Motif Penentangan: Antara Syahwat dan Materialisme

by -11 Views

Setelah memahami bahwa permusuhan terhadap Islam pada hakikatnya adalah permusuhan terhadap cahaya tauhid, pertanyaan berikutnya adalah: mengapa manusia menolak cahaya yang justru membawa petunjuk dan keselamatan?

Bukankah cahaya membuat manusia mampu melihat jalan yang benar? Bukankah wahyu datang untuk memuliakan manusia, mengangkat derajatnya, dan membimbingnya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat?

Mengapa masih ada yang berusaha memadamkannya?

Al-Qur’an mengajarkan bahwa akar persoalan itu bukan semata-mata persoalan intelektual. Penolakan terhadap kebenaran seringkali berawal dari kondisi hati. Karena itulah Al-Qur’an tidak hanya berdialog dengan akal manusia, tetapi juga melakukan proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Ketika Hawa Nafsu Menjadi Tuhan

Salah satu sebab terbesar manusia menolak petunjuk adalah karena ia telah menjadikan hawa nafsunya sebagai pusat kehidupannya.

Allah Ta’ālā berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Ayat ini bukan sekadar menggambarkan orang yang melakukan maksiat. Ia berbicara tentang sebuah orientasi hidup. Ketika keinginan pribadi menjadi ukuran utama benar dan salah, maka manusia secara perlahan telah memindahkan pusat pengabdiannya dari Allah kepada dirinya sendiri.

Di sinilah letak bahaya terbesar.

Islam datang membawa prinsip bahwa kebenaran ditentukan oleh wahyu. Sebaliknya, hawa nafsu selalu menginginkan agar wahyu mengikuti keinginan manusia.

Karena itu, konflik antara iman dan kufur pada dasarnya adalah konflik antara petunjuk Allah dan kehendak hawa nafsu.

Said Hawwa menjelaskan bahwa banyak manusia menolak wahyu bukan karena mereka tidak memahami kebenaran, tetapi karena mereka tidak ingin meninggalkan kehidupan yang sepenuhnya dikendalikan oleh syahwat. Dalam menafsirkan ayat-ayat tentang orang-orang yang berpaling dari petunjuk, beliau mengingatkan bahwa manusia yang hanya mengejar kenikmatan dunia akhirnya hidup seperti makhluk yang hanya mengikuti naluri biologisnya, sementara tujuan penciptaannya terlupakan.

Inilah sebabnya Al-Qur’an berkali-kali mengaitkan antara kelalaian terhadap akhirat dengan dominasi syahwat.

Materialisme: Ketika Dunia Menjadi Tujuan

Jika syahwat merupakan penyakit individu, maka materialisme dapat disebut sebagai penyakit peradaban.

Materialisme bukan berarti seseorang memiliki harta yang banyak. Islam tidak pernah mencela kekayaan yang diperoleh dengan cara yang halal dan dimanfaatkan di jalan Allah. Yang dikritik adalah pandangan hidup yang menganggap materi sebagai ukuran tertinggi keberhasilan manusia.

Dalam pandangan materialistik, keberhasilan diukur dari kekayaan. Kemuliaan diukur dari jabatan. Kebahagiaan diukur dari kenikmatan. Kebenaran diukur dari manfaat ekonomi. Akibatnya, segala sesuatu yang tidak menghasilkan keuntungan materi dianggap tidak penting.

Disinilah wahyu sering dianggap sebagai penghalang. Nilai-nilai seperti amanah, kesederhanaan, kejujuran, pengendalian diri, atau pengorbanan dipandang tidak produktif dalam logika materialisme yang hanya mengejar keuntungan sesaat.

Abul Hasan Ali Nadwi dalam Mādzā Khasira al-‘Ālam bi Inḥiṭāṭ al-Muslimīn menjelaskan bahwa ketika kepemimpinan umat Islam melemah, dunia kehilangan keseimbangan moral. Peradaban modern berkembang sangat pesat dalam aspek teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi mengalami kekosongan ruhani. Akibatnya, manusia mampu menaklukkan ruang angkasa, tetapi sering gagal menaklukkan hawa nafsunya sendiri.

Beliau tidak menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Yang beliau kritik adalah ketika kemajuan itu terlepas dari petunjuk wahyu sehingga kehilangan arah.

Fenomena ini semakin nyata pada zaman sekarang. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan yang luar biasa, tetapi juga membuka ruang yang sangat luas bagi penyebaran berbagai bentuk syubhat dan syahwat.

Teknologi pada dirinya bersifat netral. Lalu, yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah nilai yang mengendalikan manusia. Karena itu, Islam tidak mengajarkan umatnya memusuhi teknologi, tetapi membangun manusia yang mampu menggunakan teknologi dengan cahaya wahyu sebagai penuntun.

Strategi Iblis: Menghias Kebatilan

Al-Qur’an mengungkap satu strategi penting yang digunakan Iblis sejak awal permusuhannya terhadap manusia.

Setelah dilaknat Allah, Iblis berkata:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ • إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti akan aku jadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di bumi, dan pasti akan aku sesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.'” (QS. Al-Hijr: 39–40)

Perhatikan bahwa Iblis tidak mengatakan akan mengubah kebatilan menjadi kebenaran. Ia hanya akan menghiasnya. Inilah makna tazyīn.

Kebatilan dibuat tampak menarik. Kemaksiatan dipoles menjadi gaya hidup.Penyimpangan diberi nama yang indah. Dosa dipresentasikan sebagai kebebasan.

Ketaatan justru digambarkan sebagai keterbelakangan. Inilah salah satu wajah ghazwul fikr pada masa kini.

Jadi, hal yang berubah bukan hakikatnya, tetapi kemasannya.Karena itu, seorang Muslim tidak boleh hanya bertanya, “Apakah ini menarik?” atau “Apakah ini sedang populer?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah ini diridhai Allah?”

Tazkiyah sebagai Benteng Hati

Menghadapi berbagai bentuk penyesatan tersebut, Islam tidak hanya memberikan argumentasi intelektual, tetapi juga membangun benteng spiritual.

Said Hawwa menempatkan tazkiyatun nafs sebagai fondasi seluruh proses tarbiyah. Menurut beliau, hati yang dipenuhi dzikir, tilawah Al-Qur’an, muraqabah, dan keikhlasan akan memiliki daya tahan terhadap berbagai bentuk tipu daya dunia.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu jalan menuju derajat mukhlis adalah dengan memperbanyak mengingat akhirat (dzikr ad-dār al-ākhirah). Orang yang hidup dengan orientasi akhirat akan lebih mudah melihat dunia secara proporsional. Ia memanfaatkan dunia sebagai sarana menuju Allah, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Di sinilah letak kekuatan seorang mukmin. Musuh boleh menguasai media. Musuh boleh menguasai teknologi. Musuh boleh menguasai berbagai instrumen budaya. Namun selama hati seorang mukmin tetap terhubung dengan Allah, cahaya itu tidak akan mudah dipadamkan.

Karena itulah Rasulullah ﷺ lebih dahulu membina hati para sahabat sebelum membangun peradaban Islam.Peradaban yang kokoh selalu dibangun oleh hati yang kokoh.

Pelajaran Dakwah dan Tarbiyah

Bagi para aktivis dakwah, pembahasan ini memberikan pelajaran penting bahwa menghadapi ghazwul fikr tidak cukup dengan memperbanyak bantahan terhadap pemikiran yang keliru. Ada hal yang jauh lebih penting, yaitu menghadirkan alternatif yang lebih benar, lebih indah, dan lebih menenteramkan.

Dakwah harus mampu memperlihatkan keindahan Islam sebagai agama yang memuliakan akal, membersihkan hati, dan membangun peradaban.

Dalam perspektif tarbiyah, pembinaan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan. Tarbiyah harus melahirkan manusia yang mampu mengendalikan syahwat, berpikir kritis terhadap berbagai arus pemikiran, serta memiliki keberanian untuk tetap istiqamah ketika nilai-nilai Islam tidak lagi menjadi arus utama masyarakat.

Sedangkan dari perspektif tazkiyatun nafs, bab ini mengajarkan bahwa peperangan terbesar melawan ghazwul fikr dimulai dari peperangan melawan hawa nafsu sendiri.

Apabila hati telah dipenuhi kecintaan kepada Allah, maka berbagai kilauan dunia tidak lagi mampu memadamkan cahaya iman. Sebaliknya, apabila hati telah dikuasai syahwat dan cinta dunia, maka seseorang dapat kehilangan arah meskipun hidup di tengah limpahan ilmu dan kemajuan teknologi.

Karena itu, benteng pertama menjaga cahaya Allah bukan berada di luar diri kita, melainkan di dalam hati yang senantiasa dibersihkan dengan taubat, dihidupkan dengan dzikir, diterangi dengan Al-Qur’an, dan dikuatkan dengan keikhlasan kepada Allah Rabb semesta alam. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.