas spiritual tidak boleh dipisahkan dari kualitas kerja. Profesionalisme dan keikhlasan harus berjalan beriringan.

Inilah yang menjaga sebuah lembaga agar tidak kehilangan arah ketika berkembang. Kemajuan tanpa nilai akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, kemajuan yang dibangun di atas pondasi ibadah akan menghadirkan keberkahan.

Menjaga Ruh di Tengah Pertumbuhan

Alhamdulillah, Yayasan Bakti Tunas Husada terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Capaian akademik semakin meningkat, program studi terus berkembang, dan berbagai fasilitas pendidikan terus dibangun untuk mendukung pelayanan yang lebih baik.

Pertumbuhan itu harus selalu diiringi dengan penjagaan ruhnya. Sebagaimana diingatkan oleh Hasan Al-Banna, kemenangan hakiki bukanlah banyaknya bangunan atau besarnya organisasi, melainkan kokohnya iman, lurusnya niat, dan besarnya manfaat yang diberikan kepada manusia.

Syukur harus menjadi budaya. Manfaat harus menjadi orientasi. Dan ibadah harus menjadi jiwa dari setiap pekerjaan.

Apabila tiga nilai ini terus dijaga, insya Allah Yayasan Bakti Tunas Husada tidak hanya akan dikenal sebagai institusi pendidikan yang unggul secara akademik, tetapi juga sebagai lembaga yang melahirkan insan berilmu, berakhlak, dan berkhidmat bagi masyarakat. 

Disitulah hakikat keberhasilan sebuah lembaga pendidikan Islam: bukan hanya tumbuh menjadi besar, tetapi tumbuh dalam keberkahan dan menjadi jalan hadirnya rahmat Allah bagi sesama. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.