Ketika Perubahan Besar Dimulai dari Lingkaran Kecil

by -1629 Views

Dalam sejarah dakwah, perubahan besar hampir selalu diawali oleh kelompok kecil yang dibina dengan penuh kesabaran. Rasulullah ﷺ memulai dakwahnya dari rumah Al-Arqam. Demikian pula perjalanan ’Aisyiyah. 

Organisasi besar yang kini dikenal luas di berbagai penjuru negeri itu sesungguhnya berakar dari sebuah majelis kecil yang sederhana, namun sarat dengan cinta, ilmu, dan harapan.

Majelis itu bernama Sopo Tresno.

Dalam bahasa Jawa, Sopo Tresno dapat dimaknai sebagai “siapa yang mencintai”. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan filosofi dakwah yang mendalam. Dakwah tidak selalu dimulai dengan instruksi dan tuntutan, melainkan dengan sentuhan kasih sayang yang menghidupkan hati.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghaib menjelaskan bahwa hikmah dalam dakwah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, memahami kondisi mad’u, lalu menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling bijaksana. 

Inilah yang tampak dalam pendekatan Nyai Ahmad Dahlan ketika membina para gadis muda Kauman.

Sopo Tresno: Menanam Benih Kesadaran

Sekitar tahun 1914, Nyai Ahmad Dahlan mulai mengumpulkan remaja-remaja putri di Kauman. Ditengah situasi masyarakat yang masih memandang pendidikan perempuan sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting, beliau justru membuka ruang belajar bagi mereka.

Di rumah sederhana itu, para gadis diajarkan membaca, menulis, memahami agama, serta mengkaji Al-Qur’an secara lebih mendalam. Bukan sekadar membaca lafaznya, tetapi juga memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Semangat ini sejalan dengan perintah pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini merupakan fondasi penting bagi kebangkitan peradaban Islam, karena wahyu pertama yang turun bukanlah perintah berkuasa, melainkan perintah belajar. Karena itu, membuka akses ilmu bagi perempuan merupakan bagian dari menghidupkan spirit Al-Qur’an itu sendiri.

Dari Sopo Tresno, lahirlah generasi Muslimah yang mulai menyadari bahwa menuntut ilmu bukan hanya hak, tetapi juga amanah.

Memilih Nama, Memilih Arah Perjuangan

Seiring waktu, Sopo Tresno berkembang. Pembinaan yang konsisten melahirkan kader-kader perempuan yang matang secara keilmuan dan kepribadian. Maka muncullah kebutuhan untuk membentuk organisasi yang lebih terstruktur.

Pada tahun 1917, berlangsung musyawarah bersejarah di Kauman. Dalam forum tersebut hadir para tokoh Muhammadiyah bersama sejumlah kader muda perempuan yang selama ini dibina melalui Sopo Tresno.

Musyawarah kemudian membahas nama yang akan digunakan. Setelah melalui berbagai pertimbangan, dipilihlah nama ’Aisyiyah.

Pilihan ini bukan tanpa makna. Nama tersebut diambil dari Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, salah seorang perempuan paling berilmu dalam sejarah Islam.

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ menjelaskan bahwa Sayyidah ‘Aisyah termasuk ulama besar di kalangan sahabat. Banyak sahabat senior yang merujuk kepadanya dalam persoalan agama, hadits, dan hukum Islam.

Dengan memilih nama ’Aisyiyah, para pendiri gerakan ini seakan sedang mengirim pesan kepada generasi Muslimah Indonesia: perempuan berilmu bukanlah hal baru dalam Islam. Ia memiliki akar yang kuat dalam sejarah umat.

Dengan Cinta Membangun Peradaban

Ada pelajaran penting yang dapat kita renungkan dari perjalanan Sopo Tresno menuju ’Aisyiyah. Bahwa perubahan tidak lahir secara instan. Ia bertumbuh melalui proses tarbiyah yang sabar, pembinaan yang berkelanjutan, dan ketulusan dalam melayani umat.

Dalam perspektif tasawuf, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa amal yang besar sering kali bermula dari niat yang ikhlas dan langkah yang kecil tetapi istiqamah. Beliau menulis:

فَالْقَلِيلُ الدَّائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْكَثِيرِ الْمُنْقَطِعِ

“Amal yang sedikit namun terus-menerus lebih baik daripada amal yang banyak tetapi terputus.”

Nilai itulah yang tampak dalam perjalanan awal ’Aisyiyah. Sebuah pengajian kecil tumbuh menjadi gerakan besar. Sebuah lingkaran belajar sederhana melahirkan perubahan sosial yang luas. Dan semua itu berawal dari cinta kepada Allah, cinta kepada ilmu, serta cinta kepada sesama.

Maka bagi Muslimah masa kini, kisah Sopo Tresno bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa setiap majelis taklim, setiap halaqah, dan setiap ruang pembinaan yang dijalankan dengan ikhlas dapat menjadi benih lahirnya peradaban yang lebih baik. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.