Epilog: Relevansi Manhaj Hudaibiyah untuk Gerakan Islam Masa Kini

by -1532 Views

Enam tahun setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. 

Mereka tidak membawa perlengkapan perang, melainkan hewan kurban sebagai tanda kedamaian. 

Namun perjalanan itu berakhir dengan sebuah perjanjian yang pada pandangan sebagian sahabat tampak merugikan. Bahkan Umar bin Khaththab ra. termasuk yang merasakan kegelisahan mendalam atas isi perjanjian tersebut.

Akan tetapi, sejarah kemudian membuktikan bahwa apa yang tampak sebagai konsesi sesaat ternyata menjadi gerbang kemenangan terbesar dalam perjalanan dakwah Islam. Perjanjian Hudaibiyah mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu lahir dari konfrontasi, tetapi sering kali tumbuh dari kesabaran, visi strategis, dan kemampuan membaca momentum.

Karena itu, Hudaibiyah bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah manhaj, peta jalan, dan laboratorium strategis yang tetap relevan bagi para aktivis, pemimpin, dan gerakan Islam hingga hari ini.

Membangun Visi Jangka Panjang di Atas Gejolak Emosi

Salah satu pelajaran terbesar dari Hudaibiyah adalah pentingnya membedakan antara tujuan strategis dan reaksi emosional sesaat.

Dalam Manhaj Haraki, Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban mengingatkan bahwa gerakan Islam harus senantiasa menimbang langkah-langkahnya dengan timbangan manhaj kenabian, bukan dengan dorongan emosi atau tekanan keadaan. 

Beliau menegaskan bahwa para penggerak dakwah tidak boleh terjebak dalam tindakan reaktif yang mengorbankan tujuan besar perjuangan.

Pelajaran ini selaras dengan firman Allah ﷻ:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fushshilat: 34)

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi, ayat ini mengandung prinsip strategis bahwa menghadapi tantangan tidak selalu dilakukan dengan cara yang keras, tetapi dengan metode yang paling mendatangkan maslahat dan perubahan hati manusia.

Rasulullah ﷺ membuktikan hal tersebut di Hudaibiyah. Beliau tidak terpancing oleh provokasi dan gengsi politik. Fokus beliau adalah masa depan dakwah, bukan kemenangan simbolik sesaat.

Dakwah, Dialog, dan Politik Kemaslahatan

Peristiwa Hudaibiyah juga menunjukkan bahwa dakwah akan berkembang pesat ketika ruang dialog terbuka.

Dalam Fiqhus Sirah, Syaikh Muhammad al-Ghazali menjelaskan bahwa setelah suasana damai tercipta, manusia dapat saling bertemu, berbicara, dan mengenal Islam secara objektif. Akibatnya, banyak tokoh Arab yang sebelumnya memusuhi Islam justru masuk Islam pada masa pasca-Hudaibiyah.

Di sinilah relevansi penting bagi gerakan Islam masa kini. Dakwah tidak cukup hanya mengandalkan semangat, tetapi juga membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, menjalin kerja sama, dan mengelola perbedaan secara bijaksana.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam berbagai karya fikih dakwahnya menjelaskan bahwa syariat selalu mengarahkan umat untuk mempertimbangkan maqashid (tujuan besar) dan maslahah (kemanfaatan umum), selama tidak mengorbankan prinsip-prinsip akidah yang bersifat tetap.

Karena itu, keterlibatan di ruang sosial, politik, pendidikan, dan pelayanan masyarakat dapat menjadi sarana dakwah yang sah dan penting apabila diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan umat.

Menjadi Pembawa Rahmat, Bukan Sekadar Pemenang

Pada akhirnya, inti Hudaibiyah bukanlah sekadar kemenangan politik. Ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kemenangan nilai dan kemenangan hati manusia.

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’: 107)

Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir, rahmat yang dibawa Rasulullah ﷺ mencakup seluruh aspek kehidupan manusia: akidah, akhlak, sosial, hingga tata kelola masyarakat.

Hudaibiyah adalah manifestasi nyata dari rahmat tersebut. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa prinsip harus tetap kokoh, tetapi metode dapat fleksibel. Tujuan harus jelas, tetapi langkah harus penuh hikmah. Semangat perjuangan harus menyala, tetapi hati tetap dipenuhi kasih sayang.

Bagi gerakan Islam masa kini, manhaj Hudaibiyah mengajarkan satu pesan penting: jangan hanya berfokus pada bagaimana memenangkan pertarungan, tetapi fokuslah pada bagaimana menghadirkan rahmat, membangun kepercayaan, dan membuka jalan hidayah bagi manusia.Karena kemenangan yang paling besar bukanlah ketika lawan berhasil dikalahkan, melainkan ketika hati manusia berhasil didekatkan kepada Allah SWT. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.