Konsultasi ke Yatsrib: Mencari “Senjata” Intelektual

by -1730 Views

Dakwah Rasulullah ﷺ pada periode Makkah terus mengalami perkembangan. Meskipun jumlah kaum muslimin saat itu masih relatif sedikit, pesan tauhid yang beliau bawa mulai mengguncang bangunan keyakinan, tradisi, dan kepentingan para pemuka Quraisy. 

Berbagai cara telah mereka lakukan untuk menghentikan dakwah tersebut, mulai dari ejekan, tekanan sosial, hingga intimidasi fisik. Namun semuanya tidak mampu menghentikan penyebaran risalah Islam.

Dalam situasi itulah para pemimpin Quraisy mencari pendekatan baru. Mereka menyadari bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah para nabi dan kitab-kitab samawi. Karena itu mereka mengutus beberapa tokoh untuk menemui para rabi Yahudi di Yatsrib (Madinah), yang saat itu dikenal sebagai komunitas yang memiliki warisan ilmu kenabian.

Para ulama sirah seperti Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para rabi Yahudi memberikan tiga pertanyaan yang harus diajukan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Jika beliau mampu menjawabnya dengan benar, maka itu merupakan tanda kenabian. 

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan kisah Ashabul Kahfi, Dzulqarnain, dan hakikat ruh.

Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban dalam Manhaj Haraki lis Sirah an-Nabawiyyah menjelaskan bahwa para rabi berkata: “Tanyalah dia tentang tiga perkara. Jika dia dapat menjawabnya maka dia adalah nabi yang diutus. Jika tidak, maka dia hanyalah orang yang mengada-adakan.”

Peristiwa ini menunjukkan sesuatu yang menarik. Meskipun kaum Quraisy menolak dakwah Rasulullah ﷺ, mereka tetap mengakui adanya parameter objektif untuk menilai sebuah klaim kenabian. Mereka bahkan bersedia meminta penilaian dari pihak yang dianggap memiliki otoritas keilmuan dalam masalah tersebut.

Pelajaran Dakwah: Serangan Pemikiran dan Otoritas Keilmuan

Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bagi para aktivis dakwah di setiap zaman. Penentangan terhadap kebenaran tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik. Seringkali ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, yaitu melalui serangan pemikiran (ghazwul fikr), manipulasi informasi, atau peminjaman legitimasi dari pihak yang dianggap memiliki otoritas ilmiah.

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menjelaskan bahwa berbagai tuduhan dan syubhat yang diarahkan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari ujian dakwah yang telah ditetapkan Allah. Dakwah yang benar akan selalu diuji, bukan hanya oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kekuatan argumentasi.

Karena itu Al-Qur’an mengajarkan agar kaum beriman membangun keyakinannya di atas ilmu. Allah berfirman:

﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾

“Katakanlah: Tunjukkanlah bukti kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 111)

Menurut Imam Ath-Thabari dalam Jāmi’ al-Bayān, ayat ini merupakan prinsip agung bahwa setiap klaim harus dibangun di atas hujjah dan bukti, bukan sekadar prasangka atau fanatisme golongan.

Oleh sebab itu, gerakan dakwah tidak boleh alergi terhadap dialog intelektual. Dakwah harus memiliki kesiapan ilmiah, keluasan wawasan, dan kedalaman ruhiyah agar mampu menjawab berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan akhlak dan hikmah.

Tazkiyatun Nafs: Bahaya Hasad yang Menutup Hati

Dibalik peristiwa ini terdapat pelajaran penting tentang penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu hasad (iri hati). Sebagian Ahli Kitab sebenarnya mengenali tanda-tanda kenabian Rasulullah ﷺ sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun sebagian dari mereka menolak karena dorongan kedengkian dan fanatisme kelompok.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ﴾

“Alangkah buruknya perbuatan mereka yang menjual dirinya sendiri dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 90)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bagaimana kedengkian dapat mendorong seseorang menolak kebenaran yang sebenarnya telah diketahuinya.

Hasad bukan sekadar tidak menyukai keberhasilan orang lain. Hasad adalah penyakit yang membuat hati kehilangan kejernihan dalam menilai kebenaran. Seseorang tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?” tetapi berubah menjadi, “Mengapa bukan aku yang mendapatkannya?”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa hasad termasuk penyakit hati yang paling merusak karena ia memadukan kesombongan, kemarahan, dan kebencian sekaligus.

Maka seorang mukmin hendaknya senantiasa membersihkan hatinya. Jangan sampai keinginan mencari kesalahan orang lain lebih besar daripada keinginan mencari kebenaran. Sebab hati yang dipenuhi hasad akan sulit menerima cahaya hidayah, sedangkan hati yang bersih akan lebih mudah tunduk kepada kebenaran, dari manapun kebenaran itu datang. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.