Rebut Kembali Kedalaman Berpikir: Restorasi Budaya Literasi di Era Disrupsi Digital

by -1562 Views

Kita telah menempuh perjalanan intelektual yang berurutan. Jika pada Buku I kita belajar menavigasi diri dalam Krisis Mengelola Arus Informasi, dan pada Buku II kita mulai menata kembali fondasi dalam Krisis Pembelajaran dan Pencarian Ilmu, maka pada Buku III ini kita melangkah ke palagan yang lebih menantang: Krisis Literasi dan Kedalaman Intelektual: Dari Konsumsi Informasi Menuju Kematangan Berpikir.

Alur tiga buku ini membawa kader dakwah dari sekadar menjadi pribadi yang kaya informasi (information-rich) menuju pribadi yang matang secara intelektual (intellectually mature). Sebab, era digital memungkinkan seseorang mengetahui banyak hal dalam waktu singkat, tetapi kelimpahan informasi tidak otomatis melahirkan kedalaman berpikir.

Literasi Bukan Sekadar Membaca

Literasi dalam pengertiannya yang hakiki bukan sekadar kemampuan membaca teks. Ia merupakan kapasitas untuk mencerna, menganalisis, mengkontekstualisasikan, membedakan premis dan kesimpulan, serta menyusun gagasan secara sistematis.

Islam sendiri dibangun di atas tradisi literasi. Wahyu pertama dimulai dengan perintah Iqra’—bacalah. Dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim, Ismail ibn Kathir menjelaskan kaitan wahyu tersebut dengan kemuliaan pena sebagai instrumen transmisi ilmu. 

Beliau menguraikan: “Dia mengajar manusia dengan perantaraan pena, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya… pena adalah nikmat terbesar yang dengannya Allah mengikat dan menjaga warisan ilmu pengetahuan agar tidak musnah lintas generasi”.

Karena itu, meninggalkan tradisi membaca dan menulis berarti menjauh dari salah satu karakter mendasar umat yang dibangun oleh wahyu. Tanpa budaya literasi, intelektualitas umat mudah mengering ditengah derasnya disinformasi digital.

Dari Information-Rich Menuju Intellectually Mature

Gejala krisis ini mudah ditemukan. Seorang kader dapat mengikuti puluhan akun dakwah, membaca ratusan headlines, menonton potongan kajian di Reels atau TikTok, dan menyimpan berbagai bookmarks, tetapi belum tentu mampu membaca satu buku secara utuh, memahami argumentasi, melihat hubungan sebab-akibat, membandingkan perspektif, atau menulis gagasan sendiri.

Inilah yang disebut krisis kedalaman intelektual.

Abdurrahman Habannakah al-Maidani dalam Al-Ghazw al-Fikrī fī al-‘Ālam al-Islāmī memperingatkan tentang invasi pemikiran (al-ghazw al-fikri) yang dapat merusak metodologi berpikir umat. 

Beliau menjelaskan: “Musuh-musuh Islam tidak lagi menggunakan senjata fisik untuk menundukkan umat secara mutlak, melainkan beralih menggunakan invasi pemikiran (al-ghazw al-fikri) yang bertujuan merusak orisinalitas akidah, melumpuhkan metodologi berpikir kritis, dan membuat umat ini taklid buta terhadap narasi yang disodorkan kepada mereka”.

Di era digital, invasi semacam itu dapat bekerja melalui algoritma yang terus menyajikan informasi sesuai kecenderungan kita. Karena itu, tabayyun membutuhkan lebih dari sekadar kehati-hatian; ia membutuhkan kemampuan intelektual untuk memeriksa informasi secara kritis.

Kedalaman Berpikir dan Akhlak Dakwah

Krisis intelektual akhirnya bukan hanya persoalan kemampuan berpikir. Ia dapat memengaruhi akhlak dan ukhuwah. 

Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Aṣ-Ṣaḥwah al-Islāmiyyah Bayna al-Ikhtilāf al-Masyrū’ wa at-Tafarruq al-Madhmūm mengingatkan: “Bahaya terbesar yang mengancam kebangkitan Islam adalah ketika semangat beragama tidak diiringi dengan kedalaman fikih (pemahaman), sehingga melahirkan sikap fanatik (ta’assub), merasa benar sendiri, dan mudah mengkafirkan atau menyesatkan sesama muslim hanya karena perbedaan masalah cabang (furu’iyyah)”.

Disinilah literasi menjadi bagian dari tarbiyah. Membaca dengan mendalam mengajarkan kesabaran; membandingkan pendapat melatih keadilan; memeriksa argumentasi menumbuhkan kerendahan hati; dan memahami kompleksitas persoalan membuat kita tidak tergesa-gesa menghakimi.

Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani dalam Al-Akhlāq al-Islāmiyyah wa Ususuh  menegaskan pentingnya keseimbangan akal (al-tawazun al-aqli): “Kebaikan moral dan keadilan dalam bertindak hanya bisa dilahirkan dari jiwa yang mampu menimbang kebenaran secara objektif, bebas dari dorongan hawa nafsu dan fanatisme buta yang mengaburkan pandangan akal sehat”.

Gerakan dakwah tidak boleh membiarkan kader tumbuh dibawah asuhan algoritma. Said Hawwa dalam Jundullāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan menegaskan pentingnya bekal budaya (tsaqafah): “Setiap gerakan dakwah harus memiliki kurikulum budaya (tsaqafah) yang jelas dan menyeluruh bagi para kadernya, sehingga pemahaman mereka memiliki akar yang kokoh dan mampu memimpin umat di tengah berbagai tantangan zaman”.

Maka, tugas kita bukan sekadar mengajak kader membaca lebih banyak, tetapi melatih mereka berpikir lebih dalam. Kita perlu menghidupkan kembali budaya membaca aktif, menguliti argumen, membedakan fakta dan opini, serta menulis gagasan secara sistematis. 

Inilah bagian dari perjuangan merebut kembali kedaulatan kognitif umat—agar dakwah berdiri diatas ilmu, hikmah, akhlak, dan kedalaman berpikir. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.