Kekuatan Pena: Dakwah Melalui Suara ’Aisyiyah

by -1545 Views

Tidak semua perjuangan dilakukan dari atas mimbar. Tidak semua perubahan lahir dari pidato yang menggema di hadapan ribuan orang. 

Ada perjuangan yang berlangsung dalam sunyi, melalui lembar demi lembar tulisan yang dibaca dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Para tokoh awal ’Aisyiyah memahami rahasia besar ini. Mereka menyadari bahwa dakwah yang ingin bertahan lama harus meninggalkan jejak tertulis. Sebab lisan memiliki batas waktu, sementara tulisan mampu melintasi ruang dan zaman.

Karena itulah, selain membangun sekolah, pengajian, dan organisasi, para Srikandi Berkemajuan juga membangun tradisi literasi yang kuat. Mereka menjadikan pena sebagai salah satu sarana dakwah yang paling efektif untuk mencerdaskan umat.

Wahyu Pertama: Perintah Membaca dan Menulis

Tradisi literasi dalam Islam sesungguhnya berakar langsung dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1–5)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan القلم (pena) dalam ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan pentingnya dokumentasi pengetahuan sebagai sarana kemajuan manusia. 

Peradaban tidak dibangun hanya dengan semangat, tetapi juga dengan ilmu yang dicatat, diwariskan, dan dikembangkan.

Inilah spirit yang kemudian hidup dalam tubuh ’Aisyiyah.

Suara ’Aisyiyah: Obor Pencerahan Umat

Kesadaran akan pentingnya media dakwah melahirkan Majalah Suara ’Aisyiyah pada tahun 1926. Kehadirannya bukan sekadar sebagai media organisasi, tetapi sebagai ruang pendidikan umat yang menjangkau masyarakat lebih luas.

Melalui media ini, para tokoh perempuan Muslim menyampaikan gagasan tentang pendidikan, keluarga, akhlak, kesehatan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Tulisan-tulisan tersebut menjadi sarana mencerdaskan kaum perempuan sekaligus memperkuat identitas keislaman mereka.

Yang menarik, para penulis ’Aisyiyah tidak menjadikan literasi sebagai alat perpecahan. Mereka menggunakan tulisan untuk membangun kesadaran, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan optimisme umat.

Prinsip ini sejalan dengan firman Allah:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53)

Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat ini mengajarkan bahwa setiap bentuk komunikasi, baik lisan maupun tulisan, hendaknya menjadi sarana menghadirkan kebaikan dan menghindarkan permusuhan.

Menulis sebagai Bentuk Dakwah dan Amal Jariyah

Dalam tradisi ulama Islam, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi bagian dari ibadah.

Imam An-Nawawi, Imam Al-Ghazali, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, hingga para ulama kontemporer meninggalkan warisan ilmu yang terus hidup melalui karya-karya tulis mereka. Ribuan bahkan jutaan orang memperoleh manfaat dari tulisan mereka meskipun para penulisnya telah lama wafat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ilmu yang ditulis, diajarkan, dan diwariskan kepada manusia termasuk bentuk amal yang pahalanya terus mengalir.

Dalam perspektif ini, tradisi literasi yang dibangun oleh ’Aisyiyah sesungguhnya merupakan investasi akhirat sekaligus investasi peradaban.

Pelajaran untuk Srikandi Berkemajuan

Dari jejak Suara ’Aisyiyah, kita belajar bahwa perubahan sosial tidak hanya membutuhkan aktivis yang bergerak di lapangan, tetapi juga pemikir dan penulis yang mampu menjaga arah gerakan.

Di era digital saat ini, medan dakwah melalui tulisan justru semakin luas. Media sosial, blog, buku, jurnal, dan berbagai platform digital menjadi ruang baru untuk menyebarkan ilmu dan kebaikan.

Karena itu, Muslimah berkemajuan tidak cukup hanya menjadi pembaca. Ia juga perlu belajar menjadi penulis, pendokumentasi, dan penyebar gagasan yang mencerahkan.

Sebab sejarah telah membuktikan bahwa sebuah organisasi akan tetap hidup selama ide-idenya terus ditulis, diwariskan, dan diperjuangkan oleh generasi penerusnya.Dan sering kali, sebuah peradaban besar bermula dari satu pena yang digerakkan dengan iman dan keikhlasan. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.