Sakana Ilaihi – Ketentraman sebagai Pintu Ma’rifatullah

by -1596 Views

Dalam lanjutan pembahasan tentang Madlūl Asy-Syahādah, kita sampai pada dimensi yang lebih dalam dari kalimat Laa Ilaha Illallah, yaitu pengenalan terhadap hakikat Ilah

Para ulama seperti Al-Ghazali menegaskan bahwa amal tanpa ma’rifah akan kehilangan ruh, dan ma’rifah tanpa penghayatan akan kehilangan arah.

Karena itu, memahami akar kata aliha-ya’lahu bukan sekadar kajian bahasa, tetapi pintu untuk membaca ulang hubungan manusia dengan Tuhannya. 

Dalam perspektif tarbiyah, sebagaimana ditegaskan oleh Hasan Al-Banna, fitrah manusia memang memiliki keterikatan batin kepada Allah yang jika disadari akan melahirkan ketenangan dan kekuatan jiwa.

Sakana Ilaihi: Akar Ketenangan Jiwa

Motif pertama dalam akar kata aliha adalah sakana ilaihi, yaitu kondisi batin ketika seorang hamba menemukan ketenangan dalam mengingat Allah. Secara bahasa, sakan berarti diamnya sesuatu setelah kegelisahan, dan secara maknawi ia menunjukkan stabilitas jiwa setelah pencarian panjang.

Al-Qur’an menegaskan prinsip ini:

﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

“Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan hakiki tidak bersumber dari materi, melainkan dari hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Penjelasan Ulama tentang Ketenangan Iman

Para ulama tasawuf seperti Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia memiliki kekosongan yang hanya bisa diisi oleh ma’rifatullah. 

Sementara itu, Ibnu Taymiyyah menegaskan bahwa ketenangan adalah buah dari tauhid yang murni; semakin kuat tauhid seseorang, semakin stabil pula jiwanya menghadapi dunia.

Dalam perspektif psikologi iman, Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa iman yang benar memberikan keseimbangan antara akal, perasaan, dan kehendak, sehingga manusia tidak mudah goyah oleh tekanan eksternal.

Tiga Dimensi Sakana Ilaihi

Sakana ilaihi tidak hanya berbicara tentang perasaan, tetapi mencakup tiga dimensi:

Pertama, ketenangan kognitif—ketika akal menerima kebenaran Allah tanpa konflik batin.
Kedua, ketenangan emosional—ketika hati tidak lagi bergantung pada makhluk secara berlebihan. Dan ketiga, ketenangan eksistensial—ketika hidup memiliki arah yang jelas menuju Allah.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menggambarkan keadaan ini dengan ungkapan: hati yang selalu mengingat Allah akan tetap hidup meski dilanda ujian, karena ia memiliki sumber energi ruhani yang tidak pernah kering.

Korelasi dengan Tauhid dan Bab Selanjutnya

Sakana ilaihi menjadi bukti awal bahwa tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi pengalaman spiritual yang nyata. Seorang hamba tidak akan sampai pada tahap istijaara bihi (merasa dilindungi Allah) tanpa terlebih dahulu merasakan ketenangan bersama-Nya.

Dari ketenangan inilah lahir kepercayaan, dan dari kepercayaan lahirlah ketergantungan total kepada Allah SWT. Inilah transisi alami yang akan membawa pembahasan menuju bab berikutnya tentang Allah sebagai satu-satunya benteng perlindungan.

Penutup

Sakana ilaihi adalah fondasi pertama dalam perjalanan mengenal Ilah. Ia bukan sekadar konsep, tetapi pengalaman ruhani yang membentuk cara pandang seorang mukmin terhadap hidup. 

Ketika hati telah menemukan ketenangan bersama Allah, maka ia tidak lagi mencari pelarian selain kepada-Nya.

Dengan demikian, tauhid bukan hanya diyakini, tetapi dihidupi—dan dari situlah ma’rifatullah mulai tumbuh secara utuh. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.