Konten-Konten Pendek Membentuk Pola Berpikir

by -1382 Views

Ada sesuatu yang perlu kita waspadai dari budaya konten pendek.

Bukan karena video pendek itu selalu buruk. Bukan pula karena semua short content tidak memiliki manfaat. Dalam banyak keadaan, video berdurasi satu menit justru sangat berguna untuk menyampaikan satu informasi sederhana, memperkenalkan sebuah gagasan, atau membangkitkan minat seseorang untuk mempelajari sesuatu lebih jauh.

Persoalannya muncul ketika format konten mulai berubah menjadi format berpikir.

Kita mulai mengharapkan semua persoalan dapat dijelaskan dalam satu menit. Semua perdebatan harus selesai dalam satu thread. Semua persoalan fikih harus dijawab dalam satu reels. Semua persoalan politik cukup dengan satu headline.

Semua persoalan dakwah cukup dengan satu slogan. Semua persoalan manusia cukup dengan satu kalimat motivasi. Pada titik inilah persoalan menjadi lebih serius.

Sebab kehidupan tidak selalu pendek, realitas tidak selalu sederhana, dan ilmu tidak selalu dapat diringkas tanpa kehilangan sebagian maknanya.

Seorang kader dakwah tidak hanya membutuhkan kemampuan mengetahui dengan cepat, tetapi juga kemampuan memahami dengan mendalam.

Kemampuan kedua inilah yang sedang terancam oleh budaya short content.

Tidak Semua Persoalan Bisa Dijelaskan dalam Satu Menit

Ada persoalan yang memang sederhana. Misalnya, bagaimana cara melakukan suatu prosedur teknis tertentu. Informasi semacam ini mungkin cukup dijelaskan dalam beberapa detik.

Tetapi ada persoalan yang kompleks. Mengapa sebuah masyarakat mengalami kemiskinan? Mengapa sebuah organisasi mengalami konflik? Bagaimana membangun karakter kader? Apa sebab kemunduran umat? Bagaimana memahami hubungan antara kebebasan, tanggung jawab, dan syariat? Bagaimana menyusun strategi dakwah dalam masyarakat yang berubah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mungkin dijawab secara bertanggung jawab hanya dengan satu atau dua kalimat.

Namun budaya digital sering membuat kita tidak sabar terhadap jawaban yang panjang. Kita menginginkan jawaban yang segera, sederhana, dan memuaskan. Di sinilah penyederhanaan dapat berubah menjadi distorsi.

Johann Hari dalam Stolen Focus memperingatkan: “Jika Anda membuat orang membaca dengan cepat, mereka akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk bergulat dengan materi yang kompleks atau menantang. Mereka mulai lebih menyukai pernyataan yang simplistik”.

Pernyataan ini penting bagi kader dakwah.

Tugas seorang kader bukan hanya menghadapi persoalan sederhana, tetapi juga persoalan umat yang kompleks. Kemiskinan tidak hanya persoalan ekonomi. Konflik tidak hanya persoalan siapa yang salah. Krisis pendidikan tidak hanya persoalan kurikulum. Krisis dakwah tidak hanya persoalan kurangnya jumlah dai.

Semua memiliki akar, sebab, struktur, konteks, dan hubungan yang saling berkaitan. Karena itu, kedalaman berpikir merupakan kebutuhan dakwah, bukan kemewahan intelektual.

Ketika Dunia Harus Selalu Sederhana

Ada kecenderungan psikologis manusia untuk menyukai pola yang sederhana. Kita ingin dunia mudah dipahami. Kita ingin mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita ingin menemukan sebab tunggal untuk persoalan yang kompleks. Kita ingin memiliki jawaban yang tegas.

Masalahnya, realitas sering tidak sesederhana itu.

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking menjelaskan: “Kebutuhan kita akan narasi yang kuat sangatlah besar sehingga kita mengabaikan fakta… bagaimana kebutuhan kita untuk menemukan pola membuat pandangan dunia kita menjadi simplistik”.

Kecenderungan tersebut dapat menjadi sangat berbahaya ketika masuk ke dalam kehidupan dakwah. Seorang kader dapat melihat sebuah konflik organisasi lalu segera menyimpulkan: “Ini karena orang itu tidak ikhlas.”

Melihat sebuah kebijakan lalu berkata: “Ini pasti karena kepentingan politik.” Melihat sebuah persoalan sosial lalu mengatakan: “Ini karena masyarakat sudah rusak.”

Padahal mungkin ada banyak faktor yang bekerja secara bersamaan. Kesimpulan yang terlalu cepat sering memberikan kenyamanan psikologis, tetapi belum tentu memberikan kebenaran.

Disinilah kita harus membedakan antara kesederhanaan penjelasan dan penyederhanaan realitas. Hal yang pertama dapat membantu. Tetapi, yang kedua dapat menyesatkan. Seorang kader harus mampu menjelaskan sesuatu dengan sederhana tanpa menyederhanakan persoalan secara berlebihan.

Itulah salah satu tanda kedewasaan intelektual.

Budaya Instant Answer dan Hilangnya Kesabaran Intelektual

Media digital telah membentuk ekspektasi baru: semuanya harus segera tersedia. Kita bertanya kepada Google. Jawaban muncul. Kita bertanya kepada AI. Jawaban muncul. Kita membuka media sosial. Penjelasan muncul.

Kita memiliki pertanyaan. Kita ingin jawaban sekarang. Lama-kelamaan, kecepatan memperoleh jawaban membentuk cara kita memandang proses belajar.

Kita tidak lagi bertanya: “Bagaimana saya memahami persoalan ini?” Tetapi: “Apa jawaban paling cepat untuk pertanyaan ini?”

Inilah budaya instant answer.

Johann Hari menggambarkan pesan yang dibawa oleh budaya media sosial dengan sangat jelas: “Pertama: Anda tidak boleh fokus pada satu hal terlalu lama. Dunia dapat dan harus dipahami dalam pernyataan pendek dan sederhana sebanyak 280 karakter. Kedua: dunia harus diinterpretasikan dan dipahami dengan sangat cepat”.

Masalahnya, tradisi ilmu justru mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Ada ilmu yang membutuhkan waktu. Ada kitab yang harus diselesaikan. Ada konsep yang harus diulang. Ada persoalan yang harus didiskusikan. Ada guru yang harus ditanya. Ada pemahaman yang harus direnungkan. Ada kesalahan yang harus dikoreksi.

Semua itu tidak dapat dilakukan secara instan.

Tafaqquh fiddin bukan proses mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya. Ia adalah proses mendalam untuk memahami agama. Karena itu, hilangnya kesabaran membaca dan belajar merupakan ancaman serius bagi kaderisasi.

Kelelahan Kognitif: Ketika Pikiran Terlalu Banyak Berpindah

Kita sering merasa bahwa berpindah dari satu konten ke konten lain adalah bentuk produktivitas.

Menonton satu video. Kemudian membuka WhatsApp. Berpindah ke Telegram. Membaca berita. Membuka Instagram. Melihat komentar. Kembali ke YouTube. Kemudian mencari sesuatu di Google. Semuanya terasa seperti aktivitas belajar.

Padahal pikiran sedang mengalami fragmentasi.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menjelaskan: “Mencoba mencari tahu apa yang perlu Anda ketahui dan apa yang dapat Anda abaikan sangatlah melelahkan… kita melakukan pekerjaan sepuluh orang yang berbeda sambil tetap berusaha menjaga kehidupan kita”.

Masalahnya bukan hanya banyaknya informasi. Masalahnya adalah banyaknya perpindahan perhatian. Setiap perpindahan membutuhkan energi. Dan setiap gangguan membuat kita harus membangun kembali konteks yang sebelumnya sedang diproses.

Levitin bahkan memberikan gambaran yang sangat kuat: “Kesadaran akan adanya email yang belum dibaca di kotak masuk Anda dapat secara efektif mengurangi IQ Anda sebesar 10 poin”.

Terlepas dari cara kita memahami angka tersebut, pesan utamanya sangat penting: gangguan kecil memiliki biaya kognitif.

Bayangkan seorang kader sedang membaca kitab. Baru sepuluh menit membaca, muncul notifikasi. Ia membuka ponsel. Melihat satu pesan. Kemudian melihat satu video. Video tersebut mengarah kepada video lain. Lima belas menit berlalu.

Ia kembali kepada kitab. Tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain. Secara fisik ia kembali kepada kitab. Secara mental belum tentu. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.