Setelah Allah menjawab pertanyaan tentang Ashabul Kahfi, wahyu kemudian mengungkap kisah seorang pemimpin besar yang pernah menjelajahi wilayah timur dan barat. Kisah Dzulqarnain merupakan jawaban atas pertanyaan kedua yang diajukan kaum musyrik Quraisy berdasarkan arahan para rabi Yahudi di Yatsrib (Madinah).
Sebagaimana kisah Ashabul Kahfi, informasi tentang Dzulqarnain bukanlah pengetahuan yang dikenal masyarakat Arab pada masa itu. Oleh karena itu, jawaban Rasulullah ﷺ menjadi bukti bahwa beliau menerima wahyu dari Allah.
Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban dalam Manhaj Haraki lis Sirah an-Nabawiyyah menjelaskan bahwa pertanyaan tentang Dzulqarnain termasuk salah satu parameter yang ditetapkan Ahli Kitab untuk menguji keaslian nubuwwah Muhammad ﷺ.
Al-Qur’an menggambarkan Dzulqarnain sebagai seorang pemimpin yang memperoleh kekuasaan sekaligus petunjuk dari Allah. Firman-Nya:
﴿إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا﴾
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya kekuasaan di bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 84)
Menurut Imam Ibnu Katsir, kata tamkīn dalam ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan Dzulqarnain adalah karunia Allah yang disertai kemampuan memanfaatkan berbagai sebab untuk mewujudkan kemaslahatan. Ia tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Dengan demikian, kisah Dzulqarnain tidak hanya menjadi bukti kenabian Rasulullah ﷺ, tetapi juga menunjukkan bahwa risalah Islam berbicara tentang seluruh aspek kehidupan, termasuk kepemimpinan dan peradaban manusia.
Pelajaran Dakwah: Kepemimpinan adalah Amanah
Kisah Dzulqarnain mengajarkan bahwa kekuasaan dalam Islam bukan tujuan, melainkan amanah. Seorang pemimpin tidak diukur dari luas wilayah yang dikuasainya, tetapi dari sejauh mana kekuasaan itu menghadirkan keadilan dan menjaga kemaslahatan masyarakat.
Ketika Dzulqarnain bertemu suatu kaum yang meminta perlindungan dari gangguan Ya’juj dan Ma’juj, ia tidak memanfaatkan keadaan untuk memperkaya diri. Bahkan ia berkata:
﴿مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ﴾
“Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan.” (QS. Al-Kahfi: 95)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan akhlak Dzulqarnain. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai sarana mencari keuntungan pribadi, tetapi mengajak masyarakat bekerja sama membangun benteng demi melindungi mereka.
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menegaskan bahwa kekuasaan yang diberikan Allah kepada Rasulullah ﷺ bertujuan membersihkan kehidupan manusia dari kezaliman dan sisa-sisa jahiliah. Kekuasaan dalam Islam bukan alat penindasan, melainkan instrumen untuk menegakkan keadilan, menjaga hak-hak manusia, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Karena itu, dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah individual, tetapi juga membentuk karakter pemimpin yang amanah, adil, dan berpihak kepada kemaslahatan umat.
Tazkiyatun Nafs: Memimpin dengan Hati yang Bersih
Di balik kisah Dzulqarnain tersimpan pelajaran besar tentang penyucian jiwa. Tidak sedikit manusia yang berubah ketika memperoleh kekuasaan. Jabatan yang semula dipandang sebagai amanah berubah menjadi sarana mencari kehormatan, kekayaan, bahkan pengkultusan diri.
Sebaliknya, Dzulqarnain memperlihatkan bahwa semakin besar amanah yang diterima, semakin besar pula ketergantungannya kepada Allah. Ia menyandarkan seluruh keberhasilannya kepada karunia Rabb-nya, bukan kepada kehebatan dirinya.
Syaikh Muhammad al-Ghazali menggambarkan bahwa orang-orang yang benar-benar besar tidak diperbudak oleh ambisi dunia. Ketika hati telah dipenuhi kerinduan kepada kebenaran, kemegahan jabatan dan harta tidak lagi menjadi tujuan utama kehidupannya.
Nilai inilah yang juga tampak pada kepemimpinan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah meminta dirinya dipuja sebagaimana para penguasa zalim. Sebaliknya, beliau hidup sederhana, bermusyawarah dengan para sahabat, dan memandang kepemimpinan sebagai amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini berlaku bagi seluruh bentuk kepemimpinan, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun pemerintahan. Setiap amanah adalah ibadah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Seorang mukmin hendaknya tidak mengejar kedudukan demi kemuliaan dirinya, tetapi memohon kepada Allah agar diberi hati yang bersih ketika amanah itu datang. Kekuasaan yang dibimbing oleh iman akan menjadi jalan menghadirkan rahmat, sedangkan kekuasaan yang dikuasai hawa nafsu akan berubah menjadi sumber kerusakan. (im)





