Sebelum Perjanjian Hudaibiyah terjadi, Rasulullah ﷺ terlebih dahulu melihat sebuah mimpi. Dalam mimpi itu, beliau bersama para sahabat memasuki Masjidil Haram dalam keadaan aman untuk melaksanakan umrah. Mimpi tersebut bukan sekadar bunga tidur, tetapi bagian dari petunjuk Ilahi yang menanamkan visi besar dalam langkah dakwah Nabi ﷺ.
Dengan keyakinan penuh, Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berangkat menuju Makkah tanpa membawa perlengkapan perang besar. Mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan kurban sebagai tanda damai.
Allah Swt. kemudian mengabadikan mimpi itu dalam firman-Nya:
لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
“Sungguh Allah telah membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpi itu dengan sebenarnya, bahwa kalian pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah, dalam keadaan aman.” (QS. al-Fath: 27)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bagaimana visi kenabian terkadang memerlukan proses dan tahapan sebelum terwujud sempurna.
Para sahabat awalnya mengira mimpi itu akan langsung terwujud pada tahun Hudaibiyah, padahal Allah menyiapkan momentum yang lebih matang pada waktu berikutnya.
Disinilah letak pelajaran besar tentang kepemimpinan visioner: seorang pemimpin tidak hanya melihat keadaan hari ini, tetapi juga membaca arah masa depan yang belum dipahami banyak orang.
Visi yang Melampaui Reaksi Emosional
Ketika Quraisy menghalangi kaum muslimin memasuki Makkah, situasi menjadi sangat menegangkan. Sebagian sahabat merasa bahwa penahanan tersebut adalah penghinaan yang harus dibalas. Namun Rasulullah ﷺ tidak terjebak dalam sentimen emosional sesaat.
Beliau tetap memegang visi besar dakwah: membuka jalan bagi hadirnya keamanan, stabilitas, dan kesempatan menyampaikan Islam kepada masyarakat Arab secara lebih luas.
Syekh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak membangun keputusan berdasarkan ledakan emosi, tetapi berdasarkan pandangan jauh ke depan. Beliau memahami bahwa peperangan terus-menerus hanya akan menguras energi umat dan menutup peluang dakwah.
Karena itu, Rasulullah ﷺ memilih jalan yang secara lahiriah tampak berat, tetapi sesungguhnya mengandung kemenangan strategis.
Inilah ciri pemimpin visioner. Ia mampu menahan diri dari kemenangan kecil yang emosional demi mencapai tujuan besar yang lebih hakiki.
Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqh al-Awlawiyyat menjelaskan bahwa salah satu tanda kedewasaan gerakan Islam adalah kemampuan membedakan antara tujuan utama dan reaksi sementara.
Tidak semua tekanan harus dijawab dengan konfrontasi. Kadang-kadang, kesabaran dan kelapangan dada justru menjadi jalan kemenangan.
Kepemimpinan yang Berangkat dari Keyakinan Ruhani
Menariknya, visi Rasulullah ﷺ tidak lahir dari ambisi duniawi, tetapi dari keyakinan ruhani yang mendalam kepada Allah Swt. Dalam tasawuf Islam, pemimpin sejati bukan hanya orang yang pandai membaca strategi, tetapi juga memiliki hati yang terhubung dengan petunjuk Ilahi.
Syekh Said Hawwa dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah menjelaskan bahwa kekuatan ruhiyah membuat seorang mukmin mampu melihat harapan dibalik kesulitan dan ketenangan di tengah tekanan.
Karena itu, meskipun para sahabat sempat gelisah di Hudaibiyah, Rasulullah ﷺ tetap tenang. Beliau yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan umat ini.
Allah Swt. berfirman:
فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. an-Nisa’: 19)
Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini mengandung pelajaran agar manusia tidak tergesa menilai sebuah peristiwa hanya dari permukaan lahiriahnya.Hudaibiyah akhirnya membuktikan bahwa visi yang dibangun di atas iman, kesabaran, dan pandangan jauh ke depan akan melahirkan perubahan sejarah. Dari perjalanan yang tampak tertahan itulah, Islam justru bergerak menuju fase kemenangan yang lebih besar. (im)





