Terjebak Information Overload

by -1401 Views

Ada paradoks besar yang sedang dihadapi kader dakwah pada zaman digital. Kita hidup pada masa ketika informasi begitu mudah diperoleh, tetapi pemahaman justru semakin sulit dibangun. 

Kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memahami mengapa sesuatu itu terjadi, apa akar persoalannya, dan apa sikap yang seharusnya kita ambil.

Setiap hari seorang kader dapat menerima berita, video, podcast, pesan WhatsApp, Telegram, unggahan media sosial, artikel, komentar, materi kajian, hingga berbagai informasi dari grup organisasi dan masyarakat. Satu notifikasi belum selesai dibaca, notifikasi lain sudah datang. Satu isu belum sempat dipahami, isu berikutnya sudah memenuhi layar.

Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi kekurangan informasi, tetapi ketidakmampuan mengendalikan arus informasi.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet memberikan koreksi penting terhadap istilah information overload. Menurutnya: “Bukan kelebihan informasi (information overload), melainkan konsumsi informasi yang berlebihan (information overconsumption) yang menjadi masalah… Informasi tidak berdaya untuk memaksa Anda melakukan apa pun selama Anda sadar bagaimana ia memengaruhi Anda.”

Kalimat ini penting bagi seorang kader. Sebab, informasi pada dasarnya tidak memiliki kewajiban untuk kita konsumsi seluruhnya. Tidak semua berita membutuhkan perhatian kita. Tidak semua video membutuhkan waktu kita. Tidak semua perdebatan membutuhkan komentar kita. Tidak semua isu membutuhkan respons kita.

Kemampuan untuk mengatakan “tidak” kepada informasi tertentu adalah bagian dari kedewasaan intelektual.

Banjir Data dan Lahirnya Kelelahan Informasi

Kita sering mengira bahwa semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin berilmu pula kita. Padahal, hubungan antara jumlah informasi dan kedalaman pengetahuan tidak selalu berbanding lurus.

Seseorang dapat mengetahui puluhan berita dalam sehari tetapi tidak mampu menjelaskan satu persoalan secara mendalam. Ia mengetahui siapa yang sedang viral, apa yang sedang menjadi trending topic, siapa yang sedang berdebat, video apa yang sedang ramai, dan pernyataan siapa yang sedang dipersoalkan. Namun ketika ditanya tentang akar masalah, data pembanding, konteks sejarah, atau konsekuensi jangka panjangnya, ia kesulitan menjawab.

Inilah salah satu bentuk ketidaktahuan baru yang lahir dari kelimpahan informasi.

Clay A. Johnson mencatat: “Masalah-masalah ini tidak bermula dari kurangnya informasi. Mereka bermula dari jenis ketidaktahuan (ignorance) yang baru: jenis yang dihasilkan dari seleksi dan konsumsi informasi yang secara demonstratif salah.”

Dengan demikian, kader perlu berhati-hati terhadap ilusi bahwa mengetahui banyak informasi berarti memahami banyak persoalan.

Banjir informasi bahkan dapat mengurangi kemampuan untuk membedakan mana yang penting dan mana yang tidak. Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menjelaskan: “Otak kita memang memiliki kemampuan untuk memproses informasi yang kita terima, tetapi ada harganya: Kita bisa kesulitan memisahkan hal sepele dari hal penting, dan semua pemrosesan informasi ini membuat kita lelah… saraf adalah sel hidup dengan metabolisme; mereka membutuhkan oksigen dan glukosa untuk bertahan hidup dan ketika mereka telah bekerja keras, kita mengalami kelelahan.”

Disinilah muncul apa yang dapat kita sebut sebagai information fatigue—kelelahan akibat terlalu banyak menerima dan memproses informasi.

Kader yang mengalami kondisi ini mungkin bukan menjadi lebih bodoh. Namun ia menjadi lebih mudah lelah, lebih mudah terdistraksi, lebih cepat bereaksi, dan semakin sulit berpikir mendalam.

Literasi Digital Bukan Sekadar Kemampuan Mencari Informasi

Selama ini literasi digital sering dipahami secara sederhana sebagai kemampuan mencari informasi di internet. Padahal, dalam ekosistem informasi yang berlimpah, kemampuan mencari hanyalah tahap awal.

Kader membutuhkan kemampuan yang lebih lengkap: search → select → filter → process → retain → apply.  Pertama, search—mencari informasi yang dibutuhkan. Kedua, select—memilih informasi yang relevan. Ketiga, filter—menyaring informasi berdasarkan kualitas dan kredibilitas. Keempat, process—mengolah dan memahami informasi dalam konteksnya. Kelima, retain—menyimpan pengetahuan yang benar-benar penting. Keenam, apply—menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan dan melakukan amal.

Clay Johnson merumuskan literasi informasi dengan kemampuan untuk: “mencari (search), menyaring dan memproses (filter & process), memproduksi (produce), dan mensintesis (synthesize)”.

Kader yang matang bukanlah kader yang membaca sebanyak-banyaknya, tetapi kader yang mampu mengelola informasi sesuai kebutuhan dan misi. Informasi yang tidak dikelola hanya akan menjadi kebisingan (noise).

Johann Hari dalam Stolen Focus menggambarkan keadaan manusia modern dengan metafora yang sangat kuat: “Saat ini, situasinya seperti kita sedang ‘minum dari selang pemadam kebakaran—terlalu banyak yang datang ke arah kita.’ Kita terendam dalam informasi.”

Pertanyaannya kemudian: Apakah seorang kader harus meminum semuanya? Tentu saja tidak. Sebagaimana seseorang yang berada ditengah banjir tidak harus meminum seluruh air yang menggenang di sekelilingnya, seorang kader juga tidak harus memasukkan seluruh informasi yang datang ke dalam pikirannya.

Ia harus belajar memilih. Ia harus belajar menyaring. Ia harus belajar mengabaikan. Dan yang paling penting, ia harus belajar mengendalikan perhatian.

Perhatian Adalah Amanah

Disinilah persoalan information overload memasuki wilayah tarbiyah.

Tarbiyah bukan sekadar proses memasukkan sebanyak mungkin pengetahuan ke dalam kepala. Tarbiyah adalah proses membentuk manusia: membangun iman, membersihkan jiwa, memperdalam ilmu, membentuk akhlak, dan mengarahkan amal.

Semua itu membutuhkan perhatian.

Seseorang tidak mungkin melakukan tadabbur dengan baik jika pikirannya terus berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi berikutnya. Ia sulit melakukan tafaqquh jika konsentrasinya terus dipotong oleh video pendek. Ia sulit melakukan muhasabah jika setiap kesunyian segera diisi dengan scrolling.

Dalam perspektif tarbiyah, perhatian bukan sekadar sumber daya psikologis. Ia merupakan bagian dari amanah kehidupan.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus menekankan pentingnya kehadiran hati (hudhurul qalb) dalam proses pembinaan jiwa. Hati yang terus-menerus terpecah oleh berbagai gangguan akan sulit menghasilkan kualitas amal yang mendalam.

Karena itu, kader perlu bertanya: Apa yang sedang menguasai perhatian saya setiap hari?

Sebab apa yang terus-menerus mendapatkan perhatian kita perlahan akan mendapatkan ruang dalam pikiran kita. Apa yang memenuhi pikiran kemudian memengaruhi perasaan. Perasaan memengaruhi sikap. Dan sikap pada akhirnya memengaruhi amal.

Maka, mengelola perhatian sesungguhnya merupakan bagian dari mengelola diri.

Ketika Perhatian Terfragmentasi

Problem digital tidak hanya terletak pada banyaknya informasi, tetapi pada pola konsumsi yang membuat perhatian terus terfragmentasi.

Kader membuka WhatsApp untuk membaca satu pesan, kemudian melihat status. Dari status berpindah ke Instagram. Dari Instagram menemukan sebuah video. Dari video masuk ke kolom komentar. Dari komentar menemukan tautan berita. Dari berita muncul rekomendasi video lain.

Pada akhirnya, tujuan awal membuka telepon genggam telah hilang. Apa yang tersisa hanyalah rangkaian perpindahan perhatian (scrolling).

Johann Hari mengingatkan: “Jika lampu sorot (spotlight) Anda teralihkan atau terganggu, Anda terhalang untuk melakukan tindakan jangka pendek.”

Gangguan yang tampaknya kecil apabila terjadi sekali mungkin tidak berarti. Tetapi jika terjadi puluhan atau ratusan kali dalam sehari, ia membentuk kebiasaan baru: pikiran yang selalu berpindah.

Inilah salah satu alasan mengapa membaca buku secara mendalam terasa semakin sulit bagi sebagian orang. Johann Hari mencatat: “Aktivitas yang membutuhkan bentuk fokus yang lebih lama—seperti membaca buku—telah merosot tajam selama bertahun-tahun.”

Padahal, tradisi keilmuan Islam dibangun melalui kesabaran terhadap proses: membaca, mengulang, menghafal, memahami, mendiskusikan, merenungkan. Kemudian mengamalkan.

Tidak ada jalan pintas menuju kedalaman ilmu. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.