Hilangnya Tradisi Membaca Literatur Primer

by -1533 Views

Ada satu perubahan penting dalam cara manusia belajar di era digital: kita semakin sering mengetahui sesuatu melalui orang yang telah membacanya, daripada membacanya sendiri.

Kita mengetahui pemikiran seorang ulama dari ceramah ustadz tentang ulama tersebut. Kita mengenal sebuah kitab dari review seseorang tentang kitab itu. Kita memahami gagasan seorang tokoh dari kutipan yang beredar di media sosial. Kita bahkan membentuk penilaian terhadap sebuah buku tanpa pernah membuka satu halamanpun dari buku tersebut.

Pada titik tertentu, keadaan ini tampak efisien. Bukankah lebih mudah mendengarkan seseorang menjelaskan sebuah buku selama sepuluh menit daripada membacanya selama sepuluh jam?

Namun, persoalannya bukan sekadar soal efisiensi waktu.

Ada sesuatu yang hilang ketika kita terlalu sering belajar melalui orang yang telah belajar, tanpa pernah mendekati sumber yang dipelajarinya.

Tanpa membaca, kita kehilangan konteks, struktur argumentasi, istilah dalam makna aslinya, nuansa pemikiran penulis. Dan dalam banyak keadaan, yang hilang adalah kemampuan kita untuk membedakan antara apa yang sebenarnya dikatakan seorang ulama dengan apa yang dikatakan orang tentang ulama tersebut.

Disinilah krisis literatur primer bermula.

Seorang kader mungkin mengenal puluhan kitab. Ia mengetahui judulnya, nama penulisnya, bahkan beberapa kutipan terkenalnya. Tetapi ketika ditanya, “Sudahkah Anda membaca kitabnya?”, jawabannya sering kali: “Belum. Saya pernah mendengar penjelasan ustadz tentang kitab itu.”

Maka kita perlu bertanya lebih serius: Apakah mengenal pendapat seseorang sama dengan mengenal pemikirannya? Jawabannya tentu tidak.

Tradisi ilmu membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh algoritma: kedekatan dengan sumber, bimbingan guru, kesabaran membaca, dan proses memahami secara langsung.

Apa yang Dimaksud dengan Literatur Primer?

Secara sederhana, literatur primer adalah karya asli dari seorang penulis, ulama, pemikir, atau peneliti yang menjadi sumber utama suatu gagasan.

Jika kita ingin memahami pemikiran Imam Al-Ghazali, maka Ihya’ ‘Ulum al-Din adalah salah satu sumber primer. Jika ingin memahami gagasan Said Hawwa tentang pembentukan kader, maka karya-karya Said Hawwa perlu dibaca langsung, bukan hanya melalui artikel yang menjelaskan Said Hawwa.

Demikian pula ketika kita ingin memahami suatu teori, hukum, gagasan politik, filsafat, atau pemikiran seorang tokoh: ada perbedaan besar antara membaca sumber asli dan membaca penjelasan orang lain tentang sumber tersebut.

Sumber sekunder tetap penting. Bahkan sangat penting.

Syarah, komentar, artikel, buku pengantar, penelitian akademik, dan ceramah guru membantu kita memahami teks yang sulit. Tetapi sumber sekunder semestinya berfungsi sebagai jembatan menuju sumber primer, bukan selalu menjadi pengganti sumber primer.

Persoalannya menjadi semakin serius di era internet.

Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind menjelaskan bahwa ketersediaan informasi yang sangat luas justru membuat persoalan otoritas semakin rumit: “Saat pengetahuan menjadi lebih tersedia—dan terdesentralisasi melalui Internet—notasi tentang akurasi dan otoritas telah menjadi kabur.”

Dahulu, keterbatasan akses memaksa seseorang mendatangi perpustakaan, mencari kitab, bertanya kepada guru, dan memeriksa referensi. Kini, satu pertanyaan di mesin pencari dapat menghasilkan ribuan jawaban.

Namun banyaknya jawaban tidak otomatis membuat kita lebih dekat kepada kebenaran. Justru karena semuanya tersedia, kita harus semakin mampu bertanya:

Siapa sumbernya? Dari mana informasi ini berasal? Apa teks aslinya? Dalam konteks apa pernyataan itu disampaikan? Apakah ini benar-benar pendapat penulis atau interpretasi orang lain?

Itulah sebabnya literasi informasi harus berlanjut menjadi literasi sumber.

Bahaya Memahami Pemikiran Melalui Kutipan Orang Lain

Salah satu kebiasaan yang semakin umum di media sosial adalah membaca quote.

Sebuah kalimat ditampilkan dengan foto seorang ulama. Di bawahnya terdapat nama tokoh besar. Kalimatnya terdengar indah, mendalam, dan sangat sesuai dengan apa yang ingin kita percayai. Kita kemudian membagikannya.

Masalahnya: apakah benar tokoh tersebut pernah mengatakan kalimat itu? Jika memang benar, pertanyaan berikutnya lebih penting: Dalam konteks apa ia mengatakannya? Sebuah kalimat yang benar dapat menghasilkan pemahaman yang salah apabila dipisahkan dari konteksnya.

Lebih jauh lagi, seseorang dapat dikonstruksi seolah-olah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ia maksudkan hanya dengan mengambil beberapa kalimat dari karya atau ceramahnya.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise menggambarkan persoalan yang lebih besar dari budaya informasi digital: “Saya khawatir kita sedang menyaksikan kematian dari cita-cita keahlian itu sendiri, sebuah keruntuhan yang didorong oleh Google, berbasis Wikipedia, dan dipenuhi blog atas pembagian apa pun antara profesional dan orang awam.”

Persoalannya bukan bahwa orang awam tidak boleh belajar. Justru Islam mendorong setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Persoalannya adalah ketika akses informasi menciptakan ilusi kompetensi.

Seseorang baru membaca dua kutipan tentang sebuah persoalan, lalu merasa sudah memahami seluruh perdebatan. Ia mendengar satu potongan ceramah, kemudian merasa telah mengetahui sikap seorang ulama. Ia membaca satu artikel tentang sebuah kitab, lalu merasa tidak perlu membaca kitab tersebut.

Disinilah sekundaritas yang berlebihan menjadi problem. Kita bukan lagi membaca pemikiran. Kita membaca interpretasi atas pemikiran. Ketika interpretasi itu diteruskan berkali-kali, kita akhirnya semakin jauh dari sumber asli.

Tradisi Ilmu Islam: Dekat dengan Sumber, Dekat dengan Guru

Tradisi keilmuan Islam sesungguhnya memiliki mekanisme yang sangat kuat untuk mencegah persoalan semacam ini. Tradisi tersebut tidak hanya mengenal kitab, tetapi juga sanad, guru, talaqqi, syarah, tahqiq, dan adab dalam mengambil ilmu.

Seorang penuntut ilmu tidak sekadar bertanya: “Apa pendapatnya?” Tetapi juga: “Dari mana pendapat itu berasal?” “Apa dalilnya?” “Bagaimana ulama memahami dalil tersebut?” “Apa konteksnya?” “Apa maksud istilah yang digunakan?” “Bagaimana pendapat tersebut ditempatkan dalam keseluruhan pemikirannya?”

Inilah yang membedakan menerima informasi dengan menuntut ilmu.

Said Hawwa dalam Al-Mustakhlas fī Tazkiyatil Anfus memberikan contoh menarik dalam hubungannya dengan Imam Al-Ghazali. Ia kembali kepada karya asli Al-Ghazali, terutama Ihya’ ‘Ulum al-Din, bukan sekadar mengambil kesimpulan dari orang lain.

Ia menjelaskan: “Al-Ghazali di zamannya menghadapi kelemahan dalam kehidupan ruhani yang kita hadapi sekarang, sehingga obat yang ia tawarkan sangat tepat.” Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya membaca seorang ulama dalam keseluruhan konteks pemikirannya.

Said Hawwa tidak sekadar berkata, “Al-Ghazali mengatakan ini.”

Ia berusaha memahami mengapa Al-Ghazali mengatakan itu, persoalan apa yang sedang dihadapi, bagaimana kondisi umat pada zamannya, dan bagaimana gagasan tersebut dapat memberikan jawaban terhadap persoalan pembinaan ruhani.

Inilah cara membaca yang melahirkan pemahaman.

Mengenal Penulis Sebelum Mengambil Pendapatnya

Ada persoalan lain yang sering dilupakan dalam budaya digital: kita sering mengambil sebuah pendapat tanpa mengenal siapa yang mengatakannya. Sebuah kutipan tampak bagus, maka kita ambil.

Padahal dalam tradisi ilmu, identitas dan kompetensi sumber sangat penting. Apakah ia seorang ahli hadis? Ahli tafsir? Ahli fikih? Filosof? Sejarawan? Peneliti sosial? Atau sekadar komentator?

Semua memiliki ruang keahlian masing-masing.

Karena itu, mengenal penulis bukan sekadar mengetahui namanya. Kita perlu mengetahui latar belakang keilmuan, disiplin yang dikuasai, karya-karyanya, metodologinya, dan konteks pemikirannya.

Ini bukan berarti setiap kader harus menjadi pakar dalam jarh wa ta’dil, kritik sanad, atau sejarah intelektual. Tidak. Tetapi seorang kader perlu memiliki kesadaran sumber.

Ketika membaca sebuah buku, ia setidaknya mengetahui: siapa penulisnya; bidang keahliannya; apa tujuan penulisan kitab; kepada siapa kitab itu ditujukan; istilah-istilah khusus yang digunakan; dan bagaimana posisi kitab tersebut dalam keseluruhan pemikirannya.

Dengan demikian, kita tidak memperlakukan semua informasi sebagai benda yang memiliki bobot yang sama. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.