Enggan Membina karena Merasa Belum Cukup Ilmu

by -1522 Views

Pertanyaan: Ustadz saya merasa belum cukup ilmu, bolehkah saya tidak ikut membina? 

Dalam perjalanan dakwah dan tarbiyah, tidak sedikit kader yang merasa takut ketika diminta membina. Ada yang berkata, “Ilmu saya belum cukup,” atau “Saya masih banyak kekurangan.” 

Perasaan ini pada satu sisi menunjukkan adanya kejujuran hati dan sikap tawadhu’. Disisi lain, jika dibiarkan berlebihan, ia dapat berubah menjadi penghalang amal dan jalan masuk bagi syaitan untuk melemahkan dakwah.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam banyak tulisannya menegaskan bahwa dakwah bukanlah tugas orang yang telah sempurna, sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah. Dakwah adalah kewajiban setiap muslim sesuai kadar ilmu dan kemampuannya. 

Karena itu, yang terpenting bukan menunggu diri sempurna, melainkan terus berjalan dalam proses memperbaiki diri sambil mengajak orang lain menuju kebaikan.

Takut yang Melumpuhkan dan Tawadhu’ yang Menumbuhkan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ﴾
“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 39)

Dalam tafsirnya, Imam Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini memuji para dai yang tetap menyampaikan kebenaran meski memiliki kekhawatiran manusiawi. Hal yang tercela bukan rasa takut itu sendiri, melainkan ketika rasa takut mengalahkan kewajiban menyampaikan dakwah.

Syaitan sering meniupkan rasa tidak layak agar seseorang mundur dari medan amal. Dalam manhaj tarbiyah, ini dikenal sebagai takhwīf—upaya menakut-nakuti orang beriman agar sibuk menghitung kelemahan dirinya daripada mengingat pertolongan Allah.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. al-Bukhari)

Imam Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban menyampaikan ilmu sesuai kemampuan, meskipun sedikit. Dakwah tidak disyaratkan harus menjadi ulama besar terlebih dahulu.

Perasaan belum cukup ilmu hendaknya menjadi pendorong untuk terus belajar, bukan alasan meninggalkan amanah.

Membina Orang Lain, Hakikatnya Membina Diri

Diantara rahasia indah dalam dakwah adalah bahwa seorang murabbi sejatinya sedang mentarbiyah dirinya sendiri. Ketika ia menasihati orang lain tentang shalat malam, ia terdorong memperbaiki qiyamnya. Ketika ia berbicara tentang keikhlasan, ia sedang bercermin kepada hatinya sendiri.

Syaikh Said Hawwa dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyyah menjelaskan bahwa jalan dakwah adalah jalan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Seorang dai tidak boleh merasa paling suci, tetapi juga tidak boleh berhenti berdakwah hanya karena masih memiliki kekurangan.

Inilah keseimbangan yang diajarkan ulama rabbani: rendah hati tanpa kehilangan keberanian untuk beramal.

Dalam dunia tasawuf, para ulama menekankan bahwa rasa fakir dihadapan Allah justru menjadi sumber kekuatan ruhiyah. Semakin seseorang merasa membutuhkan Allah, semakin ia bersandar kepada-Nya. Karena itu, tawakkal menjadi bekal utama seorang pembina.

Allah berfirman:

﴿ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ﴾
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)

Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan seluruh keberhasilan dakwah bergantung pada pertolongan Allah, bukan semata kemampuan pribadi.

Bertahap, Penuh Kasih Sayang, dan Terus Belajar

Membina bukan pekerjaan yang menuntut kesempurnaan instan. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan tadarruj (bertahap), marhamah (kasih sayang), dan itqan (kesungguhan profesional).

Syaikh Muhammad al-Ghazali sering mengingatkan bahwa dakwah tidak dibangun dengan kekerasan hati, tetapi dengan cinta yang tulus kepada umat. Karena itu, seorang murabbi tidak perlu tampil seolah tanpa cela. Hal yang lebih penting adalah kejujuran, kemauan belajar, dan kesungguhan memperbaiki diri.Jika hari ini masih merasa belum layak, maka teruslah belajar. Namun jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai menebar manfaat. Sebab sering kali Allah memperbaiki seseorang justru ketika ia sedang berusaha memperbaiki orang lain. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.