Mujahadah Digital: Menundukkan Jempol di Bawah Kendali Iman

by -1486 Views

Setelah mengenali berbagai penyakit lisan di media sosial—ghibah, namimah, riya’, hubbul jāh, hingga syahwat berbicara—langkah berikutnya adalah menempuh jalan penyembuhan. 

Penyakit hati tidak cukup dipahami, tetapi harus dilawan melalui mujahadah, yaitu perjuangan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencakup perjuangan melawan hawa nafsu, memperbaiki amal, dan membersihkan hati. Menurut beliau, siapa yang bersungguh-sungguh menaati Allah, niscaya Allah akan membimbingnya menuju jalan kebaikan yang lebih luas.

Said Hawwa dalam Tarbiyah Ruhiyah menegaskan bahwa salah satu pilar utama mujahadah adalah menjaga lisan.

وَمِنْ أَرْكَانِ الْمُجَاهَدَةِ الصَّمْتُ

“Di antara rukun mujahadah adalah diam (as-shamt).”

Beliau menjelaskan bahwa menjaga lisan bukan sekadar menahan ucapan, tetapi melatih seluruh anggota tubuh agar bergerak sesuai dengan perintah Allah (ضبط الجوارح).

Puasa Komentar dan Puasa Debat

Di era media sosial, bentuk mujahadah yang sangat relevan adalah puasa komentar. Tidak setiap unggahan harus ditanggapi, tidak setiap perdebatan harus dimenangkan, dan tidak setiap kesalahan orang lain harus dikoreksi di ruang publik.

Said Hawwa, ketika merangkum pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Al-Mustakhlis fi Tazkiyatun Nafs, menjelaskan tingkatan puasa yang lebih tinggi, yaitu menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat. Beliau menyebutkan:

حِفْظُ اللِّسَانِ عَنِ الْهَذَيَانِ، وَالْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ، وَالنَّمِيمَةِ، وَالْخُصُومَةِ، وَالْمِرَاءِ، وَإِلْزَامُهُ الصَّمْتَ

“Menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, ghibah, namimah, pertengkaran, dan debat kusir, serta membiasakannya untuk diam.”

Prinsip ini sangat sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini merupakan kaidah besar dalam pembinaan akhlak. Diam ketika ucapan tidak membawa manfaat bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kesempurnaan iman.

Dengan demikian, “puasa debat” bukan berarti menghindari kebenaran, tetapi menahan diri dari perdebatan yang hanya memperbesar ego dan merusak ukhuwah.

Puasa Viral: Mengobati Hubbul Jāh

Bentuk mujahadah berikutnya adalah puasa viral, yaitu melatih hati agar tidak menggantungkan nilai diri pada jumlah likes, followers, atau views. Di sinilah penyakit hubbul jāh dan thalab ar-riyāsah sering menyelinap tanpa disadari.

Said Hawwa mengingatkan dalam Al-Mustakhlis fi Tazkiyatun Nafs bahwa cinta kedudukan dan kepemimpinan dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan ubudiyah, karena hati mulai mencari keridaan manusia melebihi keridaan Allah.

Karena itu, setiap kali hendak mengunggah sesuatu, seorang mukmin perlu bermuhasabah: apakah unggahan ini lahir dari niat berdakwah dan memberi manfaat, atau hanya demi memperoleh pengakuan manusia? Pertanyaan seperti ini merupakan latihan ikhlas, yaitu memurnikan tujuan amal hanya karena Allah.

Khalwah Digital Menuju Jiwa yang Tenang

Sesekali menjauh dari media sosial juga merupakan bentuk mujahadah. Bukan karena teknologi itu buruk, tetapi agar hati memiliki kesempatan untuk kembali tenang dalam zikir, tilawah, doa, dan tafakur. Para ulama tasawuf menyebut keadaan ini sebagai khalwah, yaitu menyendiri untuk memperkuat hubungan dengan Allah.

Said Hawwa dalam Tarbiyah Ruhiyah menjelaskan bahwa diam, tafakur, dan mengurangi kebisingan dunia membantu membersihkan hijab yang menghalangi hati dari cahaya hidayah. 

Dari khalwah lahirlah muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi, dan muhasabah, yaitu keberanian menilai diri sendiri sebelum dihisab pada Hari Kiamat.

Mujahadah digital pada akhirnya bukan sekadar mengurangi waktu di depan layar, melainkan mengembalikan posisi teknologi sebagai pelayan kehidupan, bukan penguasa hati. 

Ketika lisan, jempol, dan hati telah bergerak dalam ketaatan, seorang mukmin akan semakin dekat kepada derajat النفس المطمئنة (an-nafs al-muthma’innah), jiwa yang tenang karena ridha kepada Allah dan diridhai oleh-Nya. Inilah kemenangan sejati: bukan menjadi yang paling ramai dibicarakan manusia, tetapi menjadi hamba yang paling dicintai oleh Rabb semesta alam. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.