Al-Iqrār: Pernyataan Jujur Sang Mukmin

by -1624 Views

Syahadat bukanlah sekadar kalimat yang diucapkan oleh lisan. Ia adalah suara hati yang paling dalam, sebuah pengakuan yang lahir dari kesadaran, keyakinan, dan ketundukan kepada Allah SWT. 

Para ulama menjelaskan bahwa ketika seorang Muslim mengucapkan Asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna Muḥammadan Rasūlullāh, sesungguhnya ia sedang memasuki sebuah ikatan ruhani yang sangat agung. 

Diantara kandungan utama syahadat adalah al-iqrār, yaitu pernyataan yang jujur dan mantap tentang kebenaran yang diyakini.

Al-Iqrār: Ketetapan Hati yang Diucapkan Lisan

Secara bahasa, iqrār berarti menetapkan, mengakui, dan membenarkan sesuatu dengan penuh keyakinan. Dalam konteks syahadat, iqrar adalah pengakuan seorang hamba terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad SAW.

Dr. Irwan Prayitno dalam Kepribadian Muslim menjelaskan bahwa iqrar adalah pernyataan seorang Muslim mengenai apa yang diyakininya. 

Dalam pandangan para ulama tasawuf, iqrar bukan hanya pernyataan verbal. Ia merupakan keselarasan antara hati, lisan, dan amal.

Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menjelaskan bahwa hakikat iman bukan sekadar ucapan, tetapi cahaya yang Allah tanamkan dalam hati sehingga melahirkan pembenaran dan ketundukan. Karena itu, syahadat yang hidup adalah syahadat yang mengubah cara pandang seseorang terhadap dirinya, terhadap dunia, dan terhadap Tuhannya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kesaksian tauhid bukan hanya diikrarkan oleh manusia, tetapi juga oleh Allah, para malaikat, dan orang-orang berilmu:

﴿شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ﴾

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu…” (QS. Ali ‘Imran: 18).

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan tauhid karena ia menjadi kesaksian bersama antara Allah, malaikat, dan ahli ilmu. Maka seorang mukmin yang bersyahadat sesungguhnya sedang bergabung dalam barisan para saksi kebenaran.

Dari Pengakuan Menuju Kejujuran Ruhani

Dalam dunia tasawuf, kejujuran (ṣidq) merupakan buah pertama dari iqrar yang benar. Banyak orang mampu mengucapkan syahadat, tetapi tidak semua mampu hidup sesuai tuntutannya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kejujuran adalah kesesuaian antara apa yang ada di dalam hati dengan apa yang tampak pada lisan dan perbuatan. Oleh karena itu, syahadat menjadi pembeda antara keimanan yang hidup dan kemunafikan yang tersembunyi.

Ketika seorang mukmin mengucapkan lā ilāha illallāh, ia sedang menyatakan bahwa tidak ada yang lebih dicintai daripada Allah, tidak ada yang lebih ditakuti daripada Allah, dan tidak ada yang lebih diharapkan selain Allah. Inilah makna penghambaan yang melahirkan ketenangan jiwa.

Syaikh Sa’id Hawwa dalam Tarbiyatunā ar-Rūḥiyyah menjelaskan bahwa tauhid yang benar akan membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan kepada makhluk, hawa nafsu, maupun dunia. Hati menjadi merdeka karena hanya bergantung kepada Allah semata.

Karena itu, syahadat bukan sekadar identitas keagamaan. Ia adalah deklarasi kemerdekaan ruhani yang membebaskan manusia dari segala sesembahan selain Allah.

Iqrar yang Menuntut Tanggung Jawab

Al-iqrar tidak berhenti pada pengakuan. Setiap pengakuan selalu melahirkan konsekuensi. Orang yang mengakui Allah sebagai Rabb wajib menaati-Nya. Orang yang mengakui Muhammad SAW sebagai Rasul wajib meneladani sunnahnya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dalam berbagai karya dakwahnya menegaskan bahwa iman yang benar selalu melahirkan amal. Sebab iman bukan sekadar keyakinan yang tersembunyi, tetapi energi yang menggerakkan kehidupan.

Inilah sebabnya para sahabat rela mengorbankan kenyamanan, harta, bahkan nyawa mereka. Mereka memahami bahwa syahadat adalah pernyataan yang harus dibuktikan. Bilal bin Rabah RA tetap mengucapkan, “Aḥad, Aḥad” di bawah siksaan karena iqrar yang telah memenuhi hatinya tidak lagi dapat dipisahkan dari kehidupannya.

Maka, al-iqrar adalah pintu pertama menuju kesempurnaan syahadat. Ia adalah pernyataan jujur yang lahir dari hati yang mengenal Allah. Namun sebuah pernyataan masih memerlukan penguat agar tetap kokoh ketika ujian datang. Karena itu, setelah memahami hakikat al-iqrar, kita perlu melangkah kepada dimensi berikutnya dari kandungan syahadat, yaitu al-qasam—sumpah setia seorang mukmin kepada Allah SWT yang mengikat dirinya untuk tetap teguh di jalan kebenaran dalam setiap keadaan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.