Penutup: Dari Konsumsi Pengetahuan Menuju Pembentukan Ilmu

by -1515 Views

Setelah berjalan melewati sepuluh persoalan sebelumnya, kita sampai pada satu pertanyaan yang menjadi inti dari seluruh pembahasan buku ini: Apa sebenarnya yang terjadi ketika seorang kader memiliki akses kepada hampir seluruh informasi, tetapi tidak mengalami proses pembentukan ilmu?

Pertanyaan ini penting karena kita hidup dalam zaman yang secara paradoks sangat kaya informasi, tetapi belum tentu kaya pemahaman.

Hari ini, seorang kader dapat mencari ayat dalam hitungan detik. Ia dapat menemukan hadis, membaca pendapat ulama, membuka kitab digital, mengikuti kajian dari berbagai penjuru dunia, mendengarkan podcast, membaca artikel, menonton video, berdiskusi di media sosial, bahkan meminta bantuan kecerdasan buatan untuk menjelaskan sebuah persoalan.

Secara teknis, kita tidak pernah hidup dalam zaman yang sedemikian mudah untuk mengakses pengetahuan. Namun kemudahan akses tidak otomatis melahirkan kedalaman ilmu.

Di sinilah paradoks besar era digital.

Kita semakin mudah menemukan jawaban, tetapi belum tentu semakin mampu memahami pertanyaan. Kita semakin mudah mengakses kitab, tetapi belum tentu semakin tekun membacanya. Kita semakin banyak mendengar kajian, tetapi belum tentu semakin dalam pemahamannya. Kita semakin cepat mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin matang dalam mengambil kesimpulan.

Bahkan, kita dapat mengetahui lebih banyak hal tentang ilmu tanpa benar-benar menjadi orang yang berilmu.

Maka, setelah sembilan bab sebelumnya membedah berbagai gejala—mencari informasi yang dianggap belajar, berpindah dari talaqqi ke Google, memahami ilmu melalui potongan ceramah, terbentuknya short thinking, malas membaca buku, hilangnya kedekatan dengan literatur primer, belajar tanpa metodologi, belajar tanpa roadmap, hingga menjadi kolektor konten—kita akhirnya menemukan akar persoalannya: Masalah kita bukan kekurangan informasi. Masalah kita adalah kegagalan mengubah informasi menjadi ilmu.

Informasi Melimpah, Ilmu Belum Tentu Bertambah

Kita perlu kembali membedakan beberapa istilah yang dalam percakapan sehari-hari sering digunakan secara bergantian: informasi, pengetahuan, ilmu, pemahaman, dan hikmah.

Informasi adalah sesuatu yang kita terima. Pengetahuan adalah informasi yang telah kita kenali dan simpan dalam struktur kognitif kita. Pemahaman muncul ketika kita mengetahui hubungan, sebab, konteks, dan makna dari apa yang kita ketahui.

Ilmu yang fungsional tidak berhenti pada pemahaman intelektual, tetapi memberikan kemampuan untuk melihat persoalan dengan benar dan mengambil sikap yang benar.

Sedangkan hikmah adalah ketika ilmu tersebut menuntun seseorang kepada ketepatan dalam menilai, memilih, dan bertindak.

Karena itu, tidak semua informasi adalah pengetahuan; tidak semua pengetahuan adalah pemahaman; tidak semua pemahaman melahirkan hikmah; dan tidak semua orang yang mengetahui banyak hal otomatis menjadi orang yang berilmu.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet mengingatkan bahwa konsumsi informasi harus dipindahkan: “dari latar belakang pasif perpindahan saluran (channel surfing) ke latar depan pemilihan secara sadar”.

Ini merupakan perubahan yang sangat mendasar.

Seorang kader tidak boleh membiarkan pikirannya menjadi terminal tempat semua informasi masuk tanpa pemeriksaan. Ia harus memilih. Ia harus menyaring. Ia harus menentukan prioritas. Ia harus bertanya: Mengapa saya perlu mengetahui ini? Darimana informasi ini berasal? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apa konteksnya? Bagaimana cara memahaminya? Apa hubungan informasi ini dengan ilmu yang telah saya pelajari? Dan yang paling penting: apa yang harus berubah dalam diri saya setelah mengetahui hal ini?

Tanpa pertanyaan-pertanyaan tersebut, informasi hanya menjadi lalu lintas data di dalam kepala.

Ilmu dalam Islam Tidak Pernah Netral dari Tujuan

Dalam pandangan Islam, ilmu tidak dipisahkan dari tujuan kehidupan. Manusia tidak belajar hanya untuk mengetahui. Manusia belajar agar mengenal Allah, memahami kebenaran, memperbaiki dirinya, menjalankan amanah, dan memberikan manfaat kepada manusia.

Karena itu, Yusuf al-Qaradawi dalam Al-Imān wal-Ḥayāh memberikan batas yang sangat penting: “Ilmu materiil memberikan manusia banyak alat, tetapi ia tidak memberikan ‘nilai’ yang besar, atau ‘tujuan’ yang mulia untuk ia jalani dan ia perjuangkan sampai mati. Itu karena hal tersebut bukanlah fungsi ilmu… melainkan spesialisasi agama”.

Inilah perbedaan mendasar antara sekadar mengetahui dan menjadi manusia yang mengetahui untuk apa ia hidup.

Ilmu tentang politik dapat membuat seseorang pandai membaca kekuasaan. Ilmu ekonomi dapat membuat seseorang memahami pasar. Ilmu komunikasi dapat membuat seseorang mampu memengaruhi orang lain. Ilmu teknologi dapat membuat seseorang menguasai berbagai perangkat.

Tetapi semua itu belum menjawab pertanyaan: Untuk apa semua kemampuan tersebut digunakan?

Di sinilah wahyu memberikan arah. Ilmu membutuhkan nilai. Kemampuan membutuhkan tujuan. Kecerdasan membutuhkan petunjuk. Dan pengetahuan membutuhkan iman agar tidak berubah menjadi kesombongan.

Dari Information Menuju Action

Karena itu, pembentukan ilmu seorang kader perlu dipahami sebagai sebuah perjalanan:

Information → Knowledge → Understanding → Wisdom → Action

Information: Kita menemukan sesuatu. Knowledge: Kita memproses dan menyimpannya dalam struktur pengetahuan. Understanding: Kita memahami makna, konteks, hubungan, dan konsekuensinya. Wisdom: Kita mampu menilai bagaimana ilmu tersebut digunakan secara tepat. Action:  Kita menerjemahkannya menjadi amal.

Inilah yang membedakan orang yang banyak tahu dengan orang yang berilmu.

Orang yang banyak tahu mungkin dapat menjelaskan apa itu sabar. Orang yang berilmu berusaha menjadi orang yang sabar. Orang yang banyak tahu mungkin dapat berbicara panjang tentang ukhuwah. Orang yang berilmu menjaga lisannya agar tidak merusak ukhuwah. Orang yang banyak tahu dapat mengutip banyak ayat tentang kejujuran. Orang yang berilmu berusaha jujur ketika kejujuran itu merugikan dirinya. Orang yang banyak tahu dapat menjelaskan tentang tawakal. Orang yang berilmu berusaha menenangkan hatinya setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Di sinilah ilmu mulai masuk ke wilayah tazkiyah.

Yusuf al-Qaradawi menjelaskan: “Bukanlah ia (iman/ilmu) sekadar pengetahuan mental terhadap fakta-fakta… dan tidak pula sekadar melakukan perbuatan dan syiar yang biasa dilakukan… melainkan apa yang menghunjam di hati dan dibuktikan oleh amal”.

Maka ukuran keberhasilan belajar tidak semestinya berhenti pada: “Saya sudah tahu.” Tetapi harus berlanjut menjadi: “Saya memahami.” Kemudian: “Saya meyakini.” Lalu:“Saya mengamalkan.”

Dan akhirnya: “Saya berubah.” (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.