Salah satu pertanyaan yang diajukan kaum musyrik Quraisy atas arahan para rabi Yahudi di Yatsrib adalah tentang kisah sekelompok pemuda yang menghilang pada masa lampau. Pertanyaan ini bukanlah sekadar rasa ingin tahu tentang sejarah, melainkan sebuah ujian terhadap keaslian risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Masyarakat Arab ketika itu tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kisah tersebut. Jika Muhammad ﷺ mampu menjelaskannya secara benar, maka hal itu menjadi bukti bahwa beliau memperoleh berita dari wahyu, bukan dari pengetahuan manusia.
Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban dalam Manhaj Haraki lis Sirah an-Nabawiyyah menjelaskan bahwa para ulama Yahudi memang menjadikan kisah Ashabul Kahfi sebagai salah satu parameter untuk menguji kenabian Muhammad ﷺ, bersama kisah Dzulqarnain dan pertanyaan tentang hakikat ruh.
Allah kemudian menurunkan Surah Al-Kahfi yang mengisahkan para pemuda beriman yang mempertahankan tauhid di tengah kekuasaan penguasa zalim. Allah berfirman:
﴿إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ﴾
“Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. Dan Kami teguhkan hati mereka.” (QS. Al-Kahfi: 13–14)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memuji mereka karena keberanian mempertahankan iman pada usia muda. Keteguhan mereka bukan semata-mata lahir dari kekuatan pribadi, melainkan karena Allah sendiri yang meneguhkan hati mereka (rabathnā ‘alā qulūbihim). Inilah hakikat pertolongan Allah kepada orang-orang yang menjaga keimanan.
Dengan turunnya ayat-ayat ini, Rasulullah ﷺ mampu menjawab tantangan Quraisy secara tepat. Jawaban tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa berita yang beliau sampaikan berasal dari wahyu, bukan hasil belajar kepada Ahli Kitab ataupun rekaan pribadi.
Sejarah sebagai Madrasah Keimanan
Al-Qur’an menghadirkan kisah bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu, melainkan untuk membina jiwa. Karena itu, sejarah dalam perspektif Islam selalu mengandung nilai tarbiyah, dakwah, dan pembentukan karakter.
Allah berfirman:
﴿وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ﴾
“Dan semua kisah para rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud: 120)
Menurut Imam Ath-Thabari dan Imam Al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan bahwa fungsi utama kisah-kisah Al-Qur’an adalah tatsbît al-fu’âd, yaitu mengokohkan hati orang-orang beriman ketika menghadapi ujian.
Syaikh Munir al-Ghadban menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menjadikan kisah-kisah Al-Qur’an sebagai sarana membangun kesiapan ruhani para sahabat. Sejarah bukan sekadar memotret masa lalu, tetapi membentuk keberanian menghadapi masa depan.
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah juga menegaskan bahwa jawaban Al-Qur’an atas pertanyaan-pertanyaan Quraisy menjadi hujjah yang mengguncang kesombongan para penentang dakwah. Kebenaran sejarah yang diungkap oleh wahyu menjadi cambuk bagi hati yang masih mau menerima petunjuk.
Karena itu, seorang dai hendaknya tidak memandang sirah hanya sebagai kronologi peristiwa. Sirah adalah madrasah pembinaan yang menanamkan tauhid, kesabaran, keberanian, dan optimisme kepada setiap generasi.
Menumbuhkan Tsabat di Tengah Fitnah Zaman
Ashabul Kahfi adalah gambaran indah tentang keteguhan iman. Mereka adalah pemuda yang hidup di tengah masyarakat yang menolak tauhid. Namun mereka memilih kehilangan kenyamanan dunia daripada kehilangan kedekatan dengan Allah.
Dalam Manhaj Haraki lis Sirah an-Nabawiyyah, Syaikh Munir al-Ghadban mengungkapkan bahwa tadabbur terhadap sirah dan kisah-kisah Al-Qur’an menjadi salah satu sebab lahirnya tsabat (keteguhan hati) dalam perjuangan. Keteguhan bukan muncul karena kuatnya pribadi seseorang, tetapi karena kuatnya hubungan hati dengan Allah.
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menambahkan bahwa apabila iman telah mengakar di dalam hati, maka ia akan melahirkan keberanian yang mampu mengubah sesuatu yang tampak mustahil menjadi mungkin.
Bagi seorang mukmin, kisah Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa menjaga iman terkadang menuntut pengorbanan. Tidak semua lingkungan mendukung nilai-nilai kebenaran, dan tidak semua pilihan yang benar akan memperoleh tepuk tangan manusia. Namun Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian. Sebagaimana Dia meneguhkan hati para pemuda Kahfi, demikian pula Dia akan meneguhkan hati setiap orang yang bersungguh-sungguh mempertahankan keimanannya.
Tsabat bukan berarti tidak pernah merasa takut, tetapi tetap memilih taat meskipun rasa takut itu ada. Ketika hati bergantung kepada Allah, pertolongan-Nya akan datang dengan cara yang sering kali melampaui perhitungan manusia. (im)






