Allah Al-Khaliq dan Al-‘Alim: Belajar Tunduk kepada Pemilik Ilmu

by -1380 Views

Ketika seorang hamba merenungi ilmu Allah, ia tidak berhenti pada kekaguman intelektual semata. Ia bergerak lebih jauh: dari melihat ciptaan menuju mengenal Sang Pencipta. Inilah salah satu jalan ma’rifah yang diajarkan para ulama.

Allah berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?”  (QS. Al-Mulk: 14)

Imam Ibn Katsir menjelaskan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim bahwa ayat ini merupakan dalil yang sangat kuat tentang kesempurnaan ilmu Allah. Mustahil Dzat yang menciptakan sesuatu justru tidak mengetahui detail ciptaan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memahami bahwa seorang perancang mengetahui hasil rancangannya. Seorang pembuat mesin mengetahui fungsi setiap komponennya. Maka bagaimana mungkin Allah, Sang Al-Khaliq, tidak mengetahui makhluk yang Dia ciptakan dengan hikmah yang sempurna?

Kesadaran ini melahirkan ketenangan. Seorang mukmin memahami bahwa dirinya berada dalam pengetahuan dan pengaturan Allah. Tidak ada satu episode hidup yang keluar dari ilmu-Nya.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa mengenal nama Allah العليم bukan hanya mengetahui maknanya secara bahasa, tetapi menghadirkan keyakinan bahwa Allah mengetahui segala keadaan hamba—lahir dan batin.

Karena itu, seorang hamba tidak merasa sendirian di tengah ujian. Ia menyadari, ada yang mengatur jalan hidupnya yaitu Dzat Yang paling mengetahui maslahat dirinya.

Ilmu Allah dalam Syariat dan Alam

Allah tidak hanya menciptakan, tetapi juga membimbing ciptaan-Nya melalui ilmu.

Syariat yang Allah turunkan bukanlah sekadar kumpulan aturan legal formal, melainkan pancaran ilmu dan rahmat. Setiap perintah mengandung maslahat, setiap larangan menyimpan perlindungan.

Allah berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.”  (QS. Al-A’raf: 54)

Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini menegaskan keterkaitan erat antara خلق (penciptaan) dan أمر (pengaturan). Karena Allah yang menciptakan, maka hanya Dia yang paling berhak menetapkan aturan kehidupan.

Di sisi lain, Allah juga membuka pintu ilmu melalui alam semesta. Hukum-hukum fisika, kedokteran, astronomi, dan seluruh penemuan ilmiah hanyalah upaya membaca sunnatullah.

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dalam Al-‘Aql wa Al-‘Ilm fi Al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa Islam tidak memisahkan ilmu agama dan ilmu umum secara sumber. Semuanya berasal dari Allah, hanya jalurnya berbeda: wahyu sebagai petunjuk, dan alam sebagai medan tadabbur.

Dengan demikian, seorang Muslim ideal bukan hanya tekun mempelajari nash, tetapi juga peka membaca ayat-ayat kauniyah.

Ilmu yang benar mempertemukan akal dengan dzikir.

Al-‘Alim dan Penyucian Hati

Dimensi paling halus dari mengenal Allah sebagai Al-‘Alim adalah kesadaran bahwa Allah mengetahui isi hati.

Allah berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.”  (QS. Ghafir: 19)

Imam Fakhruddin ar-Razi menafsirkan ayat ini sebagai peringatan bahwa ilmu Allah menjangkau bahkan bisikan yang belum menjadi tindakan.

Bagi ahli tasawuf, ayat ini mendidik muraqabah—merasakan pengawasan Allah secara terus-menerus.

Syaikh Said Hawwa dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah menegaskan bahwa buah dari muraqabah adalah kejujuran batin. Seorang hamba tidak hanya memperbaiki amal lahiriah, tetapi juga membersihkan niat, hasad, ujub, dan riya.

Inilah ilmu yang menghidupkan.

Bukan ilmu yang membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan ilmu yang membuatnya lebih sibuk memperbaiki dirinya.Semakin seseorang mengenal Allah sebagai Al-‘Alim, semakin ia berhati-hati dengan isi hatinya sendiri. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.