Krisis Epistemik: Wabah “Sok Tahu” dan Ilmu Instan di Era Digital

by -1517 Views

Perjalanan kita membongkar berbagai problematika aktivis dakwah di era digital kini memasuki wilayah yang lebih dalam. Kita tidak lagi hanya berbicara tentang banyaknya informasi yang masuk ke dalam kepala, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana kita mengetahui sesuatu, mengapa kita mempercayainya, dan sejauh mana kita benar-benar memiliki alasan untuk mengatakan, “Saya tahu.”

Tiga buku sebelumnya telah membawa kita melalui tahapan yang saling berkaitan.

Buku I — Krisis Mengelola Arus Informasi mengajak kita bertahan di tengah banjir data digital. Kita belajar bahwa tidak semua informasi harus dikonsumsi, tidak semua kabar harus diikuti, dan tidak semua percakapan di lini masa layak mendapatkan perhatian kita.

Buku II — Krisis Pembelajaran dan Pencarian Ilmu membawa kita satu langkah lebih dalam. Setelah belajar mengendalikan arus informasi, kita diajak kembali kepada tradisi belajar yang serius: membaca, bertanya, berguru, talaqqi, dan membangun pengetahuan secara bertahap.

Kemudian Buku III — Krisis Literasi dan Kedalaman Intelektual mengajak kita menguatkan kembali otot-otot intelektual yang melemah. Kita belajar membaca secara utuh, memahami konteks, membedakan fakta dengan opini, mengenali premis dan kesimpulan, serta menyusun gagasan secara jernih.

Kini kita memasuki Buku IV — Krisis Epistemik: “Sok Tahu” dan Ilmu Instan.

Pertanyaannya menjadi lebih mendasar:

Setelah kita mendapatkan informasi, belajar, membaca, dan berpikir, bagaimana kita memastikan bahwa apa yang kita yakini sebagai pengetahuan memang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan?

Inilah wilayah epistemik.

Krisis epistemik bukan semata-mata krisis karena seseorang tidak tahu. Ketidaktahuan adalah sesuatu yang manusiawi. Bahkan seorang ulama yang sangat luas ilmunya tetap memiliki batas pengetahuan. Persoalan yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang tidak mengetahui sesuatu, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya tidak mengetahui.

Ia bukan hanya tidak tahu. Ia salah memahami ketidaktahuannya sendiri.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kondisi semacam ini dekat dengan istilah jahl murakkab: seseorang tidak mengetahui, tetapi sekaligus meyakini bahwa dirinya mengetahui.

Disinilah,  era digital menghadirkan tantangan yang sangat serius bagi aktivis dakwah.

Dahulu, keterbatasan akses terhadap kitab dan informasi mungkin membuat seseorang menyadari bahwa ia belum mengetahui banyak hal. Kini, hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, ribuan jawaban dapat muncul dalam hitungan detik. Mesin pencari, media sosial, video pendek, podcast, dan kecerdasan buatan memberikan kesan bahwa hampir semua pengetahuan berada dalam genggaman.

Namun, sering tidak disadari, kemudahan menemukan jawaban tidak identik dengan kemampuan memahami kebenaran.

Tom Nichols, dalam The Death of Expertise, mengingatkan bahwa internet telah memberikan jalan pintas semu menuju keahlian. Kelimpahan fakta dapat membuat seseorang merasa telah memiliki kompetensi, padahal yang dimilikinya mungkin hanya serpihan informasi.

Inilah salah satu tragedi intelektual zaman kita: informasi menjadi begitu mudah diperoleh sehingga manusia dapat mengalami ilusi bahwa memahami sesuatu juga menjadi mudah.

Padahal ilmu memiliki “harga”.

Ia membutuhkan waktu, kesabaran, guru, pembacaan yang panjang, pengujian, dialog, pengalaman, dan juga  kerendahan hati.

Ketika Sedikit Informasi Melahirkan Banyak Keyakinan

Ada paradoks yang menarik dalam kehidupan intelektual manusia.

Kadang-kadang, semakin sedikit seseorang memahami suatu persoalan, semakin besar pula kepercayaan dirinya ketika berbicara tentang persoalan tersebut. Sebaliknya, orang yang telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari suatu bidang justru sering lebih berhati-hati dalam membuat kesimpulan.

Mengapa?

Salah satu penjelasan psikologis yang relevan berasal dari penelitian David Dunning dan Justin Kruger pada 1999. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang memiliki kemampuan rendah dalam suatu bidang dapat mengalami kesulitan dalam menilai kualitas kemampuan mereka sendiri. Kekurangan kompetensi bukan hanya memengaruhi hasil pekerjaan, tetapi juga dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk mengenali kesalahannya.

Persoalannya adalah metakognisi—kemampuan untuk mengambil jarak dari proses berpikir sendiri, kemudian bertanya:

Apakah saya benar-benar memahami persoalan ini? Apa yang belum saya ketahui? Di mana kelemahan argumen saya? Apakah saya sedang mencari kebenaran atau hanya mencari pembenaran?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat penting bagi seorang aktivis dakwah.

Sebab seorang aktivis bukan hanya berbicara untuk dirinya sendiri. Apa yang ia sampaikan dapat mempengaruhi jamaah, keluarga, masyarakat, bahkan membentuk cara berpikir generasi berikutnya.

Kesalahan epistemik dalam dakwah dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada kesalahan pribadi. Masalah semakin rumit ketika internet menjadi “guru” yang tidak pernah kita evaluasi otoritasnya.

Seseorang membaca satu artikel, menonton dua video, menemukan beberapa unggahan yang sesuai dengan pandangannya, lalu merasa telah “melakukan riset”. Kalimat “Saya sudah melakukan riset sendiri” bahkan dapat membuat seorang ahli mengernyitkan dahi.

Bukan karena pencarian mandiri itu salah. Justru Islam mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, dan mencari kebenaran. Masalahnya adalah ketika pencarian informasi disamakan dengan penelitian ilmiah, dan penelitian ilmiah disamakan dengan keahlian.

Mengetahui fakta tidak sama dengan memahami persoalan. Memahami persoalan tidak otomatis berarti mampu menganalisisnya. Dan mampu menganalisis satu persoalan tidak otomatis memberikan otoritas untuk berbicara dalam semua bidang.

Seorang aktivis dakwah harus memiliki kesadaran tentang batas kompetensinya. Membaca beberapa buku kedokteran tidak menjadikan seseorang dokter. Membaca beberapa kitab fikih tidak otomatis menjadikannya faqih. Membaca jurnal ekonomi tidak otomatis menjadikannya ekonom. Menonton ratusan ceramah tidak otomatis menjadikannya ulama.

Akses terhadap pengetahuan bukanlah kepemilikan atas otoritas keilmuan.

Islam dan Kemuliaan Mengakui Ketidaktahuan

Menariknya, jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang metacognition dan epistemic humility, tradisi keilmuan Islam telah menempatkan kesadaran atas batas pengetahuan sebagai bagian penting dari adab ilmu.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kehidupan digital. Apa yang kita dengar akan dipertanggungjawabkan. Apa yang kita lihat akan dipertanggungjawabkan.

Apa yang kita yakini dan ikuti juga akan dipertanggungjawabkan.

Maka seorang Muslim tidak boleh menjadikan lini masa sebagai pengganti akal sehat, dan tidak boleh menjadikan viralitas sebagai pengganti kebenaran.

Allah SWT juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Tabayyun bukan sekadar etika bermedia sosial. Ia adalah etika epistemik seorang Muslim.

Seorang aktivis dakwah tidak boleh terburu-buru menyebarkan sesuatu hanya karena informasi tersebut menguntungkan kelompoknya, menguatkan prasangkanya, atau sesuai dengan keyakinan politik dan sosialnya.

Kebenaran tidak menjadi benar karena kita menyukainya. Sebaliknya, sesuatu tidak menjadi salah hanya karena disampaikan oleh orang yang tidak kita sukai.

Inilah ujian keadilan intelektual.

Ujub Intelektual dan Jahl Murakkab

Dalam perspektif tazkiyatun nafs, krisis epistemik juga memiliki dimensi penyakit hati. Salah satunya adalah ‘ujb—kagum terhadap diri sendiri.

Ujub tidak hanya dapat muncul karena harta, kedudukan, keturunan, atau amal ibadah. Ia juga dapat menyusup melalui ilmu. Seseorang merasa lebih pintar daripada orang lain. Merasa lebih memahami agama. Merasa lebih kritis. Merasa lebih mengetahui realitas.

Dam ujungnya… merasa tidak membutuhkan guru.

Pada titik tertentu, ilmu yang seharusnya membuat seseorang semakin tunduk kepada Allah justru berubah menjadi bahan bakar kesombongan.

Abdullah bin Mas’ud r.a. pernah berkata:

الْهَلَاكُ فِي اثْنَيْنِ: الْقُنُوطِ وَالْعُجْبِ

“Kebinasaan terdapat dalam dua perkara: putus asa dan ujub.”

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa keduanya sama-sama menghentikan manusia dari perjalanan menuju kebaikan. Orang yang putus asa berhenti berusaha karena merasa tidak mungkin berhasil. Sedangkan orang yang ujub berhenti mencari karena merasa dirinya telah sampai.

Inilah bahayanya ujub intelektual.

Seseorang berhenti belajar bukan karena ia sudah benar-benar berilmu, tetapi karena ia merasa sudah cukup tahu. Ia berhenti bertanya. Berhenti membaca. Berhenti mendengarkan. Berhenti berguru.

Berhenti menerima koreksi. Dan yang paling berbahaya: ia mulai melihat koreksi sebagai serangan terhadap dirinya.

Pada saat itulah ilmu kehilangan fungsi tazkiyah-nya. Padahal semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin tampak pula keluasan wilayah yang belum diketahuinya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.