Pembahasan tentang makna Ilah merupakan kelanjutan yang sangat penting dari kajian mengenai syahadatain (ma’na syahadatain).
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan syarat-syarat diterimanya syahadah, dimana kalimat Laa Ilaaha Illallah bukan sekadar ucapan yang dilafalkan oleh lisan, melainkan sebuah pernyataan aqidah yang mengandung konsekuensi besar dalam kehidupan seorang muslim.
Banyak kaum muslimin mengucapkan kalimat tauhid sejak kecil, menghafalnya, bahkan mengulanginya setiap hari dalam shalat dan berbagai ibadah. Namun demikian, tidak sedikit yang belum memahami secara mendalam apa sebenarnya makna kata Ilah yang menjadi inti dari kalimat tersebut.
Akibatnya, tauhid sering dipahami hanya sebagai keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, sementara dimensi-dimensi lain yang terkandung dalam makna Ilah belum sepenuhnya disadari.
Padahal, seluruh dakwah para nabi berpusat pada satu seruan yang sama, yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Karena itu, memahami makna Ilah bukanlah pembahasan tambahan yang bersifat pelengkap. Ia justru merupakan inti dari risalah Islam dan fondasi seluruh bangunan keimanan.
Kesalahan dalam memahami makna Ilah akan berpengaruh pada cara seseorang memandang ibadah, ketaatan, kepemimpinan, kecintaan, harapan, bahkan tujuan hidupnya.
Makna Ilah yang Lebih Luas dari Sekadar “Tuhan”
Dalam banyak terjemahan, kata Ilah sering diterjemahkan sebagai “Tuhan”. Terjemahan ini memang benar, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan keluasan makna yang terkandung di dalamnya.
Makna Ilah mencakup berbagai dimensi hubungan antara manusia dengan Rabb-nya. Seorang muslim tidak hanya mengakui keberadaan Allah, tetapi juga menjadikan-Nya sebagai pusat seluruh orientasi hidup.
Allah bukan hanya Dzat yang disembah. Dia juga merupakan Pemilik, Penguasa, Pembuat hukum, Pelindung, Tempat bergantung, Tempat berharap, Tempat meminta pertolongan, dan Dzat yang paling dicintai. Dengan kata lain, makna Ilah mencakup seluruh bentuk ketundukan lahir maupun batin kepada Allah SWT.
Inilah sebabnya mengapa kaum musyrikin Arab pada masa Rasulullah ﷺ menolak dakwah tauhid. Mereka sebenarnya telah mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Akan tetapi mereka tidak mau menerima konsekuensi bahwa hanya Allah yang berhak ditaati, dicintai, dan dijadikan satu-satunya tujuan penghambaan.
Memahami makna Ilah secara utuh akan membantu seorang muslim melihat bahwa tauhid bukan sekadar persoalan ritual, tetapi juga menyangkut cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara mencintai, cara berharap, dan cara menjalani kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pembahasan
Seri tulisan ringkas ini disusun untuk membantu pembaca memahami makna Ilah secara lebih mendalam dan sistematis sesuai dengan kerangka tarbiyah Islam yang telah dirumuskan dalam Rasmul Bayan.
Pembahasan akan dimulai dari penjelasan makna dasar kata Ilah yang berasal dari akar kata aliha. Darisana akan terlihat mengapa hati manusia secara fitrah selalu mencari tempat bergantung, tempat berlindung, tempat mencintai, dan tempat berharap.
Selanjutnya, buku ini akan menguraikan berbagai konsekuensi praktis dari pengakuan Laa Ilaaha Illallah, seperti menjadikan Allah sebagai Malik, Hakim, Amir, Wali, Ma’bud, Mahbub, Marghub Ilaihi, Marhub, Wakil, dan berbagai makna lainnya yang membentuk bangunan tauhid secara utuh.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa tauhid harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika seseorang benar-benar memahami makna Ilah, maka ia akan rela diatur oleh Allah, tunduk kepada syariat-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya, membenci apa yang dibenci-Nya, serta menjadikan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam setiap keadaan dan waktu.
Dengan pemahaman inilah kalimat Laa Ilaaha Illallah tidak lagi menjadi sekadar ucapan, melainkan menjadi prinsip hidup yang mengarahkan seluruh perjalanan seorang mukmin menuju keridhaan Allah SWT. (im)





