Arbain Nawawi: Peta Dasar Memahami Islam 

by -1049 Views

Ustadz, siapa yang menulis buku hadits arbain? 

Diantara kitab hadits yang paling banyak dipelajari di dunia Islam, Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Kitab ini menempati posisi yang sangat istimewa. 

Kitab ini dikenal luas sebagai kumpulan hadits-hadits inti yang merangkum fondasi agama Islam (ushuluddin) dalam bentuk yang ringkas, sistematis, dan mudah dipelajari.

Penyusunnya adalah seorang ulama besar, yaitu Imam An-Nawawi (w. 676 H). Beliau adalah seorang ulama besar dalam bidang fiqih, hadits, dan tasawuf. Nama lengkap beliau ialah Yahya bin Syaraf An-Nawawi, berasal dari Nawa, Syam. Keilmuan dan kezuhudannya menjadikan beliau diterima luas oleh berbagai kalangan umat.

Dalam muqaddimah kitabnya, Imam Nawawi menjelaskan, beliau terdorong menyusun kumpulan hadits ini karena ingin menghimpun hadits-hadits yang menjadi poros agama. 

Terdapat riwayat tentang keutamaan mengumpulkan 40 hadits, namun dinilai dha‘if oleh ahli hadits, seperti dijelaskan oleh Ibn Hajar al-Asqalani. Sekalipun demikian, para ulama tetap memandang ide tersebut sebagai bentuk khidmah ilmiah, bukan penetapan hukum baru.

Hadits dalam Arbain Nawawi tidak acak. Setiap hadits dipilih karena merepresentasikan prinsip dasar Islam. Di dalamnya terdapat hadits tentang niat, iman, ihsan, halal-haram, adab, ukhuwah, pengendalian diri, hingga tazkiyatun nafs.

Hadits pertama, misalnya, berbunyi:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Menurut Imam Asy-Syafi’i, hadits ini mencakup sepertiga ilmu agama, karena seluruh amal terkait niat, lisan, dan perbuatan.

Mengapa Kitab Ini Sangat Populer?

Popularitas Arbain Nawawi tidak lahir tanpa sebab. Pertama, kitab ini sangat ringkas tetapi padat. Dengan hanya sekitar 42 hadits, seorang Muslim sudah diperkenalkan pada kerangka dasar Islam secara utuh.

Hadits Jibril, misalnya, merangkum bangunan agama secara komprehensif:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ…
“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya…” (HR. Sahih Muslim)

Para ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini seperti “ummus sunnah”, induk penjelasan tentang Islam, iman, dan ihsan.

Kedua, mayoritas hadits dalam kitab ini berstatus shahih dan berasal dari sumber-sumber paling otoritatif. Hal ini memberi rasa aman bagi penuntut ilmu pemula maupun lanjutan.

Ketiga, cakupannya sangat luas. Arbain tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga akhlak dan kehidupan sosial. Misalnya hadits:

لَا تَغْضَبْ
“Jangan marah.” (HR. Sahih al-Bukhari)

Meski singkat, Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa hadits ini mencakup manajemen jiwa, pengendalian hawa nafsu, dan pembentukan karakter mukmin.

Dalam perspektif tasawuf, pengendalian amarah merupakan bagian dari mujahadah an-nafs. Sejalan dengan firman Allah:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan orang lain.” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Menurut tafsir Tafsir Ibn Kathir, ayat ini menunjukkan kemuliaan akhlak yang lahir dari hati yang bersih dan terdidik.

Arbain Nawawi sebagai Kurikulum Dasar Umat

Arbain Nawawi diterima luas di pesantren, halaqah, dan universitas Islam karena mudah dihafal, mudah diajarkan, serta memiliki tradisi syarah yang sangat kaya.

Selain syarah Imam Nawawi sendiri, kitab ini dijelaskan oleh banyak ulama besar seperti Ibn Daqiq al-‘Id dan Ibn Rajab. Hal ini membuat Arbain tetap relevan lintas zaman dan lintas madzhab.

Lebih dari sekadar kitab hadits, Arbain Nawawi adalah peta jalan tarbiyah seorang Muslim: membangun aqidah, memperbaiki ibadah, menata akhlak, menguatkan ukhuwah, dan membersihkan hati.

Ditengah zaman yang sering dipenuhi fragmentasi ilmu dan polarisasi umat, kitab ini mengingatkan bahwa Islam dibangun di atas prinsip-prinsip yang menyatukan.Maka, mempelajari Arbain Nawawi bukan hanya belajar hadits, tetapi juga belajar bagaimana menjadi Muslim yang utuh: lurus aqidahnya, baik akhlaknya, lembut hatinya, dan kuat ikatan ukhuwahnya. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.