Syahadat Risalah dan Jalan Hidup Seorang Mukmin

by -1735 Views

Ketika seorang Muslim mengucapkan:

«أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ»

“Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,”

maka sesungguhnya ia tidak sedang mengucapkan fakta sejarah semata. Ia sedang menyatakan sebuah komitmen hidup. Jika kalimat Laa ilaaha illallaah mengarahkan hati kepada Allah sebagai satu-satunya tujuan penghambaan, maka kalimat Muhammadur Rasulullah menunjukkan jalan yang harus ditempuh untuk sampai kepada-Nya.

Allah SWT berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيرًا﴾

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ayat ini merupakan landasan utama kewajiban meneladani Rasulullah ﷺ dalam ucapan, perbuatan, akhlak, dan sikap hidup. Karena itu, syahadat risalah tidak cukup diwujudkan dalam rasa cinta kepada Nabi, tetapi harus diwujudkan pula dalam ittiba’—mengikuti petunjuk beliau dengan penuh kesadaran.

Syaikh Musthafa Masyhur dalam Muslim Kaffah Teladan Ummat menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan praktis bagi seluruh manusia. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran Islam secara teoritis, tetapi juga memperagakannya dalam kehidupan nyata. 

Dengan demikian, memahami syahadatain berarti memahami bahwa Islam bukan sekadar konsep, melainkan manhaj kehidupan yang telah dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah ﷺ.

Ittiba’: Jalan Menuju Cinta Allah

Dalam perjalanan ruhani seorang mukmin, mengikuti Rasulullah ﷺ bukan sekadar bentuk ketaatan, melainkan jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT.

Allah berfirman:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ﴾

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan dalam Mafatih al-Ghaib bahwa ayat ini menunjukkan hubungan yang erat antara mahabbatullah (cinta kepada Allah) dan ittiba’ Rasul. Cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, tetapi dibuktikan melalui kesediaan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Syaikh Said Hawwa dalam Jundullah menjelaskan bahwa jalan menuju tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) tidak dapat dipisahkan dari ittiba’. Semakin seseorang menyesuaikan hidupnya dengan Sunnah, semakin lembut hatinya, semakin bersih jiwanya, dan semakin dekat dirinya kepada Allah SWT.

Dalam perspektif tasawuf Ahlus Sunnah, sebagaimana diterangkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, hakikat perjalanan menuju Allah bukanlah mencari pengalaman-pengalaman spiritual yang luar biasa, melainkan menyempurnakan adab dan akhlak sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Karena itu, Sunnah bukan sekadar amalan lahiriah, tetapi sarana pendidikan hati.

Menjadikan Sunnah sebagai Warna Kehidupan

Memahami syahadat risalah akan melahirkan kesadaran bahwa seluruh aspek kehidupan dapat menjadi ibadah. Cara berbicara, bekerja, bermuamalah, berkeluarga, hingga berinteraksi dengan masyarakat dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Allah SWT berfirman:

﴿صِبْغَةَ اللّٰهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً﴾

“Celupan Allah; dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah?” (QS. Al-Baqarah: 138)

Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat ini menggambarkan kehidupan seorang mukmin yang seluruh perilakunya diwarnai oleh petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dalam tradisi dakwah disebut sebagai sibghatullah—kepribadian yang terbentuk oleh nilai-nilai wahyu.

Ketika syahadat risalah benar-benar hidup dalam hati, maka Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi sosok yang dikagumi, tetapi juga menjadi teladan yang diikuti. Dari sinilah lahir pribadi-pribadi yang lembut akhlaknya, jernih pikirannya, kuat komitmennya, dan luas manfaatnya bagi umat.Syahadatain akhirnya tidak berhenti sebagai kalimat yang diucapkan, melainkan menjelma menjadi jalan hidup. Sebuah perjalanan panjang menuju Allah dengan menapaki jejak manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi: Rasulullah Muhammad ﷺ. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.