Ilmu dalam Islam tidak seluruhnya hadir untuk menjawab pertanyaan tentang halal-haram atau ibadah ritual. Sebagian ilmu Allah juga dibentangkan agar manusia mampu mengelola bumi, mengurangi kesulitan hidup, dan menghadirkan kemaslahatan.
Inilah yang oleh para murabbi disebut sebagai Wasā’ilul Hayah: sarana-sarana kehidupan yang lahir dari pembacaan terhadap sunnatullah di alam semesta.
Jika wahyu adalah kompas, maka ilmu empiris adalah kendaraan. Kompas menunjukkan arah, kendaraan membantu perjalanan. Keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling menyempurnakan.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini bukan hanya perintah mencari nafkah, tetapi juga dorongan memanfaatkan bumi dengan ilmu, usaha, dan pengelolaan yang baik.
Ilmu sebagai Sarana, Bukan Tujuan Akhir
Dalam perspektif Islam, ilmu yang lahir dari observasi alam—seperti teknik, kedokteran, transportasi, pertanian, komunikasi, dan industri—berfungsi memudahkan tugas manusia sebagai khalifah.
Ilmu ini bukan Minhājul Hayah (pedoman hidup), melainkan Wasā’ilul Hayah (alat kehidupan).
Syaikh Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa syariat memberi prinsip, sedangkan manusia diberi ruang ijtihad dalam mengembangkan sarana sesuai tuntutan zaman.
Karena itu, Islam tidak membakukan bentuk teknologi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُورِ دُنْيَاكُمْ
“Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim)
Imam an-Nawawi dalam syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya wilayah teknis duniawi yang dapat dikembangkan manusia melalui pengalaman, eksperimen, dan ilmu.
Dari sini lahirlah kesadaran penting: Islam tidak menolak kemajuan. Yang diatur wahyu adalah nilai dan arah, bukan detail seluruh alat.
Maka kendaraan berubah, metode berubah, teknologi berubah—namun tujuan pengabdian tetap.
Dinamika Teknologi dan Tuntutan Adaptasi
Berbeda dari ibadah mahdhah yang bersifat tetap, sarana kehidupan selalu bergerak.
Dahulu manusia bepergian dengan unta dan kapal layar; hari ini dengan pesawat, kereta cepat, dan sistem digital. Dahulu komunikasi dilakukan melalui surat; kini melalui jaringan global.
Perubahan ini adalah konsekuensi dari sifat ilmu empiris yang berkembang.
Imam Ibnul Qayyim dalam I‘lam al-Muwaqqi‘in menegaskan bahwa syariat dibangun atas maslahat dan hikmah. Maka sarana yang membawa maslahat dapat berkembang selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat.
Dengan demikian, seorang Muslim tidak boleh alergi terhadap teknologi, namun juga tidak boleh diperbudak olehnya.
Tasawuf Sunni mengajarkan keseimbangan: tangan aktif mengelola dunia, hati tetap terikat kepada Allah.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengingatkan bahwa dunia hanyalah wasilah, bukan ghayah (tujuan akhir). Teknologi yang tidak diarahkan oleh nilai dapat berubah dari nikmat menjadi fitnah.
Profesionalisme sebagai Bentuk Amanah
Mengembangkan ayat kauniyah menjadi produk peradaban memerlukan profesionalisme.
Tidak cukup semangat, diperlukan ketelitian, kompetensi, dan itqan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Meskipun sanad hadits ini diperselisihkan, maknanya dikuatkan banyak prinsip umum syariat tentang amanah dan ihsan.
Syaikh Muhammad al-Ghazali menegaskan bahwa keterbelakangan umat sering kali bukan karena kurang ajaran, tetapi lemahnya kesungguhan dalam mengubah ilmu menjadi amal dan karya.
Maka dokter yang kompeten, insinyur yang amanah, ekonom yang jujur, atau programmer yang berintegritas, semuanya dapat menjadi pelaku ibadah jika menghadirkan maslahat.
Ilmu bukan hanya memenuhi kepala, tetapi melahirkan khidmah.Pada akhirnya, seluruh Wasā’ilul Hayah hanyalah alat untuk membantu manusia menjalankan tugas ubudiyah dengan lebih baik. Sarana boleh berkembang tanpa batas, tetapi hati tetap harus tahu arah pulangnya. (im)





