Pada tahun ke 6 hijriah, Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah dengan niat melaksanakan umrah, bukan peperangan. Mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan kurban sebagai tanda bahwa perjalanan itu murni ibadah.
Namun Quraisy memandang kedatangan kaum muslimin dengan penuh kecurigaan dan ketegangan.
Rombongan Nabi ﷺ akhirnya tertahan di sebuah tempat bernama Hudaibiyah. Di sanalah terjadi salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam: Perjanjian Hudaibiyah.
Banyak sahabat saat itu memandang isi perjanjian tersebut sebagai sesuatu yang berat dan tampak merugikan kaum muslimin. Namun Al-Qur’an justru menyebutnya sebagai kemenangan nyata:
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”
(QS. al-Fath: 1)
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa yang dimaksud “kemenangan nyata” dalam ayat ini adalah Perjanjian Hudaibiyah. Sebab dari peristiwa itulah terbuka jalan besar bagi penyebaran Islam, stabilitas dakwah, dan akhirnya pembebasan kota Makkah.
Syekh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menyebut Hudaibiyah sebagai kemenangan peradaban, bukan sekadar kemenangan militer.
Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan bahwa sejarah besar seringkali tidak dimulai dari suara pedang, melainkan dari kebijaksanaan menahan diri.
Laboratorium Besar Kepemimpinan Kenabian
Hudaibiyah bukan sekadar perundingan damai. Ia adalah laboratorium besar yang memperlihatkan kesempurnaan kepemimpinan Rasulullah ﷺ dalam menghadapi krisis, emosi massa, tekanan politik, hingga diplomasi internasional.
Disana tampak bagaimana Nabi ﷺ mengelola perbedaan pendapat para sahabat dengan kelembutan.
Ketika Umar bin Khaththab ra. bahkan sempat memprotes isi perjanjian karena merasa kaum muslimin diperlakukan tidak adil. Rasulullah ﷺ tetap tenang dan bersabda:
إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَلَسْتُ أَعْصِيهِ وَهُوَ نَاصِرِي
“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak akan mendurhakai-Nya, dan Dia pasti akan menolongku.” (HR. al-Bukhari)
Syekh Muhammad Ramadhan al-Buthy menjelaskan bahwa Hudaibiyah mengajarkan pentingnya melihat realitas dengan pandangan strategis, bukan sekadar reaksi emosional sesaat.
Rasulullah ﷺ memahami bahwa perdamaian sepuluh tahun akan membuka ruang dakwah yang sebelumnya tertutup oleh peperangan.
Dan benar, dalam waktu singkat setelah Hudaibiyah, jumlah orang yang masuk Islam meningkat secara luar biasa. Tokoh-tokoh besar seperti Khalid bin al-Walid dan Amr bin Ash akhirnya memeluk Islam pada periode ini.
Jalan Damai Menuju Pembebasan Makkah
Perjanjian Hudaibiyah sesungguhnya adalah pintu menuju Fathu Makkah. Quraisy yang sebelumnya selalu memerangi Islam kini secara tidak langsung mengakui eksistensi negara Madinah dan posisi Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin politik yang sah.
Syekh Muhammad Munir al-Ghadban dalam al-Manhaj al-Haraki lis Sirah an-Nabawiyah menjelaskan bahwa Hudaibiyah adalah titik perubahan keseimbangan geopolitik Jazirah Arab. Setelah perjanjian itu, dakwah Islam bergerak jauh lebih luas dan stabil.
Allah Swt. berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya atas seluruh agama.” (QS. at-Taubah: 33)
Menurut Imam al-Qurthubi, kemenangan Islam dalam ayat ini berlangsung melalui tahapan hikmah, dakwah, dialog, dan kekuatan moral sebelum kemenangan fisik.
Hudaibiyah mengajarkan kepada umat Islam bahwa kemenangan sejati tidak selalu lahir dari konfrontasi langsung. Terkadang Allah membuka pintu kemenangan melalui kesabaran, kecerdasan membaca situasi, dan kemampuan menahan ego demi maslahat yang lebih besar.Di situlah letak keagungan sirah Nabi ﷺ: mengubah luka menjadi jalan kemenangan, dan mengubah tekanan menjadi pintu perubahan sejarah. (im)





