Ilmu dalam Islam tidak lahir dari ruang hampa. Ia berasal dari Allah, Sang Maha Mengetahui, yang membuka sebagian dari خزائن العلم (khazanah ilmu)-Nya kepada manusia sesuai kadar kemampuan dan kebutuhan mereka.
Karena itu, pembahasan tentang Ilmullāh bukan hanya tentang apa yang diketahui manusia, tetapi bagaimana Allah menyampaikan ilmu tersebut.
Dalam khazanah pemikiran Islam, terdapat dua jalan utama sampainya ilmu kepada manusia: melalui الرَّسُول (ar-rasūl) dan melalui مُبَاشَرَةً (mubāsyarah), yakni secara langsung melalui pembacaan terhadap ciptaan-Nya.
Keduanya merupakan dua rahmat yang saling melengkapi.
Ar-Rasul: Jalan Resmi Menuju Kebenaran Mutlak
Jalur pertama adalah melalui para rasul. Inilah jalan formal yang disebut الطَّرِيقَةُ الرَّسْمِيَّةُ (ath-tharīqah ar-rasmiyyah), ketika Allah menurunkan ilmu melalui wahyu dengan perantaraan malaikat kepada nabi dan rasul.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِي إِلَيْهِمْ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau melainkan beberapa laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka.” (QS. An-Naḥl: 43)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa wahyu adalah jalur khusus yang dipilih Allah untuk membimbing manusia menuju kebenaran yang tidak dapat dijangkau akal secara independen.
Ilmu melalui ar-rasul hadir dalam bentuk آيَاتٌ قَوْلِيَّةٌ (āyāt qauliyyah), yakni firman Allah dalam Al-Qur’an dan penjelasan Nabi ﷺ. Karakternya adalah الْحَقِيقَةُ الْمُطْلَقَةُ (al-ḥaqīqah al-muṭlaqah), kebenaran mutlak yang tetap dan tidak berubah.
Fungsinya adalah sebagai مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ (minhājul ḥayāh), pedoman hidup. Ia mengatur tujuan hidup, akhlak, ibadah, hukum, dan orientasi keberadaan manusia.
Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa wahyu membimbing manusia pada hal-hal yang melampaui jangkauan eksperimen: makna hidup, hakikat baik dan buruk, serta keselamatan akhirat.
Dalam perspektif tasawuf, Al-Ghazali menyebut ilmu wahyu sebagai cahaya yang menghidupkan hati. Tanpa cahaya ini, seseorang mungkin cerdas secara intelektual namun tetap gelap secara eksistensial.
Mubāsyarah: Membaca Ilmu Allah Secara Langsung dari Alam
Jalur kedua adalah مُبَاشَرَةً (mubāsyarah), yakni ilmu yang Allah berikan secara langsung kepada manusia melalui akal, pengamatan, ilham, dan penelitian atas alam.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Āli ‘Imrān: 190)
Menurut Al-Qurthubi, ayat ini merupakan perintah untuk bertafakkur dan menggunakan akal sebagai sarana membaca ayat-ayat Allah di alam.
Ilmu ini hadir dalam bentuk آيَاتٌ كَوْنِيَّةٌ (āyāt kauniyyah). Karakternya adalah الْحَقِيقَةُ التَّجْرِيبِيَّةُ (al-ḥaqīqah at-tajrībiyyah), kebenaran eksperimental yang berkembang sesuai data dan penelitian.
Di sinilah lahir sains, kedokteran, teknologi, astronomi, dan berbagai cabang ilmu dunia. Ia berfungsi sebagai وَسَائِلُ الْحَيَاةِ (wasā’ilul ḥayāh), sarana hidup yang memudahkan manusia menjalankan amanah kekhalifahan.
Contoh seperti Isaac Newton atau Archimedes hanyalah ilustrasi bahwa manusia dapat membaca sebagian kecil hukum Allah yang tersebar di alam.
Karena itu, jalur ini bersifat universal. Muslim maupun non-Muslim dapat mengaksesnya selama menggunakan akal dan metode observasi.
Sinergi Keduanya: Ilmu yang Menghasilkan Takwa
Islam tidak menghendaki pemisahan antara ar-rasul dan mubāsyarah. Yang satu memberi arah, yang lain memberi alat.
Wahyu tanpa penguasaan realitas bisa membuat umat kehilangan daya bangun. Sebaliknya, sains tanpa wahyu dapat menghasilkan kemajuan teknis tanpa arah moral.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang berilmu.” (QS. Fāṭir: 28)
Menurut Fakhruddin ar-Razi, ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan khashyah—rasa tunduk dan takut kepada Allah.Dengan demikian, tujuan akhir ilmu bukan sekadar mengetahui dunia, tetapi mengenal Rabb pemilik dunia. Ar-rasul membimbing hati, mubāsyarah melatih akal; keduanya menuntun manusia menjadi hamba yang sadar sekaligus khalifah yang bertanggung jawab.(im)







