Alasan Kedua Pentingnya Memahami Ghazwul Fikri: Al Ikhtiraq Dhahily

by -1764 Views

Alasan mendasar kedua mengapa setiap Muslim, khususnya para aktivis dakwah, perlu memahami ghazwul fikri (الغزو الفكري) adalah adanya kemungkinan infiltrasi pemikiran yang datang bukan dari luar umat, melainkan dari dalam tubuh umat itu sendiri. 

Dalam banyak kasus sejarah, pengaruh yang paling besar bukan berasal dari pihak yang secara terbuka menyatakan permusuhan, tetapi dari mereka yang secara lahiriah merupakan bagian dari masyarakat Muslim, namun cara pandang dan standar berpikirnya telah terlepas dari nilai-nilai Islam.

Fenomena inilah yang oleh sebagian tokoh dakwah kontemporer dijelaskan melalui istilah metaforis yang terkenal, yaitu “Inggris Cokelat” (Brown Englishmen).

Kegelisahan Sayyid Qutb terhadap Penjajahan Mental

Dalam berbagai tulisan dan percakapannya, Sayyid Qutb mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi umat Islam pasca-kemerdekaan politik di banyak negeri Muslim. 

Menurut beliau, berakhirnya penjajahan fisik belum tentu berarti berakhirnya pengaruh penjajah terhadap pola pikir masyarakat.

Dalam sebuah ungkapan yang kemudian banyak dikutip dalam literatur dakwah, beliau mengatakan:

“لقد تم الاتفاق على خروج الإنجليز البيض، ولكن الأهم هو خروج الإنجليز السمر.”

“Telah disepakati keluarnya orang-orang Inggris yang berkulit putih, tetapi yang lebih penting adalah keluarnya orang-orang Inggris yang berkulit cokelat.”

Ungkapan ini bukan merujuk kepada warna kulit atau etnis tertentu. Ini merupakan metafora yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok orang yang secara identitas merupakan bagian dari umat Islam, tetapi cara berpikir, tolok ukur nilai, serta orientasi hidupnya sepenuhnya mengikuti paradigma asing yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam.

Ketika Penjajahan Berpindah ke Dalam Pikiran

Para ulama dakwah menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama ghazwul fikri adalah membentuk generasi yang kehilangan kepercayaan terhadap agamanya sendiri. Akibatnya, mereka tidak lagi menilai sesuatu berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi berdasarkan standar yang berasal dari luar Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini mengandung larangan mencampurkan prinsip-prinsip kebenaran dengan berbagai bentuk penyimpangan yang dapat membingungkan manusia dari jalan yang lurus. 

Dalam konteks dakwah kontemporer, para ulama mengambil pelajaran bahwa umat harus memiliki kemampuan membedakan antara nilai yang sejalan dengan Islam dan nilai yang bertentangan dengannya.

Mengapa Aktivis Dakwah Harus Memahaminya?

Imam Hasan Al-Banna رحمه الله menempatkan الفهم (pemahaman yang benar) sebagai rukun pertama dalam pembentukan pribadi Muslim. 

Seorang dai harus memahami bahwa tantangan dakwah tidak selalu hadir dalam bentuk penolakan terbuka terhadap Islam. Terkadang tantangan itu muncul dalam bentuk penafsiran yang keliru, pengaburan konsep, atau upaya memisahkan umat dari sumber-sumber otoritatif agamanya.Karena itu, memahami ghazwul fikri membantu aktivis dakwah mengenali berbagai bentuk penyimpangan pemikiran tanpa harus terjebak pada sikap mudah menuduh atau menghakimi orang lain. Fokusnya bukan mencari musuh, melainkan menjaga kemurnian manhaj, memperkuat ilmu, dan membangun kesadaran umat. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.