Salah satu pelajaran paling agung dalam sirah Nabi Muhammad ﷺ adalah keteladanan beliau dalam menjaga integritas di hadapan manusia dan di hadapan Allah.
Ketika para pemuka Quraisy datang membawa tiga pertanyaan yang disusun oleh para rabi Yahudi di Yatsrib, Rasulullah ﷺ berada dalam posisi yang sangat menentukan. Jawaban beliau akan menjadi penilaian publik terhadap klaim kenabian yang beliau sampaikan.
Namun yang menarik, Rasulullah ﷺ tidak segera memberikan jawaban berdasarkan dugaan, analisis pribadi, atau spekulasi intelektual. Beliau memilih menunggu petunjuk dari Allah سبحانه وتعالى.
Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh Sirah Nabawiyyah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ sering menghadapi berbagai pertanyaan yang tidak langsung beliau jawab sampai turun wahyu yang menjelaskan perkara tersebut. Setelah wahyu turun, barulah beliau menyampaikan jawaban yang benar kepada para penanya.
Sikap ini menunjukkan bahwa beliau bukan seorang filsuf yang membangun gagasan dari hasil perenungan semata, bukan pula seorang ahli retorika yang pandai merangkai kata-kata untuk memukau pendengar. Beliau adalah seorang rasul yang menyampaikan apa yang diterimanya dari Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ﴾
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3–4)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ dalam urusan risalah bersumber dari wahyu Allah, bukan dari keinginan pribadi ataupun hasil rekayasa pemikiran manusia.
Dengan demikian, penundaan jawaban atas pertanyaan Quraisy justru menjadi bukti kejujuran beliau. Seandainya beliau seorang pendusta, tentu akan lebih mudah baginya mengarang jawaban saat itu juga. Namun seorang nabi tidak berbicara kecuali berdasarkan petunjuk Rabb-nya.
Pelajaran Dakwah: Kejujuran Lebih Penting daripada Kesan Pintar
Peristiwa ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para dai, pendidik, dan siapa pun yang mengemban amanah menyampaikan ilmu.
Di era ketika banyak orang berlomba-lomba tampil paling tahu, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekuatan dakwah bukan terletak pada kemampuan menjawab semua pertanyaan, melainkan pada kesetiaan kepada kebenaran.
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menjelaskan bahwa Al-Qur’an turun untuk menegaskan bahwa wahyu bukanlah hasil khayalan, bukan pula karya seorang pemikir yang pandai berargumentasi, melainkan firman Allah Yang Maha Tinggi.
Karena itu, seorang pendakwah harus menjadikan ilmu sebagai landasan ucapannya. Jika mengetahui, ia berbicara dengan ilmu. Jika belum mengetahui, ia bersikap jujur dan berkata, “Saya belum mengetahui.”
Imam Malik bin Anas pernah ditanya puluhan pertanyaan. Pada sebagian besar pertanyaan tersebut beliau menjawab:
«لَا أَدْرِي»
“Saya tidak tahu.”
Para ulama menjadikan sikap Imam Malik ini sebagai bukti kedalaman ilmu dan ketakwaannya. Sebab orang yang takut kepada Allah tidak akan berbicara tanpa dasar yang jelas.
Dakwah yang dibangun di atas kejujuran akan melahirkan kepercayaan. Sebaliknya, dakwah yang dibangun di atas pencitraan dan klaim berlebihan akan kehilangan keberkahannya.
Tazkiyatun Nafs: Amanah dalam Ilmu dan Ucapan
Dari sudut pandang tazkiyatun nafs, peristiwa ini mengajarkan pentingnya sifat amanah. Amanah bukan hanya menjaga harta atau jabatan, tetapi juga menjaga ilmu dan ucapan.
Sebelum diangkat menjadi nabi, Rasulullah ﷺ telah dikenal oleh masyarakat Makkah dengan gelar Al-Amin (orang yang terpercaya). Bahkan musuh-musuh beliau pun tidak pernah menuduh beliau sebagai pembohong.
Syaikh Al-Buthi menjelaskan bahwa masyarakat Quraisy mengenal Rasulullah ﷺ sebagai sosok yang paling jujur dalam perkataan, paling baik akhlaknya, dan paling dapat dipercaya dalam urusan sosial.
Allah mengingatkan manusia tentang pentingnya menjaga ucapan melalui firman-Nya:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Menurut Imam Al-Qurthubi, ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya melatih dirinya untuk jujur secara intelektual. Jangan sampai keinginan untuk terlihat cerdas membuat kita berbicara tanpa ilmu. Jangan pula ambisi mendapatkan pujian manusia mengalahkan amanah terhadap kebenaran.
Jika Rasulullah ﷺ yang menerima wahyu saja menunggu petunjuk Allah sebelum menjawab, maka terlebih lagi kita yang penuh keterbatasan. Ketenangan jiwa sering kali lahir bukan dari banyaknya jawaban yang kita miliki, melainkan dari kejujuran dalam mengakui batas ilmu yang kita ketahui. (im)






