Mu’jizat Rasional untuk Segala Zaman

by -1844 Views

Peristiwa ikhtibār an-nubuwwah melalui tiga pertanyaan yang diajukan kaum musyrik Quraisy tidak hanya menjadi pembuktian kenabian Rasulullah ﷺ pada zamannya. Lebih jauh, peristiwa tersebut memperlihatkan salah satu karakter agung Al-Qur’an, yaitu kemampuannya menjawab persoalan manusia sepanjang zaman. 

Pertanyaan tentang Ashabul Kahfi, Dzulqarnain, dan hakikat ruh memang lahir dari konteks sejarah tertentu, namun jawaban yang Allah turunkan mengandung prinsip-prinsip universal yang terus berbicara kepada setiap generasi.

Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah menjelaskan bahwa setiap pertanyaan yang dijawab Al-Qur’an sesungguhnya tidak hanya mewakili pemikiran seorang penanya, tetapi juga mewakili kegelisahan manusia sepanjang sejarah. Oleh sebab itu, jawaban Al-Qur’an tetap hidup dan relevan meskipun zaman terus berubah.

Allah berfirman:

﴿إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ﴾

“Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (QS. Shad: 87)

Menurut Imam Ath-Thabari, kata لِلْعَالَمِينَ menunjukkan bahwa risalah Al-Qur’an tidak dibatasi oleh ruang, waktu, bangsa, maupun generasi. Ia diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat.

Syaikh Muhammad al-Ghazali juga mengungkapkan bahwa Al-Qur’an laksana utusan Allah yang senantiasa hidup. Dialog yang dibangunnya tidak pernah berhenti, sebab setiap kali manusia menghadapi persoalan baru, mereka akan menemukan petunjuk yang tetap segar dalam ayat-ayat-Nya.

Membangun Dakwah yang Visioner

Salah satu pelajaran besar dari peristiwa ini ialah bahwa dakwah tidak boleh hanya sibuk menjawab persoalan sesaat. Seorang pendakwah dituntut membangun pemahaman yang kokoh sehingga mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan wahyu.

Allah berfirman:

﴿وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ﴾

“Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa frasa تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ bukan berarti Al-Qur’an merinci seluruh ilmu teknis kehidupan, melainkan menjelaskan seluruh prinsip yang dibutuhkan manusia dalam urusan agama dan jalan menuju keselamatan. Dari prinsip-prinsip itulah para ulama melakukan istinbath hukum dan memberikan solusi terhadap persoalan baru.

Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban dalam Manhaj Haraki lis Sirah an-Nabawiyyah menegaskan bahwa seluruh langkah dakwah Rasulullah ﷺ merupakan taujīh Rabbānī (arahan Ilahi). 

Dakwah beliau tidak dibangun atas reaksi spontan terhadap keadaan, tetapi mengikuti bimbingan wahyu yang penuh hikmah. Karena itu, gerakan dakwah di setiap masa hendaknya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kompas utama, bukan sekadar mengikuti arus opini yang berubah-ubah.

Merendahkan Akal Dihadapan Hikmah Allah

Mukjizat rasional Al-Qur’an mengajarkan bahwa akal adalah nikmat yang sangat agung, tetapi bukan sumber kebenaran yang berdiri sendiri. Akal memperoleh kemuliaannya ketika tunduk kepada cahaya wahyu.

Allah mengingatkan:

﴿وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا﴾

“Tidaklah kalian diberi ilmu melainkan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Menurut Imam Ibnu Katsir, ayat ini merupakan pengingat bahwa seluas apa pun pengetahuan manusia, ia tetap terbatas dibanding ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Kesadaran ini melahirkan sifat tawadhu’, bukan rasa rendah diri, tetapi kerendahan hati di hadapan Sang Maha Mengetahui.

Syaikh Muhammad al-Ghazali memberikan perumpamaan yang sangat indah. Menurut beliau, akal yang cemerlang tanpa bimbingan Allah ibarat seorang pilot yang terbang di tengah kabut tanpa petunjuk arah. Secanggih apa pun pesawatnya, ia tetap membutuhkan sinyal penunjuk agar sampai pada tujuan dengan selamat. Demikian pula manusia; kecerdasan tanpa wahyu mudah tersesat oleh kesombongan, prasangka, dan hawa nafsu.

Oleh sebab itu, seorang mukmin hendaknya memandang Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dikaji, tetapi cahaya yang membimbing kehidupan. Semakin dalam seseorang mentadabburi ayat-ayat Allah, semakin ia menyadari keluasan hikmah-Nya dan semakin kecil pula rasa bangga terhadap kemampuan dirinya. 

Dari sinilah lahir ketenangan hati, karena ia yakin bahwa petunjuk Allah selalu lebih luas daripada dugaan manusia dan selalu relevan bagi setiap zaman. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.