Belajar Tanpa Metodologi

by -1351 Views

Ada jenis ketidaktahuan yang mudah dikenali: seseorang tidak tahu. Tetapi ada jenis ketidaktahuan yang jauh lebih berbahaya: seseorang merasa tahu, padahal ia tidak memahami bagaimana sesuatu itu diketahui.

Di era digital, persoalan kedua ini semakin mudah terjadi.

Seorang kader dapat mengetahui banyak hal. Ia mengikuti kajian agama, membaca berita politik, menyaksikan diskusi sejarah, mengikuti perkembangan ekonomi, menyimpan berbagai artikel, dan bergabung dalam banyak grup percakapan. Dalam satu hari, mungkin ia berjumpa dengan lebih banyak informasi daripada yang dapat dibaca manusia beberapa generasi sebelumnya.

Tetapi ketika ditanya: “Mengapa Anda mempercayai informasi itu?” “Apa sumbernya?” “Apa dalilnya?” “Bagaimana kesimpulan itu dibangun?” “Apa yang merupakan fakta dan apa yang merupakan interpretasi?” “Apa metode yang digunakan untuk membuktikannya?” 

Sering kali kita menemukan persoalan yang lebih mendasar: Ia mengetahui jawabannya, tetapi tidak mengetahui bagaimana jawaban itu diperoleh.

Inilah yang dimaksud dengan belajar tanpa metodologi.

Krisis ini tidak selalu tampak sebagai kekurangan pengetahuan. Justru sebaliknya, ia sering muncul dalam diri orang yang tampaknya memiliki banyak pengetahuan. Masalahnya adalah pengetahuan tersebut tidak tersusun dalam kerangka yang kokoh.

Tom Nichols dalam The Death of Expertise memberikan peringatan yang sangat relevan: “Mengetahui hal-hal (knowing things) tidak sama dengan memahaminya (understanding them). Pemahaman bukanlah permainan salon yang dimainkan dengan fakta-fakta kecil.”

Seorang kader mungkin mengetahui banyak fakta, tetapi belum tentu mampu memahami hubungan antara fakta-fakta tersebut. Ia mungkin hafal banyak dalil, tetapi belum tentu memahami cara menggunakan dalil. Ia mungkin mengetahui banyak pendapat ulama, tetapi belum tentu memahami mengapa ulama tersebut sampai kepada pendapat itu. Dan ia mungkin mampu memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu mampu menemukan kebenaran.

Disinilah kebutuhan terhadap metodologi ilmu menjadi sangat penting.

Ilmu Memiliki Metodologi

Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi.

Dibalik setiap ilmu terdapat cara tertentu untuk memperoleh, menguji, mengorganisasi, dan menyimpulkan pengetahuan.

Dalam ilmu hadis, misalnya, terdapat pembahasan tentang sanad, matan, kualitas perawi, kesinambungan sanad, dan berbagai kaidah untuk menilai riwayat. Dalam ilmu fikih terdapat ushul al-fiqh, kaidah istinbath, pemahaman terhadap nash, bahasa Arab, maqashid, dan berbagai perangkat lainnya. Dalam tafsir terdapat perangkat yang berbeda. Dalam sejarah terdapat kritik sumber dan penilaian terhadap kesaksian. Dalam ilmu sosial terdapat metode penelitian yang berbeda dari ilmu-ilmu keislaman normatif. Dalam ilmu politik, data, institusi, perilaku manusia, sejarah, dan konteks kekuasaan harus dibaca dengan perangkat yang sesuai.

Tidak semua pertanyaan dapat dijawab dengan cara yang sama. Kita tidak dapat mengambil sebuah unggahan media sosial kemudian memperlakukannya seperti kitab hadis. Kita tidak dapat memperlakukan pendapat politik sebagai fakta ilmiah hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan. Kita tidak dapat menganggap interpretasi seorang ulama sebagai teks wahyu. Dan kita tidak dapat menganggap hasil pencarian Google sebagai kesimpulan ilmiah hanya karena muncul di halaman pertama.

Ian Tuhovsky dalam Critical Thinking mengingatkan bahwa banyak orang bahkan belum memahami perbedaan mendasar antara berpikir ilmiah dan klaim yang tidak memiliki dasar: “Karena berpikir ilmiah/kritis masih asing bagi kebanyakan orang, mereka memiliki gagasan yang terbentuk sebelumnya tentang hal itu… Ini berarti kemampuan mereka untuk menalar secara kritis sangat terbatas sehingga sains dan takhayul adalah sama bagi mereka.”

Peringatan ini penting bagi kader dakwah.

Aktivis dakwah akan berhadapan dengan berbagai jenis informasi dan berbagai jenis persoalan. Jika tidak memiliki metodologi, ia akan mudah menggunakan alat yang salah untuk persoalan yang salah.

Tidak Semua Disiplin Ilmu Memiliki Cara Mengetahui yang Sama

Salah satu ciri kedewasaan intelektual adalah mengetahui batas-batas sebuah metode. Seorang ahli fikih tidak otomatis menjadi ahli epidemiologi. Seorang ahli hadis tidak otomatis menjadi ahli ekonomi. Seorang ahli politik tidak otomatis menjadi ahli tafsir.

Dan seorang dai yang memiliki kemampuan retorika yang sangat baik tidak otomatis memiliki kompetensi dalam seluruh bidang yang ia bicarakan.

Ini bukan kelemahan. Justru inilah kenyataan bahwa ilmu memiliki spesialisasi. Karena itu, kader dakwah harus belajar membedakan antara: “Saya mengetahui persoalan ini” dan “Saya memiliki kompetensi untuk menyimpulkan persoalan ini.” Keduanya berbeda.

Dalam konteks organisasi dakwah, kesadaran ini sangat penting. Seorang kader mungkin memperoleh informasi tentang suatu persoalan ekonomi. Tetapi sebelum menyimpulkan, ia perlu mengetahui: apakah informasi itu berasal dari data resmi, hasil penelitian, pendapat ekonom, atau sekadar komentar seseorang di media sosial?

Demikian pula dalam agama.

Ketika seseorang membaca sebuah hadis, ia perlu memahami bahwa mengetahui terjemahan hadis belum berarti mengetahui kedudukan hadis tersebut, apalagi memahami seluruh konsekuensi hukumnya.

Metodologi adalah pagar yang menjaga seseorang agar tidak melampaui batas pengetahuannya.

Membedakan Fakta, Dalil, Pendapat, dan Interpretasi

Salah satu latihan pertama dalam berpikir ilmiah adalah belajar membedakan jenis-jenis pernyataan. Misalnya seseorang berkata: “Jumlah penduduk kota ini meningkat.” Itu adalah klaim faktual yang dapat diperiksa melalui data.

Seseorang berkata: “Ayat ini berbunyi demikian.” Itu berkaitan dengan teks dalil dan dapat diperiksa melalui sumbernya. Kemudian seseorang berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa kebijakan X adalah wajib.” Disini kita sudah memasuki wilayah interpretasi dan penalaran. Sementara ketika seseorang berkata: “Menurut saya, kebijakan X adalah pilihan terbaik.” Itu adalah pendapat. Keempatnya tidak boleh dicampuradukkan.

Dalam diskusi keislaman, persoalan ini bahkan lebih penting. Kader harus mampu membedakan: nash wahyu → penjelasan ulama → interpretasi → kesimpulan hukum → pendapat pribadi. Semua memiliki kedudukan yang berbeda.

Kesalahan sering terjadi ketika sebuah interpretasi diperlakukan seolah-olah merupakan satu-satunya bentuk teks wahyu. Atau pendapat seorang tokoh diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak boleh dikritisi. Atau sebuah kesimpulan yang lahir dari konteks tertentu dibawa ke seluruh konteks tanpa penelitian.

Tuhovsky memberikan peringatan tentang kecenderungan manusia untuk lebih tertarik pada cerita daripada bukti: “Kebutuhan kita akan narasi yang kuat sangatlah besar sehingga kita mengabaikan fakta… Apa yang Anda fokuskan adalah ceritanya, bukan angka dan datanya, karena cerita berakar pada emosi.”

Karena itu, kader harus bertanya setiap kali menerima informasi: Ini fakta atau cerita? Ini dalil atau tafsir terhadap dalil? Ini data atau kesimpulan? Ini pendapat atau bukti? Ini sumber asli atau interpretasi orang lain?

Pertanyaan sederhana semacam ini adalah awal dari kedewasaan intelektual.

Pentingnya Memahami Istilah

Metodologi juga menuntut ketelitian dalam memahami istilah.

Banyak perdebatan sebenarnya bukan terjadi karena dua orang memiliki fakta yang berbeda, tetapi karena mereka menggunakan kata yang sama dengan pengertian yang berbeda.

Misalnya kata kebebasan. Bagi seorang filsuf, kebebasan mungkin memiliki definisi tertentu. Bagi seorang politisi, kebebasan dapat berarti hak politik. Bagi seorang ekonom, ia mungkin berkaitan dengan kebebasan pasar. Dalam tradisi Islam, konsep kebebasan juga memiliki kerangka yang berbeda karena berhubungan dengan penghambaan kepada Allah.

Demikian pula istilah seperti jihad, bid’ah, demokrasi, keadilan, syura, negara, politik, tazkiyah, atau tarbiyah.

Jika istilah tidak dipahami dalam kerangka pemikiran yang melahirkannya, maka kita mudah melakukan semantic hijacking—mengambil istilah dari suatu sistem pemikiran tetapi mengisinya dengan makna dari sistem pemikiran kita sendiri.

Kader yang serius belajar harus membiasakan diri bertanya: “Apa definisi istilah ini menurut penulis atau disiplin ilmu yang sedang saya pelajari?” Bukan: “Apa arti istilah ini menurut pemahaman saya?”

Perbedaan kecil ini dapat menghasilkan perbedaan pemahaman yang sangat besar.

Bahaya Mengambil Kesimpulan Tanpa Metodologi

Salah satu ciri belajar tanpa metodologi adalah terlalu cepat menyimpulkan. Melihat satu data → membuat kesimpulan. Membaca satu artikel → membuat penilaian. Menonton satu video → menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Mendengar satu hadis → langsung membuat hukum. Membaca satu pernyataan ulama → menggeneralisasikannya kepada semua persoalan.

Pola seperti ini sangat berbahaya. Sebab manusia memiliki kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinannya sendiri.

Tuhovsky menjelaskan: “Seringkali kita lebih menyukai informasi yang salah daripada tidak ada informasi sama sekali, dan kita menggunakannya untuk membenarkan ide dan pandangan kita. Ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan impuls dan emosi, bukan rasionalitas.”

Kader yang tidak memiliki metodologi akhirnya mudah menjadi pemburu pembenaran. Ia tidak mencari: “Apa yang benar?” tetapi: “Apa yang bisa saya gunakan untuk membenarkan apa yang sudah saya yakini?”

Di sinilah confirmation bias menjadi sangat berbahaya.

Lebih buruk lagi apabila seseorang telah memiliki posisi organisasi atau sosial tertentu. Ia bisa mencari data bukan untuk memahami kenyataan, tetapi untuk mempertahankan posisi.

Maka semakin besar tanggung jawab seorang kader, semakin besar pula kebutuhan terhadap kerendahan hati intelektual. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.