Wahyu sebagai “Cambuk” bagi Kebatilan

by -1884 Views

Peristiwa ikhtibār an-nubuwwah tidak berhenti pada keberhasilan Rasulullah ﷺ menjawab tiga pertanyaan yang diajukan kaum musyrik Quraisy. 

Lebih dari itu, rangkaian wahyu yang turun menjadi hujjah yang membongkar kelemahan cara berpikir mereka. Al-Qur’an tidak sekadar memberikan informasi, tetapi juga meluruskan cara pandang, membersihkan prasangka, dan mengajak manusia kembali kepada fitrah.

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menggambarkan fungsi jawaban-jawaban Al-Qur’an dengan ungkapan yang sangat kuat. Menurut beliau, pertanyaan-pertanyaan itu justru berubah menjadi:

“Cambuk yang amat nyeri terhadap kebatilan dan membuat orang yang sedang tidur nyenyak cepat bangun, serta mendorong manusia untuk meyakini dan menghayati kebenaran.”

Beliau juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak menghindari berbagai syubhat yang dilontarkan para penentangnya. Sebaliknya, Al-Qur’an mengangkat seluruh persoalan itu ke permukaan, kemudian menghancurkannya dengan hujjah yang kokoh sehingga kebatilan kehilangan pijakan.

Inilah salah satu kemukjizatan Al-Qur’an. Ia tidak memaksa manusia untuk beriman, tetapi mengajak mereka berpikir dengan jujur. Karena itu Allah berfirman:

﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾

“Katakanlah, ‘Datangkanlah bukti kalian jika kalian memang orang-orang yang benar.'” (QS. Al-Baqarah: 111)

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan prinsip besar Al-Qur’an, yaitu bahwa setiap pengakuan harus dibangun di atas burhān (argumentasi yang sahih), bukan sekadar tradisi, fanatisme, atau prasangka.

Menegakkan Hujjah dengan Hikmah

Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa dakwah tidak cukup dibangun di atas semangat semata. Dakwah harus memiliki landasan ilmu yang benar, argumentasi yang jernih, dan penyampaian yang penuh hikmah.

Allah berfirman:

﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ﴾

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Menurut Imam Ibnu Katsir, hikmah dalam ayat ini adalah menyampaikan kebenaran sesuai dalil yang kuat, sedangkan mau’izhah hasanah adalah nasihat yang menyentuh hati dengan kelembutan. Adapun dialog dilakukan dengan cara terbaik, bukan dengan penghinaan atau merendahkan lawan bicara.

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menegaskan bahwa Islam adalah pembelaan terhadap hakikat kebenaran. Beliau menjelaskan bahwa Islam mengajarkan keberanian mengatakan yang benar sebagai benar dan yang batil sebagai batil, namun keberanian itu tetap dibingkai oleh akhlak yang mulia. Dakwah tidak bertujuan memenangkan perdebatan, tetapi membuka pintu hidayah.

Karena itu, seorang dai tidak boleh terjebak pada retorika yang memancing emosi. Ia hendaknya menjadikan ilmu sebagai fondasi, kasih sayang sebagai metode, dan keikhlasan sebagai ruh perjuangan.

Menghancurkan Kesombongan dengan Cahaya Wahyu

Sesungguhnya lawan terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan kesombongan yang bersemayam di dalam dirinya. Banyak orang mengetahui kebenaran, tetapi enggan menerimanya karena merasa gengsi untuk mengakui kesalahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarrah.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud kibr adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia (بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ). Karena itu, kesombongan intelektual sama berbahayanya dengan kesombongan harta ataupun kekuasaan.

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh Sirah Nabawiyyah menjelaskan bahwa penyakit hati hanya dapat disembuhkan dengan memperbanyak muhasabah, mengingat kebesaran Allah, dan menyadari kelemahan diri. Ketika hati dipenuhi kesadaran akan keagungan Allah, pujian maupun celaan manusia akan kehilangan pengaruhnya.

Maka, wahyu hendaknya terlebih dahulu menjadi “cambuk” bagi diri kita sendiri sebelum menjadi hujjah bagi orang lain. Jangan sampai kita sibuk mengoreksi kesalahan manusia, sementara hati sendiri masih dipenuhi ego, fanatisme, dan keinginan untuk selalu menang. Sebab, hati yang rendah di hadapan Allah lebih mudah menerima cahaya hidayah daripada akal yang dipenuhi kesombongan.(im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.