Tidak Tahan Membaca Teks Panjang

by -1558 Views

Pada Bab II kita melihat bagaimana scrolling perlahan menggantikan budaya membaca. Masalah berikutnya lebih dalam: kader bukan hanya semakin jarang membaca, tetapi juga semakin tidak tahan membaca teks panjang. 

Kader yang terbiasa dengan konten 30–60 detik dapat merasa lelah ketika harus mengikuti argumentasi dua puluh halaman. 

Inilah krisis cognitive endurance: melemahnya kemampuan bertahan dalam proses berpikir yang panjang.

Perhatian adalah Modal Intelektual

Perhatian (attention) merupakan modal intelektual yang terbatas. Daniel J. Levitin dalam The Organized Mind: Thinking Straight in the Age of Information Overload menegaskan, “Perhatian adalah sumber daya dengan kapasitas terbatas—ada batas pasti untuk jumlah hal yang dapat kita perhatikan sekaligus”. 

Bahkan, setiap pengalihan perhatian memiliki biaya. Levitin menjelaskan, “Meminta otak untuk mengalihkan perhatian dari satu aktivitas ke aktivitas lain menyebabkan prefrontal korteks dan striatum membakar glukosa beroksigen, bahan bakar yang sama dengan yang mereka butuhkan untuk tetap fokus pada tugas”.

Maka, membaca kitab sambil sesekali memeriksa WhatsApp bukanlah multitasking yang produktif. Perhatian yang terpecah akan mengurangi kemampuan memahami. 

James Williams, filsuf etika teknologi Oxford University yang diwawancarai Johann Hari dalam Stolen Focus: Why You Can’t Pay Attention—and How to Think Deeply Again, mengingatkan, “Jika kita ingin melakukan apa yang penting dalam domain apa pun—konteks apa pun dalam hidup—kita harus mampu memberikan perhatian pada hal-hal yang benar… Jika kita tidak bisa melakukan itu, sangat sulit untuk melakukan apa pun”.

Bagi kader dakwah, perhatian adalah modal untuk memahami agama, membaca problem umat, dan menyusun strategi. Jika perhatian habis untuk hal-hal viral, agenda besar dakwah kehilangan ruang di dalam pikiran.

Teks Panjang Membutuhkan Kesabaran

Membaca teks panjang bukan sekadar aktivitas melihat lebih banyak kata. Ia menuntut konsentrasi, memori, dan kemampuan mengikuti alur argumentasi. 

Johann Hari dalam Stolen Focus mengatakan, “Bagi banyak dari kita, membaca buku adalah bentuk fokus terdalam yang kita alami—Anda mendedikasikan berjam-jam hidup Anda, dengan tenang, pada satu topik, dan membiarkannya meresap dalam pikiran Anda”.

Buku mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan budaya digital: kelambatan. Hari menulis, “Pertama, hidup itu kompleks, dan jika Anda ingin memahaminya, Anda harus menyisihkan cukup banyak waktu untuk memikirkannya secara mendalam. Anda perlu memperlambat langkah. Kedua, ada nilai dalam meninggalkan kekhawatiran Anda yang lain dan mempersempit perhatian Anda pada satu hal, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman”.

Sebaliknya, infinite scroll membiasakan pikiran berpindah tanpa henti. Kader akhirnya membaca bukan untuk memahami, melainkan sekadar bertahan beberapa detik sebelum mencari rangsangan berikutnya.

Bahaya Attention Switching

Kita juga perlu membongkar mitos multitasking. Earl Miller dari MIT menjelaskan kepada Johann Hari, “Otak kita tidak dirancang untuk melakukan multitasking dengan baik… Ketika orang berpikir mereka sedang melakukan multitasking, mereka sebenarnya hanya beralih dari satu tugas ke tugas lainnya dengan sangat cepat. Dan setiap kali mereka melakukannya, ada biaya kognitif yang harus dibayar”.

Miller menegaskan, “Kinerja Anda akan menurun. Anda menjadi lebih lambat. Semuanya adalah akibat dari peralihan perhatian tersebut”. Inilah switch cost effect. Membaca dua puluh halaman membutuhkan kesinambungan; setiap notifikasi memaksa otak membangun kembali konteks yang telah hilang.

Gloria Mark bahkan menemukan bahwa rata-rata pekerja kantor Amerika mengalami gangguan atau beralih tugas setiap tiga menit. Ia menyimpulkan, “Sepuluh setengah menit pada satu proyek tidaklah cukup waktu untuk berpikir secara mendalam tentang apa pun”.

Notifikasi memperparah persoalan. Levitin menjelaskan, “Multitasking menciptakan lingkaran umpan balik kecanduan dopamin, yang secara efektif memberi penghargaan kepada otak karena kehilangan fokus dan terus-menerus mencari stimulasi eksternal”. Ia juga menyebut novelty bias: “Sistem rangsangan otak memiliki bias kebaruan (novelty bias), yang berarti perhatiannya dapat dibajak dengan mudah oleh sesuatu yang baru… Manusia akan bekerja keras untuk mendapatkan pengalaman baru sebagaimana kita bekerja keras untuk mendapatkan makanan atau pasangan”.

Tristan Harris bahkan menggambarkan mekanisme teknologi ini sebagai fracking: “Situs-situs ini belajar… bagaimana cara melakukan ‘fracking’ (pengeboran) pada Anda. Situs-situs ini mengetahui apa yang membuat Anda bergerak, dengan cara yang sangat spesifik… mereka mempelajari pemicu pribadi Anda… Media sosial tahu persis di mana harus mengebor”.

Dari Gist-Reading Menuju Deep-Reading

Eli Pariser dalam The Filter Bubble menunjukkan bahwa konteks sering dipangkas ketika manusia memproses informasi: “Detail-detail yang tampaknya tidak penting pada saat itu dan sebagian besar konteks dari sebuah cerita secara rutin dipangkas… Penyederhanaan dan penajaman seperti itu melibatkan kondensasi dari seluruh fitur cerita”.

Anne Mangen memperingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat terbawa ke buku: “Perilaku memindai dan membaca cepat ini menetes dan memengaruhi bagaimana kita membaca di atas kertas… Perilaku tersebut akhirnya menjadi default (pilihan otomatis) kita”. 

Akibatnya, “Kita sekarang kehilangan ‘kemampuan kita untuk membaca teks panjang lagi,’ dan kita juga kehilangan ‘kesabaran kognitif kita… [dan] stamina serta kemampuan untuk menghadapi teks-teks yang menantang secara kognitif'”, papar Mangen.

Clay A. Johnson dalam The Information Diet menyebut akibatnya secara tajam: “Diet informasi yang buruk memberi kita bentuk-bentuk ketidaktahuan baru—ketidaktahuan yang muncul bukan karena kurangnya informasi, melainkan karena konsumsi informasi yang berlebihan”.

Melatih Kembali Cognitive Endurance

Namun, kondisi ini bukan sesuatu yang permanen. Earl Miller menegaskan, “Otak itu seperti otot. Semakin banyak Anda menggunakan hal-hal tertentu, semakin kuat hubungannya, dan semakin baik hal-hal itu bekerja”. 

Miller menyarankan latihan monotasking: “Jika Anda kesulitan untuk fokus, cobalah lakukan monotasking (melakukan satu tugas saja) selama sepuluh menit, lalu biarkan diri Anda terdistraksi selama satu menit, kemudian lakukan monotasking lagi selama sepuluh menit… Saat Anda melakukannya, aktivitas itu menjadi lebih akrab, otak Anda menjadi semakin baik dalam melakukannya… Dan dalam waktu singkat Anda dapat melakukannya selama lima belas menit, dua puluh menit, setengah jam…”.

Kader perlu membangun disiplin pre-commitment: mematikan notifikasi, menjauhkan gawai, menyediakan waktu khusus membaca, dan meningkatkan durasi deep-reading secara bertahap. Inilah bagian dari tazkiyatun nafs: melatih jiwa agar tidak selalu tunduk kepada rangsangan sesaat.

Kita harus berani mengakui bahwa kedaulatan perhatian sedang diperebutkan. Kader dakwah tidak boleh menjadi pribadi yang hanya mampu berpikir selama satu menit. Dakwah membutuhkan manusia yang mampu bertahan membaca, merenung, menganalisis, dan berpikir panjang. Dari short content menuju deep-reading, dari attention switching menuju monotasking, dari cognitive fatigue menuju cognitive endurance

Disitulah stamina intelektual kader dibangun kembali. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.