Setelah delegasi Quraisy kembali dari Yatsrib, mereka membawa sebuah tantangan yang dianggap mampu menguji kebenaran dakwah Rasulullah ﷺ.
Tantangan tersebut bukan berupa kekuatan fisik, melainkan ujian intelektual yang disusun oleh para rabi Yahudi yang memiliki pengetahuan tentang tradisi kenabian dan kitab-kitab samawi.
Menurut riwayat yang dikemukakan oleh para ulama sirah, di antaranya yang dijelaskan oleh Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban dalam Manhaj Haraki lis Sirah an-Nabawiyyah, para ulama Yahudi berkata kepada utusan Quraisy:
“Tanyalah dia tentang tiga perkara. Jika dia mampu menjawabnya maka dia adalah nabi yang diutus. Jika tidak, maka dia hanyalah seorang yang mengada-adakan.”
Tiga perkara tersebut adalah kisah para pemuda yang meninggalkan kaumnya demi menjaga iman (Ashabul Kahfi), kisah seorang pemimpin yang menguasai wilayah timur dan barat (Dzulqarnain), serta hakikat ruh yang menjadi rahasia penciptaan manusia.
Pilihan terhadap tiga pertanyaan ini bukanlah kebetulan. Menurut para ahli sirah dan tafsir, ketiganya termasuk perkara yang tidak dikenal oleh masyarakat Arab Makkah pada masa itu. Informasi tentangnya tersimpan dalam khazanah kenabian yang diwariskan oleh Ahli Kitab. Dengan demikian, jawaban yang benar hanya mungkin diketahui oleh seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah.
Disinilah kita melihat salah satu sunnatullah dalam perjalanan dakwah: kebenaran memiliki ukuran dan parameter yang dapat diuji. Islam tidak dibangun di atas mitos, tetapi diatas hujjah yang jelas dan petunjuk dari Allah سبحانه وتعالى.
Pelajaran Dakwah: Dakwah Harus Dibangun di Atas Ilmu
Peristiwa ini mengajarkan bahwa dakwah Islam sejak awal berdiri di tas landasan ilmu dan argumentasi. Rasulullah ﷺ tidak mengajak manusia untuk mengikuti beliau secara membabi buta, tetapi mengajak mereka menggunakan akal yang sehat dan hati yang jernih.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي﴾
“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah (ilmu dan keyakinan yang jelas).” (QS. Yusuf: 108)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna bashirah dalam ayat ini adalah ilmu yang nyata, keyakinan yang kokoh, dan hujjah yang terang. Dakwah tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi harus ditopang oleh pemahaman yang benar terhadap wahyu.
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menegaskan bahwa Islam memberikan ruang yang luas bagi dialog, klarifikasi, dan penjelasan rasional sebelum muncul sikap penolakan yang disengaja. Dakwah bertugas menghilangkan syubhat dan menerangkan jalan yang benar sehingga manusia dapat memilih dengan kesadaran.
Karena itu, para da’i dan aktivis Islam tidak boleh merasa cukup dengan retorika. Mereka harus memperkuat kapasitas ilmu, memperluas wawasan, memahami realitas umat, dan menghadirkan jawaban yang menenteramkan akal sekaligus menyentuh hati.
Tazkiyatun Nafs: Belajar Adil terhadap Kebenaran
Ada pelajaran ruhiyah yang sangat mendalam dari peristiwa ini. Ketika para rabi Yahudi menetapkan parameter kebenaran, sesungguhnya mereka telah mengajarkan prinsip objektivitas. Namun tragedinya, sebagian dari mereka tidak mau tunduk kepada hasil dari parameter yang mereka buat sendiri.
Inilah bahaya ketika hawa nafsu mengalahkan kejujuran intelektual.
Allah berfirman:
﴿وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah universal agar seorang mukmin tetap objektif sekalipun terhadap orang yang tidak disukainya. Keadilan bukan mengikuti perasaan, tetapi mengikuti kebenaran.
Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh Sirah Nabawiyyah menjelaskan bahwa perbedaan terbesar di antara manusia bukanlah pada tingkat kecerdasannya, melainkan pada kesediaannya menundukkan hawa nafsu di hadapan kebenaran.
Bagi seorang salik dalam perjalanan menuju Allah, pelajaran ini sangat penting. Kita harus terus bertanya kepada diri sendiri: apakah kita mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran? Apakah kita siap menerima nasihat ketika sesuai dengan keinginan kita saja, atau juga ketika ia menegur kesalahan kita?
Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai. Dan kebatilan tetaplah kebatilan meskipun dibawa oleh orang yang kita kagumi. Hati yang bersih akan tunduk kepada dalil, sedangkan hati yang dikuasai hawa nafsu akan selalu mencari alasan untuk menghindarinya.(im)





