Malas Membaca Buku, Merasa Cukup dengan Ringkasan

by -1440 Views

Ada sebuah gejala yang semakin mudah ditemukan di kalangan pembelajar pada era digital: mengetahui banyak buku tanpa pernah benar-benar membacanya.

Seseorang dapat menyebut puluhan judul buku. Ia dapat membagikan kutipan dari berbagai penulis, menonton video book review, mengikuti akun yang membahas buku, bahkan memiliki folder berisi ratusan ebook. Namun ketika ditanya, “Buku mana yang sudah Anda baca sampai selesai?”, jawabannya sering kali tidak sebanding dengan banyaknya buku yang ia klaim sebagai referensi.

Inilah salah satu bentuk ilusi pembelajaran.

Kita merasa dekat dengan ilmu karena setiap hari bersentuhan dengan konten tentang ilmu. Kita merasa telah membaca karena mengetahui isi sebuah buku dari ringkasannya. Kita merasa memahami seorang ulama karena sering melihat kutipannya. Padahal, berkenalan dengan isi buku tidak sama dengan menjalani proses membaca buku.

Disinilah persoalan yang perlu kita hadapi dengan jujur: apakah kita benar-benar sedang belajar, atau hanya sedang mengonsumsi berbagai tanda tentang ilmu?

Mengapa Membaca Buku Tetap Penting?

Buku bukan sekadar kumpulan informasi yang dapat dipindahkan ke dalam beberapa poin utama. Buku adalah ruang dialog intelektual antara penulis dan pembacanya.

Ketika seseorang membaca sebuah buku secara utuh, ia tidak hanya memperoleh kesimpulan. Ia mengikuti bagaimana penulis sampai kepada kesimpulan tersebut. Ia melihat pertanyaan yang diajukan, asumsi yang digunakan, bukti yang dikumpulkan, argumentasi yang dibangun, keberatan yang dijawab, dan kesimpulan yang akhirnya dirumuskan.

Karena itu, membaca buku membutuhkan waktu.

Johann Hari dalam Stolen Focus menjelaskan betapa pentingnya aktivitas tersebut: “Bagi banyak dari kita, membaca buku adalah bentuk fokus terdalam yang kita alami—Anda mendedikasikan berjam-jam hidup Anda, dengan tenang, pada satu topik, dan membiarkannya meresap dalam pikiran Anda.”

Perhatikan ungkapan “mendedikasikan berjam-jam hidup Anda”. Disitulah salah satu nilai penting membaca.

Membaca bukan hanya aktivitas memperoleh informasi. Membaca adalah latihan memberikan perhatian kepada sesuatu secara cukup lama sehingga sesuatu itu dapat bekerja di dalam pikiran kita.

Dalam dunia yang mengajarkan kita berpindah setiap beberapa detik dari satu konten ke konten lain, kemampuan untuk tinggal bersama sebuah buku menjadi semakin berharga.

Buku juga merupakan salah satu bentuk penyimpanan pengetahuan manusia.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menyebut: “Secara historis, perpanjangan otak (brain extenders) yang paling utama adalah buku, menjaga centuries’ worth dari pengetahuan terkumpul yang dapat kita akses saat kita membutuhkannya.”

Buku memungkinkan pengalaman, penelitian, pemikiran, dan refleksi seseorang yang berlangsung bertahun-tahun diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ketika seorang kader memilih membaca sebuah buku dengan serius, sesungguhnya ia sedang memasuki percakapan dengan pemikiran yang mungkin telah dibangun penulisnya selama puluhan tahun.

Itu tidak dapat digantikan oleh sebuah quote card berdurasi lima belas detik.

Buku Bukan Sekadar Kumpulan Informasi

Kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan buku seperti gudang informasi. Jika yang dicari hanya informasi, maka ringkasan memang tampak lebih efisien. Misalnya, sebuah buku terdiri atas 300 halaman. Kemudian seseorang membuat ringkasan dua puluh halaman. Kita mungkin berpikir: “Mengapa harus membaca 300 halaman kalau inti bukunya bisa diperoleh dalam dua puluh halaman?”

Pertanyaan tersebut tampak rasional. Tetapi masalahnya adalah: apa yang disebut “inti” itu ditentukan oleh siapa? Ringkasan adalah hasil pembacaan orang lain. Ia merupakan interpretasi seseorang terhadap buku tersebut.

Ketika kita hanya membaca ringkasan, kita bukan hanya kehilangan detail. Kita juga kehilangan kesempatan untuk menilai sendiri argumentasi penulis.Kita tidak mengetahui mengapa sebuah kesimpulan dibuat. Kita tidak melihat bagaimana sebuah premis dibangun. Kita tidak mengetahui keberatan apa yang sebenarnya sedang dijawab.

Bahkan kita mungkin tidak menyadari bahwa kesimpulan yang diringkas sebenarnya memiliki banyak syarat, batasan, dan konteks. Karena itu, membaca buku secara utuh bukan pemborosan waktu.

Justru waktu yang digunakan untuk memahami struktur pemikiran adalah bagian dari proses memperoleh ilmu.

Memahami Struktur Argumentasi Secara Utuh

Salah satu keunggulan buku adalah kemampuannya membawa pembaca dari satu gagasan menuju gagasan berikutnya. Penulis tidak selalu memberikan kesimpulan pada halaman pertama. Ia mengajak pembaca berjalan.

Ada pertanyaan. Ada persoalan. Ada data. Ada analisis. Ada perbandingan. Ada argumentasi. Ada sanggahan. Kemudian baru muncul kesimpulan.

Inilah proses yang sering hilang ketika seseorang hanya membaca ringkasan.

Johann Hari menjelaskan bahwa medium buku mengajarkan kita sebuah kebiasaan intelektual yang berbeda: “Pertama, hidup itu kompleks, dan jika Anda ingin memahaminya, Anda harus meluangkan waktu yang cukup untuk memikirkannya secara mendalam. Anda perlu memperlambat langkah.”

Ini sangat relevan bagi aktivis dakwah. Persoalan umat tidak selalu sederhana. Kemiskinan tidak hanya persoalan ekonomi. Pendidikan tidak hanya persoalan sekolah. Krisis keluarga tidak hanya persoalan moral individu. Problem politik tidak hanya persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bahkan persoalan fikrah dan dakwah pun tidak selalu dapat dijelaskan dengan satu kutipan atau satu potongan video.

Realitas yang kompleks membutuhkan pikiran yang mampu bertahan dalam kompleksitas. Kemampuan tersebut tidak lahir dari kebiasaan mengonsumsi ringkasan.

Bahaya Summary Addiction

Ringkasan pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk.

Ringkasan dapat membantu seseorang mendapatkan gambaran awal. Ia dapat menjadi peta sebelum memasuki sebuah buku. Ia juga dapat membantu seseorang mengingat kembali gagasan utama setelah membaca.

Masalah muncul ketika ringkasan tidak lagi menjadi pintu menuju buku, tetapi menjadi pengganti buku.

Inilah yang dapat disebut sebagai summary addiction.

Kita mulai mencari: “5 pelajaran dari buku ini,” “10 ide penting dari buku itu,” “3 hal yang harus Anda tahu,” “ringkasan buku dalam 10 menit,” “inti kitab dalam satu video.” Akhirnya, kita tidak lagi mencari ilmu. Kita mencari jalan tercepat untuk merasa telah memperoleh ilmu.

Padahal proses belajar tidak selalu nyaman. Ada bagian yang membingungkan. Ada paragraf yang harus dibaca ulang. Ada istilah yang perlu dicari. Ada argumentasi yang harus direnungkan. Ada halaman yang mungkin tidak langsung menarik. Justru di sanalah terjadi proses pembentukan kemampuan berpikir.

Johann Hari memberikan peringatan: “Jika Anda membuat orang membaca dengan cepat, mereka akan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk bergulat dengan materi yang kompleks atau menantang. Mereka mulai lebih menyukai pernyataan yang simplistik.”

Kader dakwah harus berhati-hati terhadap kecenderungan ini. Sebab tugas seorang kader bukan hanya mampu menjelaskan sesuatu dengan sederhana, tetapi juga mampu memahami sesuatu yang memang tidak sederhana.

Kesederhanaan dalam menyampaikan adalah keutamaan. Tetapi menyederhanakan realitas yang kompleks secara berlebihan adalah persoalan lain.

Membaca Kutipan Tidak Sama dengan Membaca Buku

Budaya digital telah melahirkan fenomena quote culture. Sebuah kalimat dari seorang ulama atau pemikir dipotong, ditempatkan di atas gambar yang menarik, lalu dibagikan ribuan kali.

Kadang kutipannya benar. Kadang terjemahannya kurang tepat. Kadang konteksnya hilang. Kadang bahkan seseorang mengutip seorang penulis tanpa pernah membaca bukunya.

Di sinilah kita perlu membedakan: mengetahui apa yang dikatakan seseorang dengan: memahami apa yang dimaksudkan oleh seseorang.

Kutipan hanya memberikan satu titik. Buku memberikan peta. Kutipan mungkin memberi kita sebuah kesimpulan. Buku memperlihatkan bagaimana kesimpulan itu dibangun. Kutipan dapat menginspirasi. Tetapi pembacaan mendalam membentuk cara berpikir. Karena itu, seorang kader hendaknya tidak cepat puas ketika menemukan sebuah kutipan yang terasa sesuai dengan pendapatnya.

Justru ketika menemukan kutipan yang menarik, hendaknya muncul pertanyaan: “Dimana penulis mengatakan ini?” “Apa konteksnya?” “Apa argumentasi lengkapnya?” “Apakah ada syarat atau pengecualian?” “Apa yang dimaksud penulis dengan istilah tersebut?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang mengubah konsumsi informasi menjadi pembelajaran. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.